<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>balancing corner.. &#187; Cerita Ide</title>
	<atom:link href="http://www.vikaoctavia.com/category/my-article/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.vikaoctavia.com</link>
	<description>a place I called home...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 17:11:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>menulis itu pekerjaan hati</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 11:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[Share Sejujurnya saya suka sirik kalo jalan jalan ke blog orang yang foto-fotonya banyak dan keren. Pengen rasa seperti mereka, tapi sayang ternyata itu bukan “takdir” saya. Pernah beberapa kali saya coba bikin postingan dengan heboh krasak krusuk cari foto yang bagus dan saya anggap bisa mewakili apa yang saya rasakan. Agaiiin…, sayangnya fotonya tetep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2012%2F01%2Fmenulis-itu-pekerjaan-hati%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=menulis itu pekerjaan hati&amp;body=menulis itu pekerjaan hati - http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="menulis itu pekerjaan hati" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/01/write.jpg"><img class="size-medium wp-image-1209 alignright" title="write" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/01/write-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sejujurnya saya suka sirik kalo jalan jalan ke blog orang yang foto-fotonya banyak dan keren. Pengen rasa seperti mereka, tapi sayang ternyata itu bukan “takdir” saya. Pernah beberapa kali saya coba bikin postingan dengan heboh krasak krusuk cari foto yang bagus dan saya anggap bisa mewakili apa yang saya rasakan. Agaiiin…, sayangnya fotonya tetep aja gak keren, meski udah sekian banyak aplikasi iPad dari yang free sampai yang bayar saya gunakan.</p>
<p>Hiks..</p>
<p>Tapi sudahlah, memang spek orang beda-beda. Finally saya tau, kekuatan blog saya bukan di foto-foto yang terkadang malah memperlama proses loading situs kita, tapi justru di tulisan dan artikel yang saya  tulis dengan pikiran dan perasaan sendiri. Loh, nulis pake perasaan toh? Yess!! Absolutely yess!! Menurut saya menulis itu pekerjaan hati. Mungkin blogger lain menyampaikan itu dengan bahasa gambar, tapi saya mencoba menyampaikan itu dengan bahasa tulisan.  Saya percaya,  kenapa penulis penulis kaliber tulisannya enak dibaca, karena mereka menulis dengan hati.  Hati manusia kan bahannya sama, jadi stimulus apapun yang diberikan (termasuk bahasa tulisan) akan pula berdampak sama.</p>
<h2>Saya pun percaya, apapun yang dibuat dengan hati, maka tersampaikannya juga melalui hati.</h2>
<p>Menulis pada dasarnya bukan pekerjaan teknikal yang bisa didesak desak oleh deadline. Hmm..susah-susah gampang sih, ya… Kalau penulis profesional pasti sudah sangat tahu bagaimana caranya memunculkan mood dan menghilangkan rintangan agar ketika mereka bekerja  hati dan perasaan juga terbawa dalam tulisan.</p>
<p>Bagaimana dengan tulisan ilmiah? Hemm.. sama aja sih, sama-sama memerlukan hati untuk menyelesaikannya, tapi kalo yang ini lebih capek lagi.. tambahin hati dan niat untuk baca jurnal dan referensi. Hahahahah..</p>
<p><em>*senin sore tanpa makna*</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/01/menulis-itu-pekerjaan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pengen tinggal di apartemen</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 11:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[Share Hahahhaha..baca judulnya, pasti banyak yang ngetawain gue. Kasiaannn deh loo.. Tapi entah kenapa tiba tiba aja gue kepikir gimana rasanya tinggal dalam jangka waktu lama di gedung bertingkat tinggi banget itu. Mungkin juga dipicu faktor kebutuhan suasana baru setelah bertahun tahun menjalani Jakarta Bogor yang menyenangkan (baca: membosankan). Ditambah lagi setiap hari melihat kepungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F09%2Fpengen-tinggal-di-apartemen%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=pengen tinggal di apartemen&amp;body=pengen tinggal di apartemen - http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="pengen tinggal di apartemen" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Hahahhaha..baca judulnya, pasti banyak yang ngetawain gue. Kasiaannn deh loo.. Tapi entah kenapa tiba tiba aja gue kepikir gimana rasanya tinggal dalam jangka waktu lama di gedung bertingkat tinggi banget itu. Mungkin juga dipicu  faktor  kebutuhan suasana baru setelah bertahun tahun menjalani Jakarta Bogor yang menyenangkan (baca: membosankan).  Ditambah lagi setiap hari melihat kepungan gedung gedung tinggi di Jakarta, rasanya lucu juga tuh kalo menetap disana. Trus kayaknya nih gaya orang Indonesia, kalo tinggal di apartemen itu udah gaya banget, masuk kelas <em>up up</em> alias <em>high high</em> gitu deh..  Wajar sih, secara harga apartemen di Jakarta mahal beinjett, meskipun sekarang sudah banyak juga apartemen yang menyasar golongan <em>middle.</em>  Padahal konon di luar negeri yang tinggal di apartemen (sebutan lain buat flat) justru mereka yang gak mampu beli rumah berhalaman seperti umumnya dimiliki orang Indonesia. Hihihihihi..</p>
<div id="attachment_946" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/cartoon-house-with-solar-panel-1099.png"><img class="size-full wp-image-946 " title="cartoon-house-with-solar-panel-1099" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/cartoon-house-with-solar-panel-1099.png" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">sumber: http://www.randomclipart.com/217-cartoon-house-with-solar-panel/</p></div>
<p>Ya udah deh, selama belum mampu gimana kalo kita nge-kost aja? Katanya kost kost-an di Jakarta sudah banyak juga yang mempunyai fasilitas layaknya apartemen tapi toh..harganya gak jauh beda.  Ok, kalo gitu biar mirip mirip tinggal di gedung bertingkat gimana kalo kita coba pindah ke Rusun? Ini gak deh, soalnya pengalaman temanku , lift di rusunnya hanya beroperasi hingga jam 9 malam. Jadi lewat jam itu, kita harus naek tangga. Huaaa.. ,mabok dong kalo kamar gue di lantai 8!  Gak cocok banget buat gue yang pulang rata-rata jam 10 malem.  Gempor duluan tiap hari. Belum lagi kalo perlu apa apa kudu olahraga naik turun tangga yang lumayan berat itu.</p>
