d’vicca
Dari jaman dulu, bisa dibilang frekuensi-ku ke toilet lebih sering disbanding manusia-manusia lain. Istilah kerennya, aku tuh beser banget. Sejauh ini sih tidak ada masalah dan aku pun merasa sehat-sehat saja. Tidak pernah pula aku coba mencari tahu penyebabnya, apa. Menurutku, masih dalam tahap yang normal tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Toilet di kantor pasti sudah jadi teman baik, sementara letak toilet di beberapa mall besar di Jakarta yang paling sering kukunjungi juga nyaris aku hapal, sampai lorong-lorongnya. Jangan tanya soal WC umum di terminal atau di stasiun yang sering kulewati. Itu pun pasti sudah diluar kepala. . Agak jorok mungkin kedengarannya, tapi mau gimana lagi..daripada nahan pipis berjam-jam yang bisa membuatku serasa mati berdiri, lebih baik aku pipis di tempat-tempat umum begitu. Makanya aku selalu sedia tissue dan cairan pencuci tangan instan di tas. Yah…buat jaga-jaga biar tetep hygienis meski gak bener bener hygienis. Untungnya selama ini belum pernah sampe nekad pipis di semak-semak atau belakang pohon, hihihi..Kata pakar kesehatan sering-sering menahan pipis dalam waktu yang lama akan berakibat tidak baik bagi ginjal.
Namun, saat-saat tertentu, ada juga masalah yang timbul dari hobiku ini. Misalnya jika dalam perjalanan jauh. Repot kan kalo dikit-dikit mau pipis. Iya kalo jalannya pake kendaraan pribadi, bisa mampir dimana saja, tapi kalo perginya dengan kendaraan umum kan gak enak kalo harus dipelototin penumpang lain gara-gara minta berhenti. Belum lagi kalo kebeletnya di jalan tol yang gak bisa asal berhenti. Atau kalau kebelet di KRL yang nonstop , tapi sejauh ini yang kutumpangin baru KRL Bogor-Jakarta ekspres yang paling rata-rata 1 jam perjalanan, dimana waktu 1 jam masih sangguplah aku tahan. Lain halnya kalo naik KRL ekonomi, kalo bener-bener gak kuat lagi, mungkin aku lebih baik turun di stasiun terdekat dengan resiko beli tiket baru jika mau nyambung lagi dan belum tentu kebagian tempat duduk lagi.
Ada beberapa kejadian lucu menyangkut urusan pipis-mempipis ini. Kalau cerita aku sering pipis di tempat karaoke bukan barang baru. Kebiasaan pipis ketika datang dan ketika pulang dari suatu tempat juga sudah lumrah. Beberapa kali kejadian aku harus ikhlas nahan pipis di tengah jalan tol, sementara tujuan masih lumayan jauh. Pernah aku harus berjuang “bertahan” dalam tol sejak Jagorawi hingga bandara Soekarno Hatta. Kalau jalannya lancar sih masih tidak begitu masalah meski rasanya sekujur badan sudah gemetaran gak jelas. Itu sering, dan sudah kuanggap biasa. Kejadian terakhir, masih menuju bandara, jalan tol ruarrrrrrrrrr biasa macetnya. Bukan hanya nahan pipis, aku juga harap-harap cemas takut ditinggal pesawat, karena waktunya sangat mepet. Padahal dari rumah aku sudah mempercepat keberangkatan dengan harapan bisa menikmati wifi gratis di salah satu kafe di bandara sebelum boarding. Dalam posisi ini, perasaanku campur aduk, berdebar-debar, cemas, nahan hajat yang luar biasa dan kesal! Kesal selain macet juga karena HP-ku berkali kali bordering baik itu untuk urusan penting maupun tidak penting. Bagaimana aku bisa berbicara dengan baik jika kondisi lagi begitu? Akhirnya dengan sangat terpaksa beberapa telpon dari nomor yang kukenal kudiamkan saja, dengan asumsi toh nanti aku bisa menelpon mereka kembali. Namun kemacetan yang hebat itu tak dinyana justru membawa berkah, karena ketika memasuki salah satu gerbang tol, ADA TOILET ! Aku pun berteriak histeris (dalam hati). Dengan malu-malu, muka memelas dan suara pelan (agar tidak ketahuan penumpang lain) aku memohon ke pengemudi bis untuk bisa mengambil jalur paling kiri dan membiarkanku lari sejenak ke toilet itu sementara menunggu kemacetan berakhir. Dan itu berhasil! HURAA.. Leganya luar biasa, kayak abis melahirkan anak kembar. Hahahaha..
