d’vicca
lagu lama yang tetep “menyentuh*.. secaraaaaaaaaaa….
tak kusesali cintaku untukmu
meskipun dirimu tak nyata untukku
sejak pertama kau mengisi hari-hariku
aku telah meragu mengapa harus dirimu
reff: aku takkan bertahan
bila tak teryakinkan
sesungguhnya cintaku
memang hanya untukmu
sungguh ’ku tak menahan
bila jalan suratan
menuliskan dirimu
memang bukan untukku selamanya
kadang aku lelah menantimu
pastikan cinta untukku


Bagi yang sudah pernah ke Aceh atau setidaknya pernah membaca tentang Aceh, pasti tau budaya masyarakat Aceh yang satu ini.Apalagi kalo bukan ngupi ngupi. Mau gak mau waktu tinggal di Aceh, aku pun terikut budaya ini. Yah, selain karena emang disana minim hiburan dan keramaian, ternyata emang menyenangkan kok. Mungkin banyak yg berpikir, warung kopi hanya disambangi oleh penggemar kopi. Waduh, jangan salah!!! Warung kopi di Aceh dikunjungi oleh segala lapisan masyarakat dari yang gak doyan kopi, penggemar berat kopi, pejabat bahkan petani kecil. Apalagi pada masa jayanya pekerja kemanusiaan di Aceh,..tempat apa lagi yang lebih nikmat selain warung kopi ??
Jangan membayangkan deretan kursi empuk dengan ruangan full AC dan pelayanan kelas dunia bak Starbucks, Coffee Bean atau Gloria Jeans Coffee. Sama sekali beda. Dalam sebuah halaman internet, kebiasaan ngupi ngupi masyarakat Aceh ini, kalau bisa dimasukkan ke dalam Guiness Book of Record secara rata-rata laki-laki di Aceh memiliki jam duduk paling lama di warung kopi. Sekedar ilustrasi kalau laki-laki (terutama di desa) bisa menghabiskan minimal 12 jam sehari di warung kopi kalau sedang tidak meladang atau melaut, Selepas subuh sampai menjelang zuhur (5 jam), sambung lagi selepas ashar sampai menjelang magrib (3 jam) sambung lagi selepas ‘isya sampai tengah malam (4 jam). Wow..Luar Biasa bukan ??
Dari sekian banyak warung kopi di Banda Aceh khususnya, warung yang paling sering kukunjungi bersama teman-teman adalah Chek Yuke, letaknya persis di tengah kota menghadap sungai Krueng Raya dengan deretan meja kayu dan kursi plastik keras yang sebenernya gak enak didudukin lama-lama. Tapi anehnya tempat itu nyaris tidak pernah sepi… Waktu rutin kami nangkring disana biasanya setelah lewat jam 8 malam, namun sering juga menghabiskan sarapan pagi disana pada akhir pekan. Di masa ramainya para pekerja kemanusiaan di Banda Aceh, jangan heran jika satu meja harus “dibooking” dulu. Tentu bukan lewat telpon atau reservasi online ya,..melainkan mengirimkan satu orang teman lebih dengan tugas mencari meja strategis untuk dikerubungi berlama-lama,
Apa sih yang diomongin, sebenernya gak ada yang penting…paling membahas hal hal gila dari pekerjaan kita sehari-hari, rencana liburan dan yang paling seru adalah menggosipkan tingkah bos-bos di kantor. Ada aja celahnya yang bisa bikin kita ketawa hingga sakit perut sambil menunggu tengah malam tiba. Tapi buat kelompok lain, warung kopi tidak hanya tempat kongkow-kongkow, tapi juga sumber informasi, lobi lobi bisnis hingga lobi politik.
Minuman favoritku apalagi kalo bukan Sanger. Ini sebenernya sejenis kopi susu ala Aceh, tapi adonannya agak beda. Jadi kalo ke warung kopi Aceh, mau pesen Sanger yaa harus bilang sanger, jangan sampai bilang kopi susu, karena bakal beda dihidangkannya. Rasanya mantap banget, pas..baik disajikan dingin atau panas.. Jika ngopi-nya dipagi hari tentu saja sanget hangat plus nasi gurih (nasi uduk ala Aceh), nah kalo malem sanger dingin ditemani nasi kuning cumi cumi atau mi aceh dengan udang. Uhhhh..yummii banget…
Pagi ini aku terkesan dengan satu quotes yang membuatku terinspirasi untuk menulis note ini
. Bunyinya seperti ini : ‘Sometimes u just have to step forward and move on. No questions,no doubts,no looking back. Just move on.’ Dan lagi-lagi aku mengaitkan quotes tersebut dengan CINTA, bahasan yang tak pernah lekang oleh waktu.
Seringkali seseorang terjebak dalam suatu perasaan cinta yang teramat mendalam sampai kadang tidak peduli dengan luka yang mungkin timbul atau justru sudah timbul. Pernah merasakan perihnya akibat kehilangan cinta? Aku bersyukur memiliki seseorang yang mencintaiku apa adanya, walaupun aku tidak pernah bisa memastikan seberapa dalamnya perasaannya padaku, yang pasti dia telah membuatku lebih mencintai Tuhanku lebih dari sebelumnya.
Kembali ke topik, kehilangan cinta pasti sesuatu hal yang menggores hati, yang kadang walaupun tersembuhkan, bekas lukanya tetap tinggal disana. Bekas luka tersebut berdampak banyak sekali. Bagi sebagian orang, kehilangan cinta dapat merupakan suatu pelajaran baginya dalam menapaki hari esok yang lebih baik. Tapi tidak semudah itu teman! Apalagi di saat perasaan yang kita miliki terlanjur mendalam. Seringkali kita memilih untuk tetap berada dan hidup dalam semunya bayang-bayang dan kenangan bersama cinta tersebut. Berjuta tanya menghampiri, deretan sesal membuncah, indahnya kenangan seolah potongan-potongan flashback yang datang silih berganti, yang akhirnya menimbulkan keraguan akan indahnya rencana Tuhan di masa yang akan datang. Apalagi jika kita sudah terlalu dalam menambatkan perasaan tersebut, dibutuhkan waktu yang tidak hanya sesaat untuk dapat melewati perihnya proses penyembuhan dari kehilangan cinta.
Namun, sadarkah bahwa semakin kita memanjakan perasaan sakit yang ada, semakin sulit bagi kita untuk menapaki tebing menuju hari esok yang lebih cerah di atas sana? Semakin berpaling kita dari kenyataan, semakin dalamlah kita terkubur dalam sendunya masa lalu yang membuat kita jalan di tempat, terpaku dalam kesepian yang amat sangat menyesakkan.
Jadi, jangan pernah menyerah pada pedihnya cinta yang tak bisa kita miliki. Masa berkabung memang diperlukan bagi hati yang terpatahkan, tapi ada saatnya kita harus berkata tegas pada diri kita, ‘aku adalah sosok yang berharga dan aku berhak atas sesuatu yang dinamakan kebahagiaan’. Saat itulah diperlukan keyakinan hati dan ketegaran jiwa untuk terus kukuh menatap ke depan, tanpa keraguan, tanpa berjuta tanya yang tak menentu apakah berjawab atau tidak,tanpa peduli apa yang menyalak-nyalak di belakang kita. Teruslah maju… Raihlah cinta yang dapat membahagiakanmu! Akan selalu ada pelangi setelah badai usai…
Bogor, 20th January 2010
Much love,
Nda
Catatan : Bukan tulisan gue.. ASLI dari temen.. Tapi aku suka banget… (thanks buat Ulfa)
Beberapa waktu yg lalu…
Aku ingat…
Apa yg dilakukan cinta
Cinta membuatku meningkatkan kadar naifku
Cinta membuatku mengurangi logikaku
Cinta membuatku dgn ringannya mengeluarkan sejuta maaf saat kau mengulangi salahmu (lagi)
Cinta membuatku berlebihan mengkuadratkan hari saat jauh darimu
Cinta membuatku menutup mata akan kepegecutanmu
Cinta memang membuatku menjadi bodoh
Cinta membuat mataku pun jd lembur memproduksi air nya
Yup…cinta berhasil menguasaiku
Sekarang…
Lihatlah wahai cinta…
Aku mulai membangunkan alam sadarku..
Aku akan membuatmu memperoleh perbuatanmu sendiri
Aku akan menggunakan cinta…untuk memberitaumu apa itu “sakit”
Dan untuk memberitaumu bagaimana untuk tdk sombong dengan hatimu
Cinta membuatku jd berhubungan baik dengan tegasku
Cinta berhasil membuatmu mencariku
Cinta membuatku akhirnya memakai logikaku…untuk tidak memperdulikanmu
Cinta membuatku menertawakan cinta
Cinta membuatku jd tak percaya cinta
hah… aku tlah berhasil menguasaimu…cinta

Alhamdulillah..akhirnya pesawat itu landing dengan sempurna meski agak mepet ke pinggir dan nyaris ke lapangan rumput, tapi tetap smooth.. Huh… sempet terdera rasa cemas selama 20 menit terakhir. Keinget kalo aku nyaris gak pernah memperhatikan video atau pramugari yang memperagakan proses evakuasi jika terjadi apa-apa. Dimana pelampung ? dibawah kursikah? Atau di bagasi di atas kepala? Dimana pintu darurat yang kata pesawat Malaysia itu pintu “kecemasan” ? Sungguh aku nyaris cemas saat itu. Belum lagi inget dosa, inget utang piutang, inget belum karaoke minggu ini.. Huh… ah..sudah lebay..

Begitulah, minggu lalu ..seperti biasa karena sudah menjadi bagian dari tugas, aku kembali bertolak ke Banda Aceh. Yes ! I wanna say.. Banda Aceh is already becoming my new hometown.. Seperti biasa, aku menumpang Garuda Airlines (gak masalah nyebut merek toh??) dengan nomor penerbangan GA 142. Pesawat terlihat lengang, padahal aku seperti biasa selalu memesan kursi di koridor dengan harapan cepat ngacir ke toilet. Karena kosong, aku pun berniat jika sudah terbang, mending cari tempat duduk yang lebih lapang alias kosong melompong.
Dari rencana take off pukul 08.00 pagi sempat molor hingga 20 menit dan itu pun kelamaan di dalam pesawat. Setelah terbang nyaris 20 menit lampu seat belt tidak pernah mati!! Waduh…gue kebelet pipis!! Sementara para pramugari nampaknya masih duduk manis tak bergeming. Mendadak Om Pilot mengumumkan jika ada satu indikator pesawat yg tidak berfungsi dengan baik dan diputuskan untuk kembali ke Jakarta. Huuh… habis sudah rencana pindah kursi dan tidur sampe aceh (karena dari malamnya gak bisa tidur). Dan dibutuhkan waktu 20 menit untuk kembali mendarat. Belum terbayang kalau bakal ada sesuatu yang membahayakan mengingat nyaris tidak ada turbulensi. Namun sudah lewat 1 jam dari waktu 20 menit yang dijanjikan belum juga ada tanda-tanda akan landing. Seingatku, 2x pilot memberi instruksi “prepare for landing” dan atap bandara Soekarno Hatta (SH) sudah nampak di ujung mata, tiba tiba pesawat kembali naik..begitu terus hingga beberapa kali dan terasa sekali pesawat hanya berputar putar di atas Selat Jakarta dengan gugusan Pulau Seribu di bawahnya. Kuperhatikan wajah wajah penumpang lain, awalnya yang tampak lebih banyak raut bingung daripada cemas, seperti juga aku.
Hingga kali ketiga, akhirnya pesawat berhasil mendarat, namun menjelang detik detik pendaratan dari atas sudah terlihat deretan ambulans yang pemadan kebakaran yang mengikuti laju pesawat belum ditambah puluhan mobil siaga bandara dan puluhan crew. Tentu saja ini mengagetkan semua penumpang. Wajah cemas kembali berganti bingung dan beberapa penumpang kulihat berjabat tangan. Barisan karyawan Garuda menyambut penumpang dengan ramah dan takzim nyaris seperti tidak terjadi apa-apa bahkan terlihat dengan pelayanan yang berlebihan.
