Maaf, jika sejak pertama kali kau temukan dia kepadaku, aku sudah merasa ia bukan orang tepat untukmu. Ketika itu, walau aku hanya mengintip dari kaca mobil, aku berujar tanpa sadar, “cari yang lain aja yah!” Sungguh itu bukan satu kesengajaan. Tapi, satu sisi otak bawah sadarku mengirim sinyal untuk mengatakan demikian. 

Kini, tujuh bulan setelah itu, ketika dari hari ke hari hanya kekecewaan demi kekecewaan yang kau dapatkan. Hanya tangis yang memenuhi malam-malammu. Hanya ganjalan-ganjalan yang ada di hatimu. Hanya ketidakpastian yang kau temui. Hanya kemurungan yang memenuhi hari-harimu. Masih pantaskah kau tumbuhkan harapan itu di setiap langkahmu? 

Dari ceritamu, Aku tau jika ada masa-masa indah yang pernah kalian lalui. Aku pun tahu sudah begitu besar pengorbananmu untuk mempertahankan hubungan ini. Menerima perubahan sikap dia, memaklumi perhatian dia yang kian surut, berhenti menanyakan soal kejelasan hubungan dan memaklumi semua perbuatannya kepadamu, meski itu sangat menyesakkan dada. Semua cuma karena satu alasan; dia dalam masih keadaan “sulit” karena sesuatu hal yang seakan kau jadikan pembenaran akan semua sikapnya kepadamu. Aku tahu, sejujurnya hati dan batinmu tidak bisa menerima semua ini. Tetapi atas nama cinta kau rela dan berusaha ikhlas menjalaninya. 

Tapi sampai kapan kau harus bertahan?  Ketika ia mengatakan kepadamu untuk mencari penggantinya, jadikan itu pijakan untuk pergi dari hubungan ini. Kenapa harus bertahan ketika ia tak bisa jujur bahwa sesungguhnya ia tidak menghendakimu lagi? Jangan tutup matamu dari hal-hal yang hanya terbaca dari tingkah laku, bukan hanya lisan. Jangan buai dirimu dengan keyakinan bahwa dia masih membutuhkanmu, bahwa dia masih mencintaimu seperti yang dulu dan terus membangun mimpi; dia adalah yang terakhir. Tidak perlu pula rasanya menjadikan usia, delapan bulan waktu bersamanya yang seolah terbuang percuma dan keenggananmu menambah “koleksi pengalaman” patah hati menjadi alasan-alasan yang semakin meneguhkan tekadmu untuk untuk terus hidup dalam khayalanmu bersamanya. Yakinlah dalam setiap kehidupan, kita akan melalui seribu orang yang tidak tepat hingga akhirnya menemukan satu yang paling tepat. 

Berhentilah menelaah kesalahan yang ada pada dirimu. Lalu berpikir dan mengatakan kepadanya bahwa dia layak mendapatkan yang lebih baik darimu. Don’t blame your self, honey. Balik paradigma itu, kamu-lah yang terlalu baik buat dia. Kamu lebih dari yang seharusnya dia dapatkan , karenanya kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih dari dia.  Aku tidak akan pernah bisa merubah apapun keputusan yang kau ambil.

Hanya ada dua pilihan saat ini; bertahan atau pergi. Pergi dengan segumpal rasa yang begitu pedih tetapi dengan asa dan kepasrahan bahwa seseorang yang lebih baik menunggumu disana. Meski aku tau sakit itu tak terperikan.  Atau terus bertahan dengan konsekuensi terus merasa disakiti, merasa tidak pernah dianggap “ada” dan berdiri diatas kepastian yang tidak pernah pasti.  Jika pilihan kedua yang kau ambil dan lagi-lagi atas`nama cinta, tak seorang pun bisa mencegahmu pun aku. Hanya satu pesanku ketika logika tidak lagi berperan, ketika jiwa dikuasai oleh perasaan, masih ada Yang Maha Kuasa yang menentukan segalanya. Berhentilah berbicara tentang pencarian keadilan atas semua yang kini dan dulu pernah terjadi. Tidak ada satu pihak pun yang bisa kau tuntut dari “ketidakadilan” ini. Tapi percaya, masih ada yang maha mengatur segalanya. Tempat titik nadir menumpahkan awal dan akhir dari semua persoalan. 

 …. Memang kau tak pernah mengatakannya

Namun sikapmu membuatku mengerti

Buat apa lagi, bertahan demi cinta yang tak pasti

Semua mimpi, jadi milik sendiri..

(karena kau tak memilihku, Tia- Composed by Dian HP- unreleased) 

untuk seorang sahabat, you deserve the better. I love you.Karena cinta itu adalah keindahan.