Archive for January, 2008Jan
29 perempuan punya cerita…Category: My Article Gara-gara ada film dengan judul di atas yang kini tengah tayang, aku jadi mengingat- ingat curhat-curhat dari teman-temanku yang sifatnya perempuan banget. Barusan juga ngabisin buku “Catatan hati Seorang Istri”, karya Asma Nadia yang sebenarnya adalah realitas kehidupan manusiawi. Mohon maaf buat teman-teman yang sengaja maupun tak sengaja tercantum ceritanya disini. Bisa protes kok…Tapi identitas tetap disamarkan (Hehehe..) Sebulan lalu, satu pesan pendek masuk ke handphone-ku; Category: music n me I, I can’t read the future And baby I, I’ve tried to forget you Category: tentang aku... 1. My Religion, My Lord..tempat aku memasrahkan segalanya, and will be forever.. amin… Jan
26 Karena Engkau.. (Tulus)Category: music n me Semalem… Mati lampu! Bosen banget, gak bisa ngapa-ngapain! Mo mandi? Air juga mati.. Telpon Jolie ? Hemmm good idea. Dari seberang Ciputat sana -setelah telpon diangkat- bersama si Ibu, aku justru diperdengarkan satu lagu yang sebenarnya belum launching. Sambil tertawa terbahak bahak penuh kemenangan untuk “ngenyek”, meraka bilang; “Nyak, gila..ini lagu lo banget!” *hmmm… masa sih* Udah lupa tuh!! Heheheh…. Mungkin iya, tapi kan cukup jadi masa lalu yang (Insya Allah) tidak akan terulang lagi, kecuali “takdir berkata lain”. So, simak baik-baik jangan lupa cari kasetnya Februari nanti. Jan
25 song of january…Category: music n me Tambahin dong…. Januari — Glenn Fredly *sweet january in Banda Aceh* Category: tentang aku... Capek kena protes.. gue ralat nehh!! Sekitar dua atau tiga tahun yang iseng-iseng aku bikin list 40 lagu yang paling berpengaruh dalam hidupku, kalo gak salah waktu itu di-posting via Bulletin Board-nya Friendster. Ranking pertama seingatku lagu “pergi untuk kembali” yang kebetulan ngetop lagi dibawakan oleh Ello, ranking kedua tetap lagu itu, tapi versi Minggus Tahitu (bokap-nya Ello Jadul is forever). Kenapa? Cukup jadi masa lalu, jadi warna warni kehidupan yang bisa melahirkan senyuman apabila mengingatnya. Sekitar setahun yang lalu, aku iseng-iseng memikirkan siapa sih orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Mau bikin list sejumlah 40 orang sepertinya kebanyakan, Gak mungkin Pak RT-ku yang ganteng itu masuk juga. So, dimulailah mengidentifikasi satu persatu, tetapi ternyata karena tidak pernah rampung, list-nya pun selalu berubah-rubah. Misal si A yang dulu aku rasa ada di peringkat 10 besar,bulan depan bisa meloncat ke rangking 20-an. Sementara si B yang awalnya biasa-biasa saja tiba-tiba berperan cukup besar yang mau tidak mau harus aku tempatkan ke posisi 5 besar dari nomor 15 sebelumnya. Belum lagi sebagai lelebritis karbitan, ketika aku ceritakan hal ini, sahabat-sahabatku berkompetisi agar bisa masuk list 10 besar. Hahahhaha, just kidding (maap,bagian ini bener-bener bagian narsis.com). Kesimpulannya, sungguh sulit. Ibarat Compliance Rate pada RANDatabase, komitmen dan disbursed selalu naik turun. Jan
20 BulokCategory: My Article Pernah denger istilah diatas ? Nah istilah bulok yang ini gak pake “g” tapi pake “k” yang merupakan akronim dari “Bujang Lokal”. Bisa jadi istilah ini cuma happening di Banda Aceh khususnya di suatu badan pasca tsunami (bukan iklan, jadi nama harus disamarkan). Inilah sebutan untuk para lelaki yang berstatus menikah tapi jauh dari istri & keluarganya. Belum ada data terpublikasi berapa sesungguhnya populasi bulok-bulok itu. Ehmm,…tapi tunggu di ruanganku ada satu, si big boss yang biasa dipanggil Kepala Sekolah, lalu di ruangan tetangga kayaknya lebih banyak mungkin ada 2-3 orang belum ditambah yg commuter alias sering bolak-balik Jakarta-Aceh. Lalu, ruangan sebelahnya lagi,,ada 1, sebelahnya lagi…minimal 2 juga. Jika rata-rata satu ruangan ada 2 orang,sementara di kantor pusat taruh kata ada 30 ruangan berarti minimal ada 60 orang bulok. Jumlah itu belum ditambah bulok-bulok regional alias yg ditugaskan ke pelosok daerah. Bayangkan jika itu hanya dari satu lembaga, sementara data mencatat tidak kurang dari 478 NGO dalam dan luar masih atau sempat eksis di NAD-NIAS pasca tsunami 26 Desember 2004 lalu. Dimana bisa jadi komposisi antara pendatang pekerja dan pekerja asli putra daerah seimbang. Tanpa disadari NAD telah menjelma menjadi sarang bulok! Menyeramkan…. Seorang teman yang kebetulan single, ketika pertama kali tiba di Aceh, mendapat pesan penting; Beware of Bulok! Kalau kata Bang Napi; Waspadalah! Mengingat tingginya populasinya di daerah ini. Mengapa harus waspada? Apakah kelompok ini menjadi komunitas baru yang mengancam dan menjadikan daerah ini daerah konflik dengan siaga satu seperti dulu ? Berlebihan. Meski begitu, bisa jadi ada benarnya, hanya bedanya menimbulkan konflik di rumah tangga bukan di Negara, namun gawatnya jumlah rumah tangganya sangat mungkin berbanding lurus dengan jumlah para bulok tersebut. |
inspiring post
Blogroll
Categoriesinspiring archieve
inspiring comment
Whatzz Up?!
Guestbook |