Hingga di ruang tunggu, beberapa orang karyawan Garuda (mungkin dari jajaran Public Relation-nya) mendekati penumpang satu persatu menjelaskan duduk persoalan yang terjadi.Usut punya usut, oh…ternyata salah satu ban belakang pesawat itu “ketinggalan” alias jatuh di Bandara SH sesaat sebelum take off. Keliatannya sepele memang, tapi ternyata itu sangat berpengaruh terhadap proses landing yang aman. Pesawat memang bisa saja terus terbang hingga Banda Aceh, namun dikhawatirkan terjadi sesuatu mengingat landasan Bandara disana tidak panjang. Apalagi katanya dalam keadaan seperti itu, konon pesawat tidak bisa direm karena bisa menimbulkan percikan api. Ihhh…syereemm.. Pantas saja sekitar 10 ambulans dan pemadam kebakaran sudah berjaga-jaga.
Huhh.. jadi inget awal 2007 lalu, dalam perjalanan ke Makassar, cuaca saat itu..sangat sangat buruk. Seingetku turbulensinya luar biasa kenceng, sampe sampe kuping mau berdarah kalo gak ditutup. Belum lagi kepelanting pelanting di toilet pesawat. Pilot mengambil keputusan cepat untuk mendarat di Balikpapan atau di Denpasar dan akhirnya dipilih Denpasar sebagai bandara yang paling memungkinkan. Setelah sampai Makassar, besoknya kami tahu bahwa Adam Air hilang dalama cuaca buruk itu. Alhamdulillah….aku masih diselamatkan meski harus pake mampir di Bali (tanpa jalan jalan).
Ini adalah puasa pertama buatku kembali ke haribaan Bogor tercinta, setelah dua tahun sebelumnya hampir full menjalani puasa di Tanah Rencong. Ada yang beda? Pasti.. Di Bogor, menjalani puasa di tengah keluarga sementara di Aceh berjibaku dengan teman-teman disana. Puasa pertama di 2007 aku dinobatkan sebagai Dirdur alias Direktur dapur oleh temen-temen mess. Kerjanya krontang kronteng di dapur, masak ini masak itu, enak gak enak tetep aja habis. Tahun 2008 di rumah yang berbeda kegiatannya idak jauh beda. Rutinitasku dimulai jam 4 pagi. Oya..di Aceh imsaknya bisa jam 5 lewat. Temen setia di dapur biasanya Vivi yang emang lumayan jago masaknya. Masakan unggulan gue (soalnya paling gampang.hehehehe) adalah teri medan oseng oseng dengan cabe ijo plus daun aceh yang biasa dipake buat ayam tangkap. Lupa nama daunnya apa sihh.. (Oya..ini resepnya gak jelas darimana) Sementara Vivi jago banget ngeracik mie..gak ada namanya mi instan buat Vivi, meski asalanya Indomie tetep aja rasanya nendang..Entah dikasih bumbu apa Setelah kelar siap-siap baru bangunin temen-temen. Untung gak mesti jerit jerit atau kentongan! Persiapan sahur dimulai sejak malamnya.
Persiapan berbuka lebih repot.. terutama kalo wik-en. Paling sebel sama mpok depoy, bantuin cuman motong kangkung tapi lamanya bisa sejam karena pake bonus ngegosip. Alhamdulillah di jago nyuci piring.
Mpok Fitri beda lagi..doyan belanja menuhin kulkas,..tapi gak tau mo masak apa! .
Yang selalu aku ingat khususnya dengan anak-anak Pusdatin adalah Safari ramadhan, Selama sebulan ada saja rumah atau orang yang jadi korban buat mengenyangkan perut setelah seharian berpuasa. Mulai dari rumah Pak Zamri,Roli, ditraktir Wasi di PP Cafe,.bareng Pak Ed di rumah makan sunda di Lingke (lupa..namanya), makan rame-rame di Bunda hingga mampir ke rumah bu Ruhama di Bireun sepulang dari Lhoksumawe. Oya, waktu itu ada “oknum” yang gak puasa gara-gara minum susu ultra jam 11 siang. Hehehe..
Kebiasaan “buruk” di bulan ramadhan tahun lalu, yang nyaris gak pernah absen adalah ngopi abis jam taraweh! Taraweh gak taraweh ngopi hukumnya wajib! Chek Yukee dan Solong jadi langganan.Sampe-sampe abis lebaran aku terkapar di RS karna habbit buruk itu. Alex is my best friend yang setia jemput gue tiap malam. Di bulan ini juga gank ngopi nambah satu siapa lahi kalo Baserr Qadri gak penting, selundupan dari Mercy Corps.
