d’vicca
Dari jaman dulu, bisa dibilang frekuensi-ku ke toilet lebih sering disbanding manusia-manusia lain. Istilah kerennya, aku tuh beser banget. Sejauh ini sih tidak ada masalah dan aku pun merasa sehat-sehat saja. Tidak pernah pula aku coba mencari tahu penyebabnya, apa. Menurutku, masih dalam tahap yang normal tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Toilet di kantor pasti sudah jadi teman baik, sementara letak toilet di beberapa mall besar di Jakarta yang paling sering kukunjungi juga nyaris aku hapal, sampai lorong-lorongnya. Jangan tanya soal WC umum di terminal atau di stasiun yang sering kulewati. Itu pun pasti sudah diluar kepala. . Agak jorok mungkin kedengarannya, tapi mau gimana lagi..daripada nahan pipis berjam-jam yang bisa membuatku serasa mati berdiri, lebih baik aku pipis di tempat-tempat umum begitu. Makanya aku selalu sedia tissue dan cairan pencuci tangan instan di tas. Yah…buat jaga-jaga biar tetep hygienis meski gak bener bener hygienis. Untungnya selama ini belum pernah sampe nekad pipis di semak-semak atau belakang pohon, hihihi..Kata pakar kesehatan sering-sering menahan pipis dalam waktu yang lama akan berakibat tidak baik bagi ginjal.
Namun, saat-saat tertentu, ada juga masalah yang timbul dari hobiku ini. Misalnya jika dalam perjalanan jauh. Repot kan kalo dikit-dikit mau pipis. Iya kalo jalannya pake kendaraan pribadi, bisa mampir dimana saja, tapi kalo perginya dengan kendaraan umum kan gak enak kalo harus dipelototin penumpang lain gara-gara minta berhenti. Belum lagi kalo kebeletnya di jalan tol yang gak bisa asal berhenti. Atau kalau kebelet di KRL yang nonstop , tapi sejauh ini yang kutumpangin baru KRL Bogor-Jakarta ekspres yang paling rata-rata 1 jam perjalanan, dimana waktu 1 jam masih sangguplah aku tahan. Lain halnya kalo naik KRL ekonomi, kalo bener-bener gak kuat lagi, mungkin aku lebih baik turun di stasiun terdekat dengan resiko beli tiket baru jika mau nyambung lagi dan belum tentu kebagian tempat duduk lagi.
Ada beberapa kejadian lucu menyangkut urusan pipis-mempipis ini. Kalau cerita aku sering pipis di tempat karaoke bukan barang baru. Kebiasaan pipis ketika datang dan ketika pulang dari suatu tempat juga sudah lumrah. Beberapa kali kejadian aku harus ikhlas nahan pipis di tengah jalan tol, sementara tujuan masih lumayan jauh. Pernah aku harus berjuang “bertahan” dalam tol sejak Jagorawi hingga bandara Soekarno Hatta. Kalau jalannya lancar sih masih tidak begitu masalah meski rasanya sekujur badan sudah gemetaran gak jelas. Itu sering, dan sudah kuanggap biasa. Kejadian terakhir, masih menuju bandara, jalan tol ruarrrrrrrrrr biasa macetnya. Bukan hanya nahan pipis, aku juga harap-harap cemas takut ditinggal pesawat, karena waktunya sangat mepet. Padahal dari rumah aku sudah mempercepat keberangkatan dengan harapan bisa menikmati wifi gratis di salah satu kafe di bandara sebelum boarding. Dalam posisi ini, perasaanku campur aduk, berdebar-debar, cemas, nahan hajat yang luar biasa dan kesal! Kesal selain macet juga karena HP-ku berkali kali bordering baik itu untuk urusan penting maupun tidak penting. Bagaimana aku bisa berbicara dengan baik jika kondisi lagi begitu? Akhirnya dengan sangat terpaksa beberapa telpon dari nomor yang kukenal kudiamkan saja, dengan asumsi toh nanti aku bisa menelpon mereka kembali. Namun kemacetan yang hebat itu tak dinyana justru membawa berkah, karena ketika memasuki salah satu gerbang tol, ADA TOILET ! Aku pun berteriak histeris (dalam hati). Dengan malu-malu, muka memelas dan suara pelan (agar tidak ketahuan penumpang lain) aku memohon ke pengemudi bis untuk bisa mengambil jalur paling kiri dan membiarkanku lari sejenak ke toilet itu sementara menunggu kemacetan berakhir. Dan itu berhasil! HURAA.. Leganya luar biasa, kayak abis melahirkan anak kembar. Hahahaha..
Urusan lobi- melobi supir bis seperti diatas, sebenarnya juga bukan barang baru. Jaman kuliah dulu, aku paling sering praktikum di Pelabuhan Ratu, Sukabumi yang jalannya berkelok-kelok dengan pepohonan besar di kanan kiri jalan. Kondisi begini memperparah beser-er kayak gue. Dengan memasang tampang mahasiswa susah karena kiriman pas-pasan, biasanya supirnya mau untuk berhenti jika sudah tak terhankan. Iya…kalo baru satu kali sih no problem, tapi kalo dalam sekitar 3-4 jam perjalanan bisa mengajukan proposal hingga 4 kali, udah kelewatan juga kali ye…hehehhe.. Tapi begitulah kejadiannya. Teman-temanku sudah biasa dan dengan senang hati mau urunan beli pispot buatku jika memang dibutuhkan.
Ketika sempat liburan ke Bangkok tahun lalu, aku sempat pengen ngamuk sama pramuwisata kami. Ceritanya di jalan tol Bangkok-Pattaya aku sudah kebelet pipis yang naujubillah hebatnya. Di tepi jalan kulihat banyak sekali rumah makan baik kecil maupun besar dan beberapa pom bensin, tapi si pemandu enggan meminta supirnya untuk berhenti,karena dia bilang masih ada toilet yang lebih bagus di depan sana, mungkin ini atas nama pelayanan yang baik. Kesal luar biasa, secara gue sebenernya gak peduli mau bagus apa gak, gak liat apa muka gue udah merah kayak udang goreng mentega??? Herannya dia masih mencoba bercanda yang menurutku saat itu garing abisss… Dan ternyata.. yang dia maksud “di depan” itu ternyata di ujung jalan told dan itu sudah nyaris masuk Pattaya yang berarti hampir dua jam dari awal aku minta berhenti untuk pipis. Nyebelin, kan ? Memang sih pelayