d’vicca

Sejak jaman kuliah, aku udah sering jadi tempat langgan curhat teman-temanku. Sampai sampai pernah saking penuhnya “pasien” aku pengen tutup “tempat praktek” alias gak nerima curhatan dulu. Yah tentu saja sebagian besar diantaranya adalah cewek-cewek yang katanya (katanya loh…) menjadi korban “keganasan” laki laki. Sebenernya gak terlalu tepat juga dikatakan korban, karena menurutku mereka itu lebih “mengorbankan diri sendiri”. Alias memilih untuk dikorbankan. What a hell!!
Dari beberapa kasus teman-temanku dan relationship yang pernah aku jalani. Yang ujung dari akhirnya hanya tangisan tiada henti. Oya, gue pernah nangis nonstop 16 jam (mo didaftarin ah, ke Jaya Suprana..) gara-gara urusan beginian. Bego memang, tapi aku lebih memaknai itu sebagai bagian pendewasaan diri dan pelajaran penting untuk sebisa mungkin menghindari hal yang sama di kemudian hari.
Berkaca dari sana, menurutku perempuan tetap harus punya bargaining. Jangan mau jadi volunteer atau bahkan jeleknya jadi “korban” untuk semua apa-apa yang sudah dilewati bersama. Gak adil kan, kalo senengnya sama-sama, pas susahnya kok cuman jadi beban perempuan. Semua hubungan toh mengandung konsekuensi bahkan resiko. Maksud gue disini resiko bisa berarti sesuatu yang mungkin buruk. Dan sebagian dari resiko itu bisa diidentifikasi sejak pertama kali hubungan itu dijalani. Jangan sampe akhir dari satu hubungan itu seperti satu pertandingan; win or lose atau lebih jeleknya lagi kayak pedagang kelontong; untung atau rugi. Sebagai perempuan, udah gak jaman kalo masih mikir mau nanggung resiko itu sendiri dengan semboyan gak penting seperti; “ya udah..ini emang takdir gue”, ya udah ini emang kesalahan gue”. Sekali lagi; jangan jadi perempuan bodoh. Fight for your faith.
Tapi yang tetap harus disadari namanya berjuang, meskipun akhir dari semuanya ada yang lebih Maha Menentukan…
One Response for "coz I’m not a volunteer"
Udah Vik, mendingan jadi UN Volunteer aja kayak bu Ruhama n Rynal
Leave a reply