Dan hebatnya makin menjelang ramadhan berakhir, jamaah ngopi lebih banyak daripada jamaah taraweh di mesjid raya!! Hehehe..
Tapi tunggu dulu,ada juga sihh Kebiasaan bagusnya, di siang hari biasanya di hari libur… sama temen-temen rumah masih nyempetin sholat di mesjid raya sekalian ngabuburit. Beda banget dengan disini, ngabuburit-nya ngemall dan sibuk ngeliatin jadwal film bagus di 21. Di hari biasa, karena kesibukan membuat lapar dan dahaga sama sekali tidak terasa.
Nuansa puasa-nya sangat terasa di Aceh. Selama ramadhan, merupakan pelanggaran besar jika ada rumah makan yang buka sebelum waktu ashar. Kalo lagi gak puasa, kondisi begini menyiksa banget. Tapi tetep ada colongan satu kantin yang buka di sebuah organisasi besar di daerah Sudirman (??), kebetulan isinya bule-bule jadi tetep jualan meski dengan sembunyi sembunyi. Kalo lagi gak males sih bisa bawa dari rumah sisa sahur temen-temen (itu juga kalo bersisa). Di siang hari, jalanan berasa bak kota mati saking sepinya apalagi kalo kaum adam jumatan.
Semoga suatu saat masih diberi kesempatan merasakan roh puasa yang sama dengan teman teman yang sama..
*dedicated to empok : makasih buat tragedi di belakang ruang Pak Kun di tepi danau, tahun lalu.. I will always remember…
Dua hal diatas menurutku sedikit anomali, pada saat berproses untuk mencapai sesuatu, tak bisa tidak pasti dibarengi dengan harapan agar semua terwujud. Yah,..agak-agak terpengaruhlah sama The Secret-nya Rhonda Byrne, tapi di sisi lain mendadak ada bagian naluri yang mendorongku untuk mengingat kata-kata Ibuku tadi. Istilahnya mau gas poll tapi ragu ragu karena ingat bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah dua sisi mata uang. Kalo gagal, akan nada kecewa yang artinya harus ada “persiapan” juga ke arah sana. Eitsss..jangan bilang kecewa bukan unsur sebuah proses ya,. Hanya besar kecilnya saja yang berbeda untuk tiap urusan.
Aku coba menghayati itu, akhirnya aku ingat bahwa ada kata kunci lain yang harus dibarengi dengan antara usaha dan harapan. Apalagi kalo bukan , tidak mudah putus aja dan tidak gampang menyerah. Biarkan semua harapan itu selalu penuh, malah memang tidak boleh setengah setengah tentu dengan ikhtiar yang juga tidak kalah penuh.
Gagal di urusan satu, bukan berarti kalah, mungkin hanya masalah waktu. Masalah keluarga, pekerjaan, teman teman hingga percintaan yang datang silih berganti mungkin hanya permainan hidup. Ahh…sudahlah, nyantai aja! Mungkin bahasa kerennya begitu. Hidup memang satu paket yang sungguh sulit dicari kesempurnaannya.
On a flight, 23 Juli 2009
Dari jaman dulu, bisa dibilang frekuensi-ku ke toilet lebih sering disbanding manusia-manusia lain. Istilah kerennya, aku tuh beser banget. Sejauh ini sih tidak ada masalah dan aku pun merasa sehat-sehat saja. Tidak pernah pula aku coba mencari tahu penyebabnya, apa. Menurutku, masih dalam tahap yang normal tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Toilet di kantor pasti sudah jadi teman baik, sementara letak toilet di beberapa mall besar di Jakarta yang paling sering kukunjungi juga nyaris aku hapal, sampai lorong-lorongnya. Jangan tanya soal WC umum di terminal atau di stasiun yang sering kulewati. Itu pun pasti sudah diluar kepala. . Agak jorok mungkin kedengarannya, tapi mau gimana lagi..daripada nahan pipis berjam-jam yang bisa membuatku serasa mati berdiri, lebih baik aku pipis di tempat-tempat umum begitu. Makanya aku selalu sedia tissue dan cairan pencuci tangan instan di tas. Yah…buat jaga-jaga biar tetep hygienis meski gak bener bener hygienis. Untungnya selama ini belum pernah sampe nekad pipis di semak-semak atau belakang pohon, hihihi..Kata pakar kesehatan sering-sering menahan pipis dalam waktu yang lama akan berakibat tidak baik bagi ginjal.
Namun, saat-saat tertentu, ada juga masalah yang timbul dari hobiku ini. Misalnya jika dalam perjalanan jauh. Repot kan kalo dikit-dikit mau pipis. Iya kalo jalannya pake kendaraan pribadi, bisa mampir dimana saja, tapi kalo perginya dengan kendaraan umum kan gak enak kalo harus dipelototin penumpang lain gara-gara minta berhenti. Belum lagi kalo kebeletnya di jalan tol yang gak bisa asal berhenti. Atau kalau kebelet di KRL yang nonstop , tapi sejauh ini yang kutumpangin baru KRL Bogor-Jakarta ekspres yang paling rata-rata 1 jam perjalanan, dimana waktu 1 jam masih sangguplah aku tahan. Lain halnya kalo naik KRL ekonomi, kalo bener-bener gak kuat lagi, mungkin aku lebih baik turun di stasiun terdekat dengan resiko beli tiket baru jika mau nyambung lagi dan belum tentu kebagian tempat duduk lagi.
Ada beberapa kejadian lucu menyangkut urusan pipis-mempipis ini. Kalau cerita aku sering pipis di tempat karaoke bukan barang baru. Kebiasaan pipis ketika datang dan ketika pulang dari suatu tempat juga sudah lumrah. Beberapa kali kejadian aku harus ikhlas nahan pipis di tengah jalan tol, sementara tujuan masih lumayan jauh. Pernah aku harus berjuang “bertahan” dalam tol sejak Jagorawi hingga bandara Soekarno Hatta. Kalau jalannya lancar sih masih tidak begitu masalah meski rasanya sekujur badan sudah gemetaran gak jelas. Itu sering, dan sudah kuanggap biasa. Kejadian terakhir, masih menuju bandara, jalan tol ruarrrrrrrrrr biasa macetnya. Bukan hanya nahan pipis, aku juga harap-harap cemas takut ditinggal pesawat, karena waktunya sangat mepet. Padahal dari rumah aku sudah mempercepat keberangkatan dengan harapan bisa menikmati wifi gratis di salah satu kafe di bandara sebelum boarding. Dalam posisi ini, perasaanku campur aduk, berdebar-debar, cemas, nahan hajat yang luar biasa dan kesal! Kesal selain macet juga karena HP-ku berkali kali bordering baik itu untuk urusan penting maupun tidak penting. Bagaimana aku bisa berbicara dengan baik jika kondisi lagi begitu? Akhirnya dengan sangat terpaksa beberapa telpon dari nomor yang kukenal kudiamkan saja, dengan asumsi toh nanti aku bisa menelpon mereka kembali. Namun kemacetan yang hebat itu tak dinyana justru membawa berkah, karena ketika memasuki salah satu gerbang tol, ADA TOILET ! Aku pun berteriak histeris (dalam hati). Dengan malu-malu, muka memelas dan suara pelan (agar tidak ketahuan penumpang lain) aku memohon ke pengemudi bis untuk bisa mengambil jalur paling kiri dan membiarkanku lari sejenak ke toilet itu sementara menunggu kemacetan berakhir. Dan itu berhasil! HURAA.. Leganya luar biasa, kayak abis melahirkan anak kembar. Hahahaha..
Urusan lobi- melobi supir bis seperti diatas, sebenarnya juga bukan barang baru. Jaman kuliah dulu, aku paling sering praktikum di Pelabuhan Ratu, Sukabumi yang jalannya berkelok-kelok dengan pepohonan besar di kanan kiri jalan. Kondisi begini memperparah beser-er kayak gue. Dengan memasang tampang mahasiswa susah karena kiriman pas-pasan, biasanya supirnya mau untuk berhenti jika sudah tak terhankan. Iya…kalo baru satu kali sih no problem, tapi kalo dalam sekitar 3-4 jam perjalanan bisa mengajukan proposal hingga 4 kali, udah kelewatan juga kali ye…hehehhe.. Tapi begitulah kejadiannya. Teman-temanku sudah biasa dan dengan senang hati mau urunan beli pispot buatku jika memang dibutuhkan.
Ketika sempat liburan ke Bangkok tahun lalu, aku sempat pengen ngamuk sama pramuwisata kami. Ceritanya di jalan tol Bangkok-Pattaya aku sudah kebelet pipis yang naujubillah hebatnya. Di tepi jalan kulihat banyak sekali rumah makan baik kecil maupun besar dan beberapa pom bensin, tapi si pemandu enggan meminta supirnya untuk berhenti,karena dia bilang masih ada toilet yang lebih bagus di depan sana, mungkin ini atas nama pelayanan yang baik. Kesal luar biasa, secara gue sebenernya gak peduli mau bagus apa gak, gak liat apa muka gue udah merah kayak udang goreng mentega??? Herannya dia masih mencoba bercanda yang menurutku saat itu garing abisss… Dan ternyata.. yang dia maksud “di depan” itu ternyata di ujung jalan told dan itu sudah nyaris masuk Pattaya yang berarti hampir dua jam dari awal aku minta berhenti untuk pipis. Nyebelin, kan ? Memang sih pelayanan dia sebagai pemandu cukup baik, tapi tetep aja buat gue nilainya 3, baca : TIGA dari skala 10! Gak ngerti ini kondisi darurat ? Ini jadi tips juga buat yang mau jalan-jalan, cari guide yang “mengerti” kondisi pelanggannya, genting dan penting apalagi menyangkut nyawa orang!
Oya, aku pikir “penyakit” ini hanya milikku sendiri. Ternyata atasanku yang sekarang (nama dirahasiakan) sebut saja namany Pak Jacky, mengalami hal serupa. Dari ceritanya mampir di hotel-hotel ternama di ibukota buat dinner eh..buat pipis sudah menjadi hal biasa. Ini level beser-er yang lebih tinggi nampaknya. Kalo gue pipisnya di WC umum, beliau di hotel, man!! Pernah satu kejadian aku dan beliau berniat meeting ke daerah Jakarta Pusat dari kantor kami yang berada di seputaran Jakarta Selatan. Tak disangka, ketika hampir sampai ke lokasi yang dituju, yang mau diajak meeting membatalkan rencana. Walhasil kami pun balik mundur. Tiba tiba di tengah jalan yang macet, beliau kebelet pipis. Hebatnya, mobil langsung diarahkan ke sebuah hotel berbintang 5 di seputaran Thamrin, dan pipislah kami disana. Oya, aku juga ikutan pipis, makanya jadi “kami”.
. So perjalanan kurang lebih 2 jam muter-muter tersebut hanya diselesaikan dengan acara pipis di hotel bintang 5.
Untuk menghindari rasa tidak nyaman baik bagi diri sendiri dan orang lain, aku akhirnya menerapkan beberapa aturan. Misalnya kalo cari kamar tidur sebisa mungkin di dekat kamar mandi . Alhamdulillah selama tinggal di mess kantor di Banda Aceh kamarku adalah yang aksesnya paling cepat ke tempat buang hajat ini. Kalau naik pesawat, sudah tidak jaman bagiku duduk di dekat jendela, harus duduk di koridor, agar tidak menggangu penumpang lain di sampingku jika harus bolak balik ke lavatory. Pernah sih satu kali kejadian “terpaksa” duduk deket jendela dan lebih naasnya lagi, aku sebangku sama dua orang big boss kantorku. Duh, malu banget dikit-dikit ijin dan mereka terpaksa harus berdiri demi melewatkan aku. Terakhir, agar kantong kemih tidak penuh, setiap mau pergi kewajiban pertama HARUS PIPIS dan jangan sering-sering minum, gak perlu nurutin anjuran minum minimal 3 liter sehari. ^_^

Sejujurnya aku sudah paling malas menulis hal-hal berbau cinta khususnya ke lawan jenis. Karena sesuatu dan lain hal, urusan beginian hanya membuatku mendadak menjadi Nia Daniaty, bawaannya mellow, sedih, menyesali nasib tentu saja dengan iringan soundtrack lagu-lagu patah hati. Klop banget.
Namun, ada satu peristiwa dalam keluargaku yang bisa jadi akan jadi salah satu milestone penting bagi kami. Tentang sebuah pernikahan yang batal hanya dalam hitungan hari dikala hampir semua persiapan sudah rampung. Surat undangan pun sudah tinggal menunggu diantarkan. Apa mau dikata, ketika masalah-masalah kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa membatalkan rencana, mendadak menjadi polemik besar dan memaksa semua persiapan yang sudah disusun cukup lama harus menjadi sisa kenangan belaka. Kecewa pasti. Rugi ? Lebih pasti lagi. Rugi waktu, biaya, tenaga dan yang jelas rugi hati. Sakit yang sulit terbayarkan. Tidak hanya calon pasangan batal, tapi juga kedua pihak keluarga. Hubungan yang sudah terbina kurang lebih empat tahun yang awalnya diharapkan menjadi labuhan terakhir bahagia, ternyata tidak berarti apa-apa, hanya karena perbedaan yang tidak dicoba dicari jalan keluarnya, karena pikiran yang sudah tertutup oleh kemarahan.
Itu mungkin namanya jodoh ya..Aku sempat ingat seorang teman yang sudah menjalin hubungan lebih dari 10 tahun, sudah niat akan menikah meski seadanya. Toh batal juga, karena urusan-urusan yang menurutku agak tidak penting. Atau teman yang lain yang begitu memuja pacarnya laksana segala-galanya. Sudah lamaran, tinggal persiapan. Namun manakala Tuhan berkata lain, habislah semua hanya karena urusan yang mungkin sepele buat orang diluar mereka. Namun tidak sedikit pula yang ketemu jodoh dengan singkat. Ketemu seminggu trus nikah deh.. Atau dengan cara yg ajaib, misal ketemu lewat internet, tidak pernah bertatap muka tapi bisa sampai menikah. Cara terakhir ini buat aku sih,..gak bangett… Karena setiap orang bisa jadi siapapun yang dia mau di dunia maya. Argghh..
Ah, urusan cinta memang repot. Ajaib. Katanya cinta bisa mengalahkan segalanya. Kelebihan pasangan pasti menjadi kebanggaan, tapi kekurangan adalah kenyataan yang harus diterima. Bahkan konon cinta bisa datang justru dari kekurangan pasangan kita. Kata Naff : “bila nanti kusanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku”, ingat…bukan kelebihan yang ditonjolkan, namun kekurangan/kelemahan-lah yang menjadi titik poin. Aku semakin sulit mengerti masih adakah cinta sejati yang tulus? Yang tidak memandang apa-apa?
Aku jadi ingat pembicaraanku dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Dia bilang cinta yang paling abadi itu, cinta kepada Tuhanmu yang tidak akan pernah mengecewakanmu. Sementara dengan pasangan duniamu, cinta itu adalah satu paket dengan kekecewaan. Semua mau mengalami indahnya cinta, tapi hampir semuanya pula tidak mau mengalami kekecewaan. Manakala kau memutuskan untuk jatuh cinta, maka saat itu juga kau sudah memutuskan untuk siap kecewa.
Sudahlah,..apa yang baru saja terjadi di keluargaku mungkin adalah cerminan kasih sayang Allah pada kami sebagai bagian untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik di depan sana atau bisa jadi juga menjadi kaca untuk mengintrospeksi masih ada dosa yang belum ditobatkan dan masih banyak amalan yang belum dilakukan. Only God knows..
Selamat Tinggal!
Terlalui sudah 2 Juli 2007-15 April 2009.
Daripada melamun di pesawat, sementara tidur pun tak bisa, aku iseng buka notebook dan menengok kembali semua foto-foto selama hampir 2 tahun di tanah rencong yang mengingatkan semua peristiwa tak terlupakan selama disini. Ceritanya gak mau mellow, tapi tetap kejadian. Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Mencoba aku anggap biasa, toh aku yakin suatu saat, masih akan bertemu keluarga dan sahabat sahabat terbaikku disana, meskipun bukan berkumpul bersama di ruang paling ujung BRR Lueng Bata itu. Ruang sumpek , berisik, berantakan, listriknya suka turun naik, dengan aksesoris utama meja –nya Oi yang paling berantakan sedunia, namun penuh dengan jutaan kenangan yang gak bakal cukup ditampung dalam Hardisk Maxtour 1 Tera. Huh..
Tertular ide Apop di Facebook, aku coba menulisan kenangan-kenangan lucu dan unik yang semoga akan ter-memory hingga ujung dunia nanti..