Urusan lobi- melobi supir bis seperti diatas, sebenarnya juga bukan barang baru. Jaman kuliah dulu, aku paling sering praktikum di Pelabuhan Ratu, Sukabumi yang jalannya berkelok-kelok dengan pepohonan besar di kanan kiri jalan. Kondisi begini memperparah beser-er kayak gue. Dengan memasang tampang mahasiswa susah karena kiriman pas-pasan, biasanya supirnya mau untuk berhenti jika sudah tak terhankan. Iya…kalo baru satu kali sih no problem, tapi kalo dalam sekitar 3-4 jam perjalanan bisa mengajukan proposal hingga 4 kali, udah kelewatan juga kali ye…hehehhe.. Tapi begitulah kejadiannya. Teman-temanku sudah biasa dan dengan senang hati mau urunan beli pispot buatku jika memang dibutuhkan.
Ketika sempat liburan ke Bangkok tahun lalu, aku sempat pengen ngamuk sama pramuwisata kami. Ceritanya di jalan tol Bangkok-Pattaya aku sudah kebelet pipis yang naujubillah hebatnya. Di tepi jalan kulihat banyak sekali rumah makan baik kecil maupun besar dan beberapa pom bensin, tapi si pemandu enggan meminta supirnya untuk berhenti,karena dia bilang masih ada toilet yang lebih bagus di depan sana, mungkin ini atas nama pelayanan yang baik. Kesal luar biasa, secara gue sebenernya gak peduli mau bagus apa gak, gak liat apa muka gue udah merah kayak udang goreng mentega??? Herannya dia masih mencoba bercanda yang menurutku saat itu garing abisss… Dan ternyata.. yang dia maksud “di depan” itu ternyata di ujung jalan told dan itu sudah nyaris masuk Pattaya yang berarti hampir dua jam dari awal aku minta berhenti untuk pipis. Nyebelin, kan ? Memang sih pelayanan dia sebagai pemandu cukup baik, tapi tetep aja buat gue nilainya 3, baca : TIGA dari skala 10! Gak ngerti ini kondisi darurat ? Ini jadi tips juga buat yang mau jalan-jalan, cari guide yang “mengerti” kondisi pelanggannya, genting dan penting apalagi menyangkut nyawa orang!
Oya, aku pikir “penyakit” ini hanya milikku sendiri. Ternyata atasanku yang sekarang (nama dirahasiakan) sebut saja namany Pak Jacky, mengalami hal serupa. Dari ceritanya mampir di hotel-hotel ternama di ibukota buat dinner eh..buat pipis sudah menjadi hal biasa. Ini level beser-er yang lebih tinggi nampaknya. Kalo gue pipisnya di WC umum, beliau di hotel, man!! Pernah satu kejadian aku dan beliau berniat meeting ke daerah Jakarta Pusat dari kantor kami yang berada di seputaran Jakarta Selatan. Tak disangka, ketika hampir sampai ke lokasi yang dituju, yang mau diajak meeting membatalkan rencana. Walhasil kami pun balik mundur. Tiba tiba di tengah jalan yang macet, beliau kebelet pipis. Hebatnya, mobil langsung diarahkan ke sebuah hotel berbintang 5 di seputaran Thamrin, dan pipislah kami disana. Oya, aku juga ikutan pipis, makanya jadi “kami”. :D. So perjalanan kurang lebih 2 jam muter-muter tersebut hanya diselesaikan dengan acara pipis di hotel bintang 5.