<p>Dipikir pikir yaaa, emang lebih baik kita kembali ke rumah yang menyentuh tanah, punya halaman, punya tetangga yang bisa selalu bisa berinteraksi, tidak tergantung sama AC, bisa nunggu abang sayur, abang somay dan abang bakso lewat dan satu lagi kita bisa piara ayam!! Di rumah sering kan sering ada nasi tersisa. Kalo dibuang sayang,.. jaman dulu sih nenek saya dikasih sama ayamnya.. Nah, kalau tradisi ini kita teruskan selain menjaga daya dukung lingkungan (<em>carrying capacity</em>) juga bisa mendukung siklus mata rantai kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Apartemen memang keren, deket pusat kota, nyaman dan symbol prestisius kondisi ekonomi seseorang, tapi lihat deh, sudah berapa banyak kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tidak terkontrol. Mari kita dukung dengan kembali ke rumah kita yang sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/pengen-tinggal-di-apartemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banci Kabel</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 06:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=910</guid>
		<description><![CDATA[Share Penggunaan kata banci beberapa tahun belakangan ini memang mengalami pergeseran makna. Secara hakiki, banci adalah sebutan untuk kaum laki laki yang berkelakuan atau menyerupai perempuan. Tapi sekarang banci jadi sebutan “gaul” untuk orang yang maniak terhadap sesuatu atau terus menerus melakukan satu hal. Eh, maaf ini definisi saya saja yah.. Kalo salah mohon dikoreksi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F09%2Fbanci-kabel%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Banci Kabel&amp;body=Banci Kabel - http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Banci Kabel" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Penggunaan kata banci beberapa tahun belakangan ini memang mengalami pergeseran makna. Secara hakiki, banci adalah sebutan untuk kaum laki laki yang berkelakuan atau menyerupai perempuan. Tapi sekarang banci jadi sebutan “gaul” untuk orang yang maniak terhadap sesuatu atau terus menerus melakukan satu hal. Eh, maaf ini definisi saya saja yah.. Kalo salah mohon dikoreksi.</p>
<div id="attachment_913" class="wp-caption alignright" style="width: 442px"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/charger1.jpg"><img class="size-full wp-image-913  " title="charger" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/charger1.jpg" alt="" width="432" height="238" /></a><p class="wp-caption-text">sumber : http://capcipcus.com/page/13</p></div>
<p>Seingat saya, dulu ungkapan banci sering sekali ditempelkan dengan kata foto jadinya banci foto yang ditujukan kepada sebuah mahluk yang kerjanya doyan foto-foto. Dimana-mana foto dia, mau tampang jelek  dan sama sekali tidak fotogenik juga gak peduli, pokoknya doyan berfoto-ria meskipun hanya sebagai latar belakang. Lalu ada lagi istilah banci tampil. Ini lebih eksis lagi dibanding hanya sekedar banci foto. Gak malu tampil ke panggung, percaya diri di depan orang banyak dan selalu eksis di setiap kegiatan. Itulah cirri ciri banci tampil. Berkembangnya sosial media, juga menimpulkan istilah baru salah satunya banci debat. Nah, ciri ciri orang yang satu ini demen mengomentari segala macam twitter orang pasti dari sisi yang berbeda dengan tulisan aslinya. Aktivitas <em>reply</em> dan<em> retweet</em>-nya dipastikan selalu tinggi setiap harinya.</p>
<p>Masih nyambung nyambung ke teknologi, menurut saya yang sekarang paling in adalah banci kabel. Bukan kabel listrik di rumah ya, tapi ini kabel yang berhubungan sama <em>charger</em>. Meski sudah ada <em>charger wireless</em> tetap fungsi benda berkabel ini belum tergantikan secara utuh. Perhatiin deh kalo keluar rumah,saya yakin minimal di tas kamu ada satu buah <em>charger</em> misalnya <em>charger handphone</em>. Buat mereka yang tinggal di Jakarta dan tua di jalan, gak mungkin cukup hanya dengan satu kali nge-<em>charge</em> di rumah, beterei <em>gadget </em>cukup menemani sehari penuh hingga larut malam. Mau gak mau deh tuh kabel diajak, termasuk diantaranya charger untuk di mobil.  Selain <em>handphone</em> – yang minimal satu unit dan sering beda merek (berarti beda <em>charger</em>)- pasti ada <em>charger</em> laptop. Belum lagi sekarang marak PC Tablet, charger iPad, GalaxyTab semua juga akhirnya ikut piknik bersama. Rempong ya, bokk.. Jaman dulu keluar rumah cukup bawa dompet, sekarang boro boro, benda benda yang disinyalir berdampak buruk terhadap lingkungan ini, sudah menjadi <em>must item to bring</em> buat hampir semua orang. Bahkan menurut sebuah survei, banyak orang yang lebih khawatir ketinggalan <em>handphone</em> (baca:kabel) daripada ketinggalan dompet. Ckckckckck&#8230;<em> I know you are one of them</em> <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oya, temennya banci kabel ini namanya banci colokan. Kemana mana merasa lebih aman di tempat yang ada colokannya. Nyari tempat duduk di kafe dekat colokan sampe ke karaoke pun tetep pengen colokan (Eh, yang terakhir ini mah sayah.. hihihihih)</p>
<p>Bayangkan, <em>handphone</em> mati sebentar saja, seolah-olah sudah merasa hidup dalam di pengasingan. Padahal belum tentu juga tuh <em>handphone</em> dipake buat kegiatan produktif, paling banyak untuk cek <em>timeline, status update</em> dan baca email (yang belum tentu <em>urgent</em>). Heheheheheh. Saya sendiri kalau keluar rumah minimal bawa satu <em>charger</em>, buat <em>blackberry</em> yang emang cepet habis batereinya.  Saya juga selalu membawa kabel data yang lebih ringan dan bisa menggantikan fungsi <em>charger. Handphone</em> kedua, saya pilih yang agak katro yang hemat energy dengan fungsi cukup buat sms dan telpon saja. Ini buat jaga jaga untuk kondisi dimana <em>smartphone</em> sejenis BB tau tau batereinya habis, tidak ada colokan dan sangat perlu berkomunikasi dengan orang. Kita tentu semua tahu, berbagai macam aplikasi online berkekuatan tinggi untuk menghapiskan energi semua perangkat elektronil. Jaman memang sudah berubah, kita tidak mungkin kembali menggantungkan komunikasi dengan telepon rumah apalagi telepon umum koin. Kondisi ini adalah konsekuensi semua itu. Saya berharap nantinya ada satu charger dan satu jenis input saja untuk semua gadget. Dari laptop, <em>handphone</em>, iPad, iPod hingga kamera digital. Amin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-920" title="Slide1" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide11-300x101.jpg" alt="" width="300" height="101" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Follow-Vlog2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-917" title="Follow Vlog" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Follow-Vlog2-300x149.jpg" alt="" width="300" height="149" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/banci-kabel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jam Weker</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 06:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Share Setelah melakukan perenungan dengan seksama dan mendalam (sambil menghela nafas) saya pikir satu satunya mahluk di dunia yang paling konsisten dan selalu tepat waktu selain beduk/azan sholat adalah jam weker, ada juga yang menyebutnya jam beker. Sekarang sih, sudah lebih umum orang menggunakan alarm di telepon selular untuk menggantikan fungsi weker ini. Coba bayangin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F09%2Fjam-weker%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Jam Weker&amp;body=Jam Weker - http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Jam Weker" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Setelah melakukan perenungan dengan seksama dan mendalam (sambil menghela nafas) saya pikir satu satunya mahluk di dunia yang paling konsisten dan selalu tepat waktu selain beduk/azan sholat adalah jam weker, ada juga yang menyebutnya jam beker. Sekarang sih, sudah lebih umum orang menggunakan alarm di telepon selular untuk menggantikan fungsi weker ini.</p>
<div id="attachment_899" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/alarm-clock-ayam-jago.jpg"><img class="size-full wp-image-899" title="alarm-clock-ayam-jago" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/alarm-clock-ayam-jago.jpg" alt="" width="300" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">source: http://hendrik-online.blogspot.com/2011/04/alarm-clock.html</p></div>
<p>Coba bayangin, dia tidak pernah telat bekerja dengan berbunyi nyaring di setiap waktu yang dikehendaki oleh si empunya. Meski yang punya lebih sering mematikan lalu tidur lagi (bahkan kadang dengan marah marah), ia tidak kecewa apalagi putus asa. Besoknya di jam yang sama ia kembali melakukan aktivitas itu. Pada beberapa <em>handphone</em>, alarm ini bisa tetap menjerit jerit meski  waktu berbunyinya sudah habis selama pemiliknya belum memencet pilihan “dismiss”. Filosofinya, jam weker memang tidak pernah menyerah dalam bekerja, meski sudah ditolak berkali kali bahkan dimaki maki, ia tetap datang dan selalu datang. Pun tanpa disadari ia sangat dibutuhkan oleh jutaan manusia (apalagi yang tidurnya kayak kebo). Walau sering dibenci, weker ternyata juga sangat dicintai. Banyak sekali orang yang kebablasan tidurnya dan melewatkan berbagai kesempatan penting gara gara gak ada yg bangunin atau wekernya mogok (karena batereinya habis).</p>
<p>Ngomong ngomong soal jam weker, ketika saya masih kecil, hadiah paling berkesan yang diberikan (alm) ayah saya adalah sebuah jam weker kecil berwarna biru berbentuk rumah lengkap dengan cerobong asapnya. Jam ini tidak menggunakan baterei, tapi masih dengan sistem di-engkol (yang gitu deh, diputer puter sampe mentok puterannya). Minimal dua hari sekali harus diengkol agar mesinnnya tetap berjalan dan bekerja dengan optimal. Duh, sayang saya gak sempet mengabadikan si weker biru ini. Weker ini bahkan menemani saya hingga lulus kuliah di IPB. Jangan ditanya bunyinya, satu kost bahkan tetangga kost bisa bangun semua saking nyaringnya. Karena sudah tua, jam weker ini sudah lama pensiun dan wafat. Menyesal rasanya, karena saya tidak menyimpan jasadnya. Hiks</p>
<p>Mungkin sekarang penggunaan jam weker sudah sulit ditemukan. Manusia manusia modern sudah menggunakan alarm digital pada <em>handphone</em>-atau berbagai <em>gadget</em> lainnya sebagai <em>reminder</em>. Tapi apapun wujudnya, sejatinya mereka bersaudara. Saudara yang sama sama berjasa. Bukan hanya untuk menggantikan kokok ayam jantan (jadul dan sangat berbau pedesaan), tetapi juga mengingatkan hal hal penting dalam hidup kita yang kadang tidak semua cukup ditampung di memori otak manusia yang (semakin) terbatas. Mulai dari alarm bangun tidur, meeting, janji kencan hingga tanggal tanggal penting seperti ulang tahun sahabat, keluarga pacar atau tanggal pernikahan. Bahkan saya pernah menghadiahkan sebuah jam weker untuk seseorang yang sempat istimewa, dengan harapan kalau si weker pagi pagi bunyi, dia selalu ingat saya. Hihihhi.. Maaf, bagian ini memang agak alay. <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Wajar saja, kalau jam weker sebenernya bisa jadi salah satu penemuan paling penting dalam sejarah hidup manusia. Kita semua berhutang budi kepada penemunya.</p>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-903" title="Slide1" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide1-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a></p>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Follow-Vlog1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-900" title="Follow Vlog" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Follow-Vlog1-300x149.jpg" alt="" width="300" height="149" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/jam-weker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>being a stalker</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 13:26:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Share Munculnya bermacam macam sosial media harus diakui memang membuat hidup menjadi lebih mudah, terutama dalam soal informasi.  Hanya dengan meng-RT satu pesan di twitter berita kecil jadi terasa sangat penting dan mendapat sorotan tajam. Belum lagi banyak orang orang yang mendadak menjadi selebriti di dunia maya cuman karena tulisan pendek sepanjang 140 karakter di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F09%2Fbeing-a-stalker%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=being a stalker&amp;body=being a stalker - http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="being a stalker" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Munculnya bermacam macam sosial media harus diakui memang membuat hidup menjadi lebih mudah, terutama dalam soal informasi.  Hanya dengan meng-RT satu pesan di twitter berita kecil jadi terasa sangat penting dan mendapat sorotan tajam. Belum lagi banyak orang orang yang mendadak menjadi selebriti di dunia maya cuman karena tulisan pendek sepanjang 140 karakter di twitter.</p>