Untuk menghindari rasa tidak nyaman baik bagi diri sendiri dan orang lain, aku akhirnya menerapkan beberapa aturan. Misalnya kalo cari kamar tidur sebisa mungkin di dekat kamar mandi . Alhamdulillah selama tinggal di mess kantor di Banda Aceh kamarku adalah yang aksesnya paling cepat ke tempat buang hajat ini. Kalau naik pesawat, sudah tidak jaman bagiku duduk di dekat jendela, harus duduk di koridor, agar tidak menggangu penumpang lain di sampingku jika harus bolak balik ke lavatory. Pernah sih satu kali kejadian “terpaksa” duduk deket jendela dan lebih naasnya lagi, aku sebangku sama dua orang big boss kantorku. Duh, malu banget dikit-dikit ijin dan mereka terpaksa harus berdiri demi melewatkan aku. Terakhir, agar kantong kemih tidak penuh, setiap mau pergi kewajiban pertama HARUS PIPIS dan jangan sering-sering minum, gak perlu nurutin anjuran minum minimal 3 liter sehari. ^_^

Sejujurnya aku sudah paling malas menulis hal-hal berbau cinta khususnya ke lawan jenis. Karena sesuatu dan lain hal, urusan beginian hanya membuatku mendadak menjadi Nia Daniaty, bawaannya mellow, sedih, menyesali nasib tentu saja dengan iringan soundtrack lagu-lagu patah hati. Klop banget.
Namun, ada satu peristiwa dalam keluargaku yang bisa jadi akan jadi salah satu milestone penting bagi kami. Tentang sebuah pernikahan yang batal hanya dalam hitungan hari dikala hampir semua persiapan sudah rampung. Surat undangan pun sudah tinggal menunggu diantarkan. Apa mau dikata, ketika masalah-masalah kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa membatalkan rencana, mendadak menjadi polemik besar dan memaksa semua persiapan yang sudah disusun cukup lama harus menjadi sisa kenangan belaka. Kecewa pasti. Rugi ? Lebih pasti lagi. Rugi waktu, biaya, tenaga dan yang jelas rugi hati. Sakit yang sulit terbayarkan. Tidak hanya calon pasangan batal, tapi juga kedua pihak keluarga. Hubungan yang sudah terbina kurang lebih empat tahun yang awalnya diharapkan menjadi labuhan terakhir bahagia, ternyata tidak berarti apa-apa, hanya karena perbedaan yang tidak dicoba dicari jalan keluarnya, karena pikiran yang sudah tertutup oleh kemarahan.
Itu mungkin namanya jodoh ya..Aku sempat ingat seorang teman yang sudah menjalin hubungan lebih dari 10 tahun, sudah niat akan menikah meski seadanya. Toh batal juga, karena urusan-urusan yang menurutku agak tidak penting. Atau teman yang lain yang begitu memuja pacarnya laksana segala-galanya. Sudah lamaran, tinggal persiapan. Namun manakala Tuhan berkata lain, habislah semua hanya karena urusan yang mungkin sepele buat orang diluar mereka. Namun tidak sedikit pula yang ketemu jodoh dengan singkat. Ketemu seminggu trus nikah deh.. Atau dengan cara yg ajaib, misal ketemu lewat internet, tidak pernah bertatap muka tapi bisa sampai menikah. Cara terakhir ini buat aku sih,..gak bangett… Karena setiap orang bisa jadi siapapun yang dia mau di dunia maya. Argghh..
Ah, urusan cinta memang repot. Ajaib. Katanya cinta bisa mengalahkan segalanya. Kelebihan pasangan pasti menjadi kebanggaan, tapi kekurangan adalah kenyataan yang harus diterima. Bahkan konon cinta bisa datang justru dari kekurangan pasangan kita. Kata Naff : “bila nanti kusanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku”, ingat…bukan kelebihan yang ditonjolkan, namun kekurangan/kelemahan-lah yang menjadi titik poin. Aku semakin sulit mengerti masih adakah cinta sejati yang tulus? Yang tidak memandang apa-apa?
Aku jadi ingat pembicaraanku dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Dia bilang cinta yang paling abadi itu, cinta kepada Tuhanmu yang tidak akan pernah mengecewakanmu. Sementara dengan pasangan duniamu, cinta itu adalah satu paket dengan kekecewaan. Semua mau mengalami indahnya cinta, tapi hampir semuanya pula tidak mau mengalami kekecewaan. Manakala kau memutuskan untuk jatuh cinta, maka saat itu juga kau sudah memutuskan untuk siap kecewa.
Sudahlah,..apa yang baru saja terjadi di keluargaku mungkin adalah cerminan kasih sayang Allah pada kami sebagai bagian untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik di depan sana atau bisa jadi juga menjadi kaca untuk mengintrospeksi masih ada dosa yang belum ditobatkan dan masih banyak amalan yang belum dilakukan. Only God knows..
Selamat Tinggal!
Terlalui sudah 2 Juli 2007-15 April 2009.
Daripada melamun di pesawat, sementara tidur pun tak bisa, aku iseng buka notebook dan menengok kembali semua foto-foto selama hampir 2 tahun di tanah rencong yang mengingatkan semua peristiwa tak terlupakan selama disini. Ceritanya gak mau mellow, tapi tetap kejadian. Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Mencoba aku anggap biasa, toh aku yakin suatu saat, masih akan bertemu keluarga dan sahabat sahabat terbaikku disana, meskipun bukan berkumpul bersama di ruang paling ujung BRR Lueng Bata itu. Ruang sumpek , berisik, berantakan, listriknya suka turun naik, dengan aksesoris utama meja –nya Oi yang paling berantakan sedunia, namun penuh dengan jutaan kenangan yang gak bakal cukup ditampung dalam Hardisk Maxtour 1 Tera. Huh..
Tertular ide Apop di Facebook, aku coba menulisan kenangan-kenangan lucu dan unik yang semoga akan ter-memory hingga ujung dunia nanti..
Awalnya aku pikir ini lagu religius, tapi ternyata bukan. Apakah ditujukan buat Adjie Massaid ? Chek this out!! Keren !!
Ketulusanku takkan berubah Walau kita tak mungkin untuk bersatu.. Slamanya…Maafkan kuharus meninggalkanmu Maafkan bila hatimu terluka Tetapi hatiku hanya milikmu Karena kaulah yang terbaik, untuk diriku..
Minggu terakhir di Banda Aceh. Empat hari tanggal merah dan tidak kemana-mana. Selain masih ada sedikit pekerjaan yang harus dituntaskan, tanggung juga kalo harus pergi-pergi. Kapan lagi menikmati saat saat terakhir di Banda Aceh apalagi di hari Pemilu yang hanya terjadi 5 tahun sekali. Sayangnya tahun ini aku terpaksa jadi Golput, karena tidak berhasil mendapatkan form A5 dari PPS asal di Bogor. Ah..sudahlah, toh sebenarnya tujuan ke TPS juga buat liat keramaiannya saja. Tanpa tahu mau milih siapa. Heheheh.. Seingatku, tahun lalu juga ada libur panjang seperti ini dan aku pun tidak kemana-mana. Namun saat itu masih ada Apop yang setia menemani mulai dari berenang di Hermes lalu menyempatkan mencoba Wifi gratis di Oasis Hotel. Tapi tahun ini aku sengaja tidak merencanakan apa-apa, apalagi sebagian besar teman-teman dekat sudah punya acara sendiri.. Hanya saja tadi siang sempat berputar di beberapa lokasi melihat dari dekat kesenyapan kota Banda Aceh. Sepi benar-benar sepi. Entah karena penduduknya menikmati libur panjang setelah mencontreng atau justru takut kemana-mana di hari pesta politik yang atanya….katanya loh..dikhawatirkan masih ada konflik.

sepinya simpang surabaya
Saat-saat begini, notebook adalah teman yang paling setia buatku. Bukan hanya untuk urusan kerjaan namun “kerjaan” lain, seperti buka facebook, main plurk, nge-blog atau hanya membuka folder foto-foto lama. Huhuhuhu….gara-gara itu, aku jadi sedih, jadi pengen nangis.. Mulai dari foto di ruangan kerja berantakan itu, foto di hotel berbintang, di lapangan, di warung kopi, seribu pantai, brastagi, danau toba hingga foto-foto meeting gak penting. Disadari atau tidak mereka semua sudah menjadi bagian hidupku selama nyaris dua tahun ini. Dan di penghujung minggu depan, semuanya menjadi hanya tinggal kenangan. Hikss… hikss..
Biasanya kalau libur paling tidak tiga hari aku sudah blingsatan pengen ke Jakarta. Tapi tidak di minggu ini. Bukan karena bulan kemarin keseringan ke Jakarta , tapi itu tadi. Ini moment-moment terakhir. Nantinya walaupun mungkin aku tetap akan sering ke kota tercinta ini, bisa jadi aura-nya sudah beda. Namun, Lueng Bata, Cek Yuke, sanger dingin, mie kepiting, nasi kuning cumi-cumi (loh..makanan semua), internet putus nyambung, lamgugop-neusu, Lmpuuk, taman seribu janji, ruangan sumpek itu, my best friend dan my lovely bunch akan selalu ada dalam satu kotak khusus di hatiku.