<div id="attachment_882" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/twitter-comic-91.png"><img class="size-full wp-image-882" title="twitter-comic-9" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/twitter-comic-91.png" alt="" width="550" height="412" /></a><p class="wp-caption-text">http://www.penn-olson.com/2009/10/18/20-hilarious-twitter-comic-strips/</p></div>
<p>Tapi saya bukan mau bahas itu, udah bejibun tulisan yang mengomentari soal fenomena sosial media.  Buat saya sendiri, dengan sosmed saya jadi tau terlalu banyak tentang seseorang atau orang lain diluar yang orang itu pikir. Wah gimana tuh? Kalo bahasa kerennya saya sering jadi “stalker” alias menyelidiki seseorang melalui jaringan sosialnya. Kalau jaman dulu, media curhat mungkin hanya buku harian yang disimpan rapat rapat di lemari dan nyaris jadi barang dengan tingkat confidential yang sangat tinggi, kini hampir semua orang doyan curhat di internet. Banyak yang mengungkapkan ide, gagasan dan pemikiran tapi lebih banyak lagi yang mengumbar masalah pribadi yang akhirnya jadi tidak pribadi lagi. Wah, ini sasaran empuk banget buat tahu “dapur” seseorang bagi detektif cap kacang buncis seperti saya.</p>
<p>Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu ada karyawan baru di kantor saya, gayanya sih oke, percaya diri dan keliatan cukup cerdas. Eh, siapa nyana gak sampai dua minggu ia pamit pulang ke kampungnya di Medan sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan alasan masalah orang tuanya yang sangat mendesak.  Lucunya ia juga tidak mengajukan surat pengunduran diri, dengan alasan jika sudah selesai ia akan kembali aktif. Ini pasti alasannya karena gak enak “baru dua minggu”. Membaca gelagat yang kurang enak, saya yang ada bakat dikit jadi paranormal KW 5, iseng meng-googling namanya berharap ketemu facebook, twitter atau sejenisnya untuk tahu bagaimana anak baru itu sebenernya. Dan ternyata, kebohongan besar terungkap, saya menemukan akun twitternya yang sejak seminggu sebelum ia keluar sudah sesumbar akan pindah kerja. Malah pake embel embel, “enak banget dapet tawaran kerja di dua tempat sekaligus”.. Bego-nya lagi, ia “lupa” atau gak ngerti sehingga <em>map location</em>-nya terlihat di timeline-nya. Jreng jreng…daan ia masih ada di Jakarta!!  Manajer HRD kantorku seperti kebakaran jenggot. Kalo saya sih mikirnya, duh..gw jangan sampe deh dikadalin sama anak kemaren sore. Lucunya  lagi ketika dikonfirmasi, ia bilang, akun tersebut di-hack seseorang. Sesuatu yang sangat mustahil mengingat dalam satu minggu terakhir hingga pagi harinya ia terus menerus bicara tentang kepindahan kerjanya itu. Kadung ketahuan, besoknya saya cek lagi, akun itu sudah gak ada.. Hahahahahaha.. *ketawa penuh kemenangan*</p>
<p>Contoh yang jelek bukan?  Makanya hati hati deh, meski di list follower, kamu yakin gak ada orang yang berhubungan dengan “rahasia”-mu, inget.Mbah Google itu luar biasa jago dan banyak orang yang lebih cerdas dari kamu di luar sana. Kecuali kalo kamu memang pengen eksis dan ngetop sih, beda perkara tuh..</p>
<p>“Fungsi” lain lagi (ini sebenernya gak baik diikuti), saya pribadi beberapa kali mem-follow seseorang bahkan dua atau tiga orang untuk mendapatkan info tentang orang yang lain lagi <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Hihihihihi. Sasaran utamanya biasanya bukan orang yang sangat aktif di internet, so untuk tau lebih banyak tentang dia, bisa dengan mengamati timeline lingkungan sekitarnya yang sangat membantu (sekali lagi: hihihihi…). Memang sih, apa yang dituangkan dalam 140 karakter itu gak selalu bisa menggambarkan isi hati atau kondisi penulisnya, tapi paling tidak ..banyak sekali yang bisa diraba dari sana, tinggal bagaimana kita secara cerdas bisa mengolah informasi itu (ceilee..berat bener bahasanya..) Bukan itu saja, dengan mem-follow satu orang kita bisa menjumpai orang orang lain disekitarnya yang pasti ada hubunganya dengan sasaran kita. Kan pada dasarnya dunia setiap orang itu seperti lingkaran, udah kemana mana ujungnya tetap di sana sana juga. Oya, tips dari saya, kalau semua info sudah terkumpul, lebih baik kamu stop mem-follow atau me-remove orang tersebut. Yah, jangan sampe ketauan dong, kita mata-matain Hihihihi..</p>
<p>Pada dasarnya relatif mudah mengetahui seseorang dengan internet. Akun twitter terkenal seperti @poconggg yang pemiliknya sempat membuat penasaran jagad twitter akhirnya terkuak juga berkat kejelian para stalker stalker ini. Diri kita sendiri tentu tidak luput dari “bahaya laten” seperti ini. Oleh karena itu lebih baik berhati hati jika memang ada hal hal yang tidak perlu diketahui orang. Terkadang kita memang merasa itu bukan hal penting tapi kepentingan masing-masing orang di sekitar kita berbeda beda, bisa aja hal hal tidak penting bagi kita jadi informasi yang sangat penting bagi orang lain.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Stalker1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-892" title="Stalker" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Stalker1.jpg" alt="" width="453" height="222" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Follow-Vlog.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-890" title="Follow Vlog" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/09/Follow-Vlog.jpg" alt="" width="472" height="235" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/09/being-a-stalker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadget dan Mudik</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 15:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Share Mudik? Hampir setiap manusia khususnya di Kota Jakarta pasti akan melakukan ritual ini setiap tahun. Tradisi berkumpul dengan sanak saudara seolah olah sudah dinanti-nanti dan tidak akan dilewatkan setiap tahun, walaupun penuh perjuangan karena sesaknya pemudik dan pengorbanan biaya serta tenaga yang tidak sedikit. Barang bawaan mudik pun pasti gak kira kira banyaknya terutama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F08%2Fgadget-dan-mudik%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Gadget dan Mudik&amp;body=Gadget dan Mudik - http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Gadget dan Mudik" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Mudik? Hampir setiap manusia khususnya di Kota Jakarta pasti akan melakukan ritual ini setiap tahun. Tradisi berkumpul dengan sanak saudara seolah olah sudah dinanti-nanti dan tidak akan dilewatkan setiap tahun, walaupun penuh perjuangan karena sesaknya pemudik dan pengorbanan biaya serta tenaga yang tidak sedikit. Barang bawaan mudik pun pasti gak kira kira banyaknya terutama macem macem oleh oleh buat sanak saudara.</p>
<p>Nah , beberapa tahun belakangan ini, ternyata ada lagi yang menurutku cukup merepotkan dan harus dibawa juga buat mudik. Apalagi kalau bukan gadget dan perlengkapannya. Bagi saya packing barang-barang ini lebih “rempong” dibanding sekian banyak oleh oleh dan perlengkapan pribadi. Saya sendiri saat ini menggunakan dua handphone (termasuk blackberry), satu laptop, satu iPad, iPod Touch, kamera digital yang semua chargernya beda.  Plus WiFi Modem yang juga pake charger.  Entah kenapa saya kok repot sendiri dengan barang barang itu, mau ditinggalin kok kayaknya gak mungkin ya..  Bahasa alay-nya saya tuh miss gadget banget.  Dipilih untuk gak dibawa semua pun kayaknya sulit, karena masing-masing gadget punya fungsi dan waktu penggunaan yang berbeda.  Gak ada solusinya kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-739 aligncenter" title="photo" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/08/photo.jpg" alt="" width="484" height="363" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hmm..tapi kalo dipikir pikir lagi, balikin ke tujuan awal kita mudik deh, yaitu silaturahmi. Jadi “budak” teknologi sih boleh.. Tapi jangan sampai kebiasaan di kota yang lebih sibuk sama gadget dibanding interaksi sosial secara langsung juga ikut ikutan kebawa di kampung halaman. Kalo merasa  repot seperti saya, sepertinya memang harus ada yang dikorban, toh paling lama seminggu kok pisah dari gadget gadget tercinta itu, sementara bertemu dengan semua sanak saudara dan handai taulan paling hanya satu kali seperti di masa liburan Idul Fitri saat ini.</p>
<p>Intensitas berkomunikasi di dunia maya memang tidak ada salahnya dikurangi. Gak enak dong pas ngumpul keluarga, kita sibuk update status twitter atau ngecek status facebook gebetan kita. Yang demen maen game juga.. Wah.. di kampung gak boleh autis ya.. kasian kakek, nenek, om, tante dan temen temen lama dianggurin gara-gara kita sibuk menamatkan angry birds yang emang gak abis abis…</p>
<p><em>So, use your gadget wisely on your holiday with family !!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/gadget-dan-mudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayu Utami : Saya Tidak Akan Menikah (katanya…, tapi….)</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 09:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Share Saya lupa deh, apa pernah membaca buku penulis yang satu ini. Mungkin yang Parasit Lajang saya punya, tapi mungkin karena saya tidak sealiran dengan gaya penulisan dia, jadi tidak ada kesan yang mendalam setelah membaca buku itu.  Saya tau Ayu Utami bukan dari buku-bukunya tapi dari berbagai statement-nya di media massa  (seperti diungkap di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F08%2Fayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%25e2%2580%25a6-tapi%25e2%2580%25a6%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Ayu Utami : Saya Tidak Akan Menikah (katanya…, tapi….)&amp;body=Ayu Utami : Saya Tidak Akan Menikah (katanya…, tapi….) - http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Ayu Utami : Saya Tidak Akan Menikah (katanya…, tapi….)" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/08/parasit-lajang1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-724" style="border-width: 2px; border-color: black; border-style: solid;" title="parasit-lajang" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/08/parasit-lajang1.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p>Saya lupa deh, apa pernah membaca buku penulis yang satu ini. Mungkin yang Parasit Lajang saya punya, tapi mungkin karena saya tidak sealiran dengan gaya penulisan dia, jadi tidak ada kesan yang mendalam setelah membaca buku itu.  Saya tau Ayu Utami bukan dari buku-bukunya tapi dari berbagai statement-nya di media massa  (seperti diungkap di bukunya itu) yang mati matian mengatakan: “Saya Tidak Akan Menikah”.</p>
<p>Ini ada beberapa kutipan hasil googling saya tentang pernyataan Ayu:</p>
<p><em>“Saya tidak mau menikah&#8221;, itu prinsip yang kini saya pegang. Di buku Parasit Lajang, saya menuliskan 10 alasan untuk untuk menikah. Salah satunya yang penting bagi saya, menikah itu selalu menjadi tekanan bagi perempuan. Meskipun kita selalu bilang bahwa menikah adalah pilihan, tapi dalam kenyataannya menikah itu jadi satu satunya pilihan. Karena, kalau tidak menikah, perempuan akan diejek sebagai perawan tua, dan sebagainya. Yang pada akhirnya, membuat si perempuan jadi berada di bawah tekanan.</em><em></em></p>
<p><em>Nah, saya ingin menghimbau atau mengajak atau sebetulnya bilang kepada orang lain, kenapa sih kita harus menikah? Tapi kalau ajakan itu hanya sekadar kata-kata saya, apa artinya. Makanya, saya harus konsekuen juga dengan ajakan tersebut Saya menunjukkan bahwa tanpa pernikahan pun saya bisa bahagia. Di satu pihak saya juga ingin menyadarkan masyarakat akan dua hal. Pertama, bahwa dalam realitanya hubungan seks itu bukan hanya ada dalam pernikahan. Yang kedua, hubungan seks dalam pernikahan sendiri bukan berarti lebih baik dari hubungan seks di luar itu.</em></p>
<p><em>Tentunya, sewaktu saya memutuskan untuk tidak menikah, keluarga saya, terutama ibu, sempat merasa sedih. Sampai sekarang-ibu tetap ber- harap suatu saat saya akan menikah. Sebaliknya, di luar perkiraan saya, bapak malah menerima keputusan ini dengan enteng. Buktinya, sewaktu kakak saya menikah, dia bilang ke para tamu kalau ini pestanya yang terakhir. &#8220;Karena anak bungsu saya enggak akan kawin,&#8221; itu kira-kira omongan bapak ke para tamu.</em></p>
<p><em>Untuk jadi seorang ibu? Saya juga tidak memiliki keinginan. Ngapain lagi bikin anak, toh pen- duduk Indonesia seka- rang sudah padat seka li. Makanya, saya suka bingung kalau melihat teman-teman saya yang anaknya banyak. Di benak saya akan muncul satu pertanyaan. Apa mereka enggak pusing ya mengurus anak sebanyak itu? </em></p>
<p>Tiba tiba pertengahan Agustus ini merebak kabar dari twitter dan fesbuk, ternyata si Parasit Lajang ini, baru saja melangsungkan pernikahan. Wahhh.. tentu saja kalo saya kenal Mbak Ayu, saya pasti akan mengucapkan selamat duluan. Tapi dasar saya emang kerjanya suka ngusilin orang saya coba cari tau, apakah Ayu sudah melanggar “sumpahnya”?  Yukk.. Ternyata saya temukan jawabannya di twitter beliau dengan akun @BilanginFu sebagai berikut :</p>
<p><em>@<a title="Ayu Utami" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu"><strong>BilanganFu</strong></a> Ayu Utami </em></p>
<p><em>Waktunya memperjuangkan agar perempuan dihargai di dlm maupun di luar perkawinan.</em></p>
<p><em><a title="5:22 PM Aug 20th" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu/status/104860759258959872">20 Aug</a> </em></p>
<p><em>@<a title="Ayu Utami" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu"><strong>BilanganFu</strong></a> Ayu Utami </em></p>
<p><em>Sblm ini, sy mprjuangkan agar prmp bebas dr rasa takut tidak menikah, jd perawan tua/ tdk perawan sblm nikah. </em></p>
<p><em><a title="5:22 PM Aug 20th" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu/status/104860759258959872">20 Aug</a> </em></p>
<p><em>@<a title="Ayu Utami" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu"><strong>BilanganFu</strong></a> Ayu Utami </em></p>
<p><em>Ketidakmenikahan sy adl tindakan politik. Kemenikahan sy adl tindakan iman</em></p>
<p><em><a title="5:22 PM Aug 20th" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu/status/104860759258959872">20 Aug</a> </em></p>
<p><em>@<a title="Ayu Utami" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu"><strong>BilanganFu</strong></a> Ayu Utami </em></p>
<p><em>Jika sy tidak menikah, itu adl ajakan spy peremp tak takut utk sendiri. Jgn takut jadi perawan tua atau jadi tidak perawan.</em></p>
<p><em><a title="5:22 PM Aug 20th" href="http://twitter.com/#!/BilanganFu/status/104860759258959872">20 Aug</a> </em></p>
<p>Yaah..gak ada yang salah sih dari semua pendapat dia, bener banget.. Tapi pasti semua orang bertanya tanya, mana bukti dari apa yang dia dengung dengungkan selama ini?? Duh, kata temenku Mbak Ayu kayaknya lupa.. semua yang dia bilang sebelumnya itu keputusan dia.. Ada Tuhan loh yang Maha menggerakkan dan merubah hati dan keputusan manusia semudah manusia membalikkan telapak tangannya. Tidak menikah pun sekarang sudah bergeser menjadi fenomena “biasa” di sebagain lapisan masyarakat di kota besar. Tapi mbak.. tetep looo gak boleh lupa, salah satu kodrat alias cetakan manusia dari sononya itu salah satunya menikah. Hanya salah satu looo… tapi bisa jadi salah satu yang paling besar.</p>
<p>Dah segitu aja, Mbak Ayu.. hanya sebuah pemikiran kecil.. Happy Life ya, Mbak.. Salam buat suami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/ayu-utami-saya-tidak-akan-menikah-katanya%e2%80%a6-tapi%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haruskah membuat akun di semua SosMed?</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 08:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[Share Lima tahun yang lalu mungkin kita semua belum tau ada istilah Sosmed alias sosial media, tapi sekarang “hewan” yang satu ini seakan sudah jadi bagian hidup manusia mau yang di desa apalagi di kota. Ibarat udah jadi kebutuhan primer, facebook dan twitter sudah jadi media komunikasi baru yang mungkin dulu bisa jadi tidak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F08%2Fharuskah-membuat-akun-di-semua-sosmed%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Haruskah membuat akun di semua SosMed?&amp;body=Haruskah membuat akun di semua SosMed? - http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Haruskah membuat akun di semua SosMed?" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Lima tahun yang lalu mungkin kita semua belum tau ada istilah Sosmed alias sosial media, tapi sekarang “hewan” yang satu ini seakan sudah jadi bagian hidup manusia mau yang di desa apalagi di kota. Ibarat udah jadi kebutuhan primer, facebook dan twitter sudah jadi media komunikasi baru yang mungkin dulu bisa jadi tidak pernah diduga oleh penemu internet. Gak buka fesbuk, gak twitteran sehari kayak makan gak pake sambel.  Belum habis demam dua sosmed itu, sekarang muncul lagi macem macem sampe gw sendiri gak hapal. Mulai dari Tumblr, Heello, Google+ belum yang fungsinya spesifik dan dikembangkan dari yang sebelumnya pernah ada seperti Linked atau Multiply. Sempet juga ada MySpace, Plurk ato beberapa jenis temen-temennya Friendster. Tambah lagi sekarang hampir semua aplikasi bisa di-link ke sekian banyak merek merek yang disebutin barusan. Gara gara sekian aplikasi itu, orang jadi sulit berbohong lagi ngapain, lagi dimana dan sama siapa semua terlacak. Bahkan terkadang sosmed bisa membuat kita tau kepribadian seseorang dengan baik tanpa harus mengenal dia lebih jauh.</p>
<p>Udah banyak banyak begitu, apa kita juga kudu bikin akun di semua aplikasi? Kalo yang saya liat sih, anak anak muda khususnya ABG Labil rata-rata pasti punya akun di minimal dua sosmed.  Gak gaul dan gak alay banget kalo sampe gak update di sekian banyak sosmed. Lah, trus tujuannya apa? Buat nambah temen? Buat gaya dan tambah eksis atau biar gak ketinggalan jaman doang? Beda umur, beda pergaulan pasti beda tujuan.</p>
<p>Kalau tujuannya hanya untuk gaul, biar gak ketinggalan jaman, pesen saya sih gak perlu deh buka sekian banyak akun sosmed. Selain repot ngurusinnya, ngabisin waktu, pasti ngisinya juga gak optimal. Namun ada beberapa alasan kenapa kita harus aktif di sosmed yang jika dimanfaatkan dengan baik, keuntungannya banyak sekali selain sebagai tempat untuk mengememukakan pendapat, uneg uneg atau sekedar iseng</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-714" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="65-Social-Icons" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/08/65-Social-Icons.jpg" alt="" width="355" height="298" /></p>
<p>Gak perlu deh bikin akun di semua sosmed, kita bisa pilih pilih sesuai pertimbangan seperti di bawah ini;</p>
<ol start="1">
<li>Sarana komunikasi. Yang pasti manfaat utama SosMed itu untuk menjalin silaturahmi. Inget..silaturahmi itu ibadah dan berpahala lo. Kadang saat menunggu sesuatu, lagi jenuh kita bisa iseng ber-say Hi ke teman teman atau keluarga  yang jauh via sosmed. Cari sosmed yang paling banyak digunakan oleh kerabat dan handai taulan kita.</li>
<li>Sarana promosi. Sekarang sudah banyak perusahaan perusahaan besar yang menggunakan sosmed untuk sarana promosi produk mereka atau untuk menjalin komunikasi dengan customernya. Kenapa kita yang individu gak? Gak mesti produk jualan lo.. bisa jadi promosi kegiatan, promosi tulisan kita di blog atau yang lain lain sejenis. Bicara marketing di Sosmed, sepertinya di google banyak banget tuh.. monggo googling ajah..</li>
<li>Sarana Kebutuhan Khusus. Pilih Sosmed yang sesuai kebutuhan. Saat ini twitter emang paling oke untuk menyebarkan informasi yang cepat dalam sekejap. Semantara itu Linked sangat baik digunakan untuk promosi diri untuk pekerjaan profesional. Sudah semakin banyak HRD yang mencari calon kandidatnya melalui sosmed ini. Buat jualan sekarang multiply sudah diperbaharui khusus untuk online shopping. Yang demen fotografi  posterous dan tumblr boleh dicoba.</li>
<li>Sarana Jajak Pendapat. Maanfatin sosmed untuk survei, penelitian dan jajak pendapat. Kalau dulu untuk tau pendapat orang lain atau masyarakat mungkin kita perlu waktu berminggu-minggu. Kini melalui sosmed, dalam sekejap kita bisa tau respon masyarakat terhadap satu hal yang trend atau memang sedang menuju trend. Nih buat kamu kamu yang perlu data beginian, sosmed ampuh banget deh..</li>
<li>Sarana Beramal. Membantu orang via Sosmed. Ini sekarang lagi trend. Mulai dari mencari orang hilang, penggalangan dana anak cacat sampe bantuin kemanusiaan bencana alam.</li>
</ol>
<p>Asyikk kan.. jadinya twitter dan teman temannya itu gak buat tempat curhat doang…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/08/haruskah-membuat-akun-di-semua-sosmed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ipad, Galaxi Tab dan Tukang Buah Buta..</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 14:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[Share Hampir tiap malam di komplek rumahku, di Bogor ada tukang buah pikulan yang lewat. Dari mulai pisang, pepaya hingga duren dibawanya berkeliling. Sedikit aneh, karena biasanya pedagang buah keliling beroperasinya siang, nah.. yang ini kok malem ya,.. Mungkin saja dia sempet belajar prinsip diferensiasi dalam marketing, karena siang kompetitornya banyak, jadilah ia jualan malam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F07%2Fipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Ipad, Galaxi Tab dan Tukang Buah Buta..&amp;body=Ipad, Galaxi Tab dan Tukang Buah Buta.. - http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Ipad, Galaxi Tab dan Tukang Buah Buta.." data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><p>Hampir tiap malam di komplek rumahku, di Bogor ada tukang buah pikulan yang lewat. Dari mulai pisang, pepaya hingga duren dibawanya berkeliling.  Sedikit aneh, karena biasanya pedagang buah keliling beroperasinya siang, nah.. yang ini kok malem ya,.. Mungkin saja dia sempet belajar prinsip diferensiasi dalam marketing, karena siang kompetitornya banyak, jadilah ia jualan malam hari (Kali…) Pernah sekali saya tanyakan, ternyata dia kalo siang, jualan di pinggir jalan di kampung sebelah. Ohhh… pantes.. Bukan itu saja, ada bagian yang membuat saya sangat terharu, dia buta..saudara saudara!! Jadi dalam berjualan ia selalu ditemani satu orang lain, entah itu istrinya atau anaknya, yang menuntunnya untuk berjalan, sementara ia sendiri memikul keranjang buah yang sangat berat itu di kedua bahunya.</p>
<p>Mungkin banyak yang menganggap ini biasa, tapi kok saya pribadi sangat terharu. Sementara banyak banget manusia sehat dan normal kerjanya males-malesan (termasuk saya). Dipikir pikir berapa sih penghasilan dari jualan buah itu, bisa jadi gak lebih dari uang sekali “nongkrong nongkrong” saya dengan teman teman buat cekakak cekikik.. Duh aku miris banget… Bukan sok sosial dan humanis ya.. tapi  terus terang buatku diliatin yang beginian sama Tuhan bikin  aku selalu melek, kalo gak boleh boros, banyak banyak sedekah, menghargai kerja keras dan yang pasti banyak banyak bersyukur. Oke,stop,. Kalo diterusin ntar kesannya menggurui secara gw belom jadi ustadzah. Yang jelas apapun bentuknya bapak tua dan keranjang buahnya itu membuatku sangat terharu biru (belum sampe biru biru sih..)</p>
<p><img class="size-full wp-image-633 alignleft" title="Antri Ipad di Central Park, Jakarta 17 Juli 2011 (taken by Andi Basuki)" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/07/antri-ipad.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p>Di tempat lain , Jakarta yang hanya berjarak 42 km dari Bogor, ada sekelompok manusia lain yang rela mengantri barang teknologibaru bernama Ipad dan Galaxi Tab hingga berjam jam. Jaman dulu antrian begini seingatku hanya waktu pertama Jco Donuts buka, dan itu juga harga per potong rotinya gak lebih dari Rp 10 ribu. Nah, gelombang antrian Ipad dan Galaxy Tab itu sungguh tidak main main, barang yang di-antri hingga 200 meter itu seharga minimal Rp 6 juta per unit. Miris yaa kalo inget Bapak tua tadi.</p>
<p>Sama sekali gak men-judge orang yang ngantri panjang panjang itu.. Wong gw juga kalo ada yang ngasih duit buat beli Ipad mau juga ngantri *nyengir* Hanya aku mencoba membandingkan, bahwa kesenjangan orang Indonesia ini masih lebar banget. Yang satu buat makan aja harus terseok seok dengan keterbatasan fisik, usaha tetep kenceng. Nah yang lain, beli barang mahal ngantrinya udah kayak beli kacang goreng aja. Sedih.  Secara pribadi aku belum bisa banyak berbuat untuk orang-orang yang kurang beruntung itu, aku hanya bisa sedikit ngasih doa, semoga Tuhan mendengarkan doa kita, Semoga pendidikan di negara ini makin maju, biar banyak yang pinter, biar gak miskin dan satu lagi, semoga kita kita yang sudah berkecukupan ini makin tinggi semangat membantu sesamanya, dalam hal apapun. Amin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/07/ipad-galaxi-tab-dan-tukang-buah-buta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emansipasi, Gender dan Sejenisnya itu Terkadang Mengada-Ngada…</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 12:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=613</guid>
		<description><![CDATA[Share Tulisan ini tercetus dari satu riset dimana saya membantu seorang teman untuk sebuah organisasi profesi yang cukup vokal di tanah air. Intinya begini, mereka ingin tahu apakah terjadi kekerasan untuk perempuan dalam profesi ini. Survei dilakukan di tujuh provinsi besar di Indonesia untuk mewakili semua penjuru negeri yang luas ini. Hasilnya, kekerasan dan diskriminasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:33px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.vikaoctavia.com%2F2011%2F06%2Femansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%25e2%2580%25a6%2F&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=100&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=27" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:27px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="medium" href="http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/" ></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:px;">
					<a href="mailto:?subject=Emansipasi, Gender dan Sejenisnya itu Terkadang Mengada-Ngada…&amp;body=Emansipasi, Gender dan Sejenisnya itu Terkadang Mengada-Ngada… - http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/"><img src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:px;">
					<a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
						data-text="Emansipasi, Gender dan Sejenisnya itu Terkadang Mengada-Ngada…" data-url="http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><div id="attachment_614" class="wp-caption alignright" style="width: 410px"><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/06/busy_mom_with_child_and_01-1.gif"><img class="size-full wp-image-614" title="busy_mom_with_child_and_01 (1)" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2011/06/busy_mom_with_child_and_01-1.gif" alt="" width="400" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">source :http://vanyalessandra.blogspot.com/2010/06/emansipasi-samakan-hak-tapi-bedakan.html</p></div>
<p>Tulisan ini tercetus dari satu riset dimana saya membantu seorang teman untuk sebuah organisasi profesi yang cukup vokal di tanah air. Intinya begini, mereka ingin tahu apakah terjadi kekerasan untuk perempuan dalam profesi ini. Survei dilakukan di tujuh provinsi besar di Indonesia untuk mewakili semua penjuru negeri yang luas ini. Hasilnya, kekerasan dan diskriminasi ternyata hanya dirasakan kurang dari 10% perempuan pada profesi ini. Jumlah ini relatif sedikit dari total 14.000 orang yang ada di profesi ini. Namun menurut organisasi ybs, hasil itu masih perlu digali lagi, karena kenyataannya belum seperti hasil survei tersebut. Memang bisa saja terjadi kelemahan secara statistik pada saat pengambilan sampel, namun kesimpulan saya bukan itu… Masalah gender dan hal hal terkait diskriminasi untuk perempuan lama-lama sudah mengada-ngada alias dicari cari.</p>
<p>Terlepas dari survei itu, dengan kemampuan saya yang terbatas dan pengetahuan saya yang (mungkin) belum luas, menurut saya, saat ini –anggaplah 15-20 tahun terakhir- ini, jika masih ada pertanyaan berbunyi: apakah ada diskriminasi terhadap perempuan pada profesi A, B atau C? Sumpah, menurut saya itu lucu.  Saya perempuan, saya merasakan untuk semua pekerjaan yang pernah saya jalani, tidak ada perbedaan. Sudah gak jaman orang meributkan soal gender, yang dilihat sekarang kemampuan, pengetahuan dan eksistensi.</p>
<p>Memang masih kita temukan kasus-kasus kekerasan atau diskriminasi yang obyeknya perempuan, tapi bagi saya (sekali lagi yang awam ini), itu bukan masalah gender tapi isu kekerasannya-lah yang harus diangkat.  Pelakunya siapa, kenapa terjadi begitu. Bukan sebaliknya: karena obyeknya perempuan maka urusannya jadi urusan gender. Sudah sangat jelas, sekarang laki laki dan perempuan itu sama saja, apalagi kalau urusan profesional. Coba bilang ke saya, masih adakah profesi  (yang menggunakan otak bukan otot) dimana perempuan itu dipandang sebelah mata? Lagi-lagi semua kembali ke kemampuan kok. Perempuan pintar sudah dimana mana sekarang, yang mengalahkan laki laki juga tidak sedikit. So..sangat aneh, kalo ada yang masih suka menggali-gali adanya diskriminasi terhadap perempuan.</p>
<p>Jaman dulu iya,…mungkin waktu jamannya Ibu Kartini, Cut Nyak Dien ato siapalah generasi mereka itu. Nah, berarti kalau sekarang masih ada yang menowel-nowel soal diskriminasi dan “sok” memperjuangkannya, duh… gak salah jaman yah?? Kasian bener… Saya malah tersinggung kalau ada yang nanya apakah pernah merasakan diskriminasi karena kamu perempuan? Oh, Tuhan… kerjaan saya kerjaan otak bukan otot…dan lingkungan kini semakin maju, orang-orang semakin terbuka, open minded… Itu jelas jelas pertanyaan yang salah tempat.</p>
<p>Menurut saya gak perlu tuh ada lembaga yang khusus ngurusin masalah gender dan partisipasi perempuan. Karena dengan perkembangan jaman dan pendidikan,<em> its automatically!!</em>! Malah yang perlu diurusin itu, perempuan dengan emansipasi kebablasan yang lupa sama kodratnya sebagai perempuan dan sebagai IBU.  Partisipasi wajarlah, secara katanya (katanya….) jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki, maka dari itu perlu “diaktifkan” atau apalah istilahnya, tapi jangan dibuat ekslusif lah.. Mau bagaimanapun, bener kata nenek moyang kita dulu..perempuan tetap akan kembali ke keluarganya dan itu sesuatu yang luarrrr biasaaa&#8230;lebih dari profesi laki laki terhebat di dunia. Terus ada juga embel-embelnya: perlindungan terhadap perempuan. Waduh… sebegitu rentankan perempuan?? Kenapa sih tidak membenahi yang lain misal, moral kaum laki laki, bukan begitu? Jadi  sedikit ambigu, kenapa fokus ke obyeknya sih..kenapa tidak fokus ke subyeknya??</p>
<p>Membuat perempuan menjadi demikian eksklusif sebenarnya malah “melemahkan” perempuan itu sendiri. Karena tanpa dibuat ekslusif dengan istilah gender, diskriminasi, perlindungan dsb..dsb.. perempuan sudah mahluk yang istimewa kok..</p>
<p><a href="http://ngobrol.vikaoctavia.com/2008/04/kartini-ku/#more-93">Quote ini saya buat di 2008</a>, tapi masih menjadi quoate favorit saya hingga hari ini..</p>
<blockquote>
<h3>Bagiku, tanpa emansipasi sekalipun perempuan itu adalah mahluk yang istimewa.   Istimewa karena ia punya hati untuk memberi ketegaran kepada orang-orang yang dicintainya. Menjadi labuhan terakhir keluarganya dalam duka, punya ketulusan untuk mencintai dan punya kekuatan untuk menumbuhkan kekuatan  dalam setiap langkah  orang-orang yang mencintainya.  Lebih Istimewa karena aku percaya pada anak-anak yang hebat ada ibu-ibu yang hebat di belakang mereka dan di belakang setiap laki laki hebat pasti ada wanita yang lebih hebat.</h3>
<p>And.. I always proud being a woman..</p></blockquote>
<p>*tulisan ini hanya pendapat saja, semoga tidak ada pihak pihak yang tersinggung atau &#8220;merasa-rasa&#8221;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2011/06/emansipasi-gender-dan-sejenisnya-itu-terkadang-mengada-ngada%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