jambo tape yang lengang
Meski jenuh dan bosan dengan “kesendirian” selama empat hari ini, aku begitu menikmati semuanya.
I miss you…
lagu lama yang tidak pernah mati..
———————–
Take me back in the arms I love
Need me like you did before
Touch me once again
And remember when
There was no one that you wanted more
Dont go you know you will break my heart
She wont love you like I will
Im the one wholl stay
When she walks away
And you know Ill be standing here still
Ill be waiting for you
Here inside my heart
Im the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
See me as if you never knew
Hold me so you cant let go
Just believe in me
I will make you see
All the things that your heart needs to know
Ill be waiting for you
Here inside my heart
Im the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
And some way all the love that we had can be saved
Whatever it takes well find a way
Ill be waiting for you
Here inside my heart
Im the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more
Selain ngopi ngopi di pinggir kali, satu hal lagi yang paling aku sukai di kota ini. Apalagi kalau bukan Naik Becak. Jangan salah, becak yang dimaksud disini adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor ya, bukan yang tenaganya
tergantung dari genjotan si mamang. Kalo dihitung rata-rata, dalam satu minggu mungkin ada lima kali aku numpang di kendaraan ini. Kadang-kadang kalo kangen naik becak, aku sengaja tidak ikut jemputan kantor. Rasanya seneng aja berada disamping si abang becak dengan dengan semilir angin yang suwir suwir menyapu wajah di pagi hari. Jangan lupa pasar earphone dari HP untuk mendengarkan lagu lagu cengeng. Rasanya indah banget. Waktu 15 menit, jarak kantor dan rumah seolah-olah jadi moment penuh kenikmatan yang tiada tanding.
Dulu aku waktu masih tinggal di mess yang lama, yang cukup jauh dari pusat kota, aku punya becak langganan. Namanya Bang Imron. Becaknya keren, dengan motor Honda Tiger keluaran terbaru yang semua body-nya dicat biru tua sehingga menimbulkan kesan macho. Si abang-nya pun sangat ramah. Meski hampir semua keluarganya sudah hilang sebagai korban tsunami, garis-garis kesedihan di wajahnya seperti sudah tergantikan dengan semangat juang melayani penumpang (baca: customer) sebaik-baiknya. Bang Imron yang lumayan ganteng ini pun siap dipanggil ke rumah kapan pun. Tinggal sms, tunggu tidak lebih dari 15 menit, ia sudah siap mengantar kemanapun kita mau. Ke pasar, ke kantor bahkan pernah sampai ke Pelabuhan Laut yang lumayan jauh untuk menumpang becak, si abang siap sedia. Itu pun sebelumnya masih pake acara jemput jemput teman dulu. Jatah penumpang yang sebenernya hanya berdua bisa jadi bertiga bahkan berempat yang jadi berlima sama abangnya. Ketika Mama kesini setahun yang lalu, Bang Imron pulalah yang mengantar kemana-mana. Mengingat aku sendiri tidak punya banyak waktu untuk menemani Mama kemana-mana. Hebatnya lagi, ia sama sekali tidak pernah mematok tarif. Padahal naik becak di Aceh terkenal mahal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang juga menggunakan kendaraan umum jenis ini. Di Medan misalnya, dengan jarak tempuh yang sama bisa lebih murah hingga 60% dibandingkan di Aceh. Karena pelayanan Bang Imron yang memuaskan ini, aku tidak segan-segan merekomendasikan jasanya ke teman-teman. Hasilnya, semua bermerasa senang atas service yang diberikan si abang.
Sst…tapi bukan dengan abang becaknya loh. Siapa nyana, di tengah jalan hujan turun dengan sangat deras. Mau tidak mau harus mampir berteduh, kasian si abng basah kuyup dan aku pun mulai kecipratan air. Walau basah, moment berlindung sesaat di tukang sayur di pinggir jalan menjadikan aku semakin menghayati makna bersyukur. Indah saja.
Sekarang aku jadi sering membayangkan kalau kendaraan ini ad adi Jakarta atau Bogor. Tentu tidak dengan kondisi macet yang bikin orang makin tua di jalan. Naik becak di Sudirman ?. Tapi bisa jadi, Sudirman toh cukup teduh, asyik kalo bisa naik becak di sini. Hemm.. waktu yang paling oke mungkin sekitar jam empat sore, menjelang orang pulang kantor sambil ber-say hai jika berpapasan dengan seorang teman. Wow !!! Mimpi kali yeee. Ah… irama kota besar memang selalu mengurangi makna kekerabatan…
Tidak terasa akhirnya aku harus meninggalkan Aceh yang sudah menjadi bagian dari hidupku selama hampir dua tahun ini. Tapi aku yakin tidak hanya untuk dua tahun itu, namun sepanjang tahun dalam hidupku, Aceh akan selalu jadi bagian yang tidak pernah mati.
Dalam sebuah perjalanan yang membosankan, aku membuka kembali sebuah video tsunami kutipan dari berbagai media. Sedih, miris bercampur jadi satu. Gempa dan ombak besar yang meluluhlantakkan Aceh itu laksana kiamat yang membunuh 169 ribu jiwa dan nyaris menghancurkan semua yang ad adi sekitarnya. Pada 26 Desember 2004 lalu, ketika pertama kulihat berita bencana ini di TV, sama sekali, tidak terbayangkan jika 2,5 tahun berikutnya aku akan menjadi bagian dari sebuah sejarah bencana terbesar dunia abad ini.
Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika picisan di dalamnya kuyakinkan tidak akan pernah lepas dari ingatanku sampai dunia ini tutup usia. Ada ribuan kenangan terpatri, bahagia, sedih, duka, suka dan setumpuk makna hidup aku dapatkan disini. Terima kasih untuk semua yang sudah menjadikanku satu bagian penting dari sebuah prasasti sejarah.
Sejuta cinta dan semua yang terbaik untuk Aceh ..
On a flight to Jakarta, 3 Maret 2009 08.55 PM
Beberapa bulan yang dia memang sempat menelponku walau hanya miskol. Waktu itu aku belum kenal dia dan sama sekali gak tau nomer HP-nya. Sementara dia pasti tau nomerku dari HP suaminya. Herannya nomor itu justru aku simpan tanpa alasan apa-apa, selain hanya “feeling” bahwa akan ada “sesuatu” menyangkut nomor itu. Lucu. Setelah tahu dia itu siapa, seingatku aku memang pernah menelpon untuk “mengakui” semuanya, itu pun setelah “dipancing” olehnya. Dia pun sempat menelpon beberapa kali yang tentu saja membuat perasaanku jadi tidak nyaman. Ibarat maling aku disuruh ngaku. Hihihi..
Sekarang setelah semua tragedi dengan suaminya berakhir, harusnya dia adalah perempuan pertama yang harus aku hindari begitu juga sebaliknya. Hal ini buatku sangat beralasan; “ngapain juga berhubungan sama istri seseorang yang harus aku enyahkan dari pikiranku”, sementara dia harusnya berpikiran “biar bagaimanapun”, aku adalah perempuan yang pernah mengisi hari-hari suaminya.Dan itu adalah tidak sepantasnya. Setelah aku berjanji “menyelesaikan semuanya”, sangat commonly kita tidak ada “urusan” lagi. Tapi kenyataannya cukup aneh, sekarang aku malah merasa makin akrab dengan wanita yang aku panggil “mbak” itu. Memang agak sungkan di awal. Kalo dia nelpon aku bingung harus bagaimana menanggapi, yang akhirnya hanya membuatku jadi pendengar keluh kesahnya. Namun kian kesini, aku tidak lagi nyaman hanya sebagai pendengar dan mulailah rumpian ala ibu-ibu itu digelar.
Kesimpulanku, dia perlu temen curhat yang mengerti suaminya dan mungkin dia menganggap aku nyambung soal itu. Entah persahabatan model apa ini, tapi aku yakin kita bisa menemukan sahabat dari berbagai cara, termasuk dari “musuh” kita sendiri. That’s what I feel now.. Yang jelas, meski agak ganjil di awalnya, aku menemukan banyak persamaan dengan perempuan yang belum pernah ketemui secara langsung tersebut. Peace Mbak! All the best for you and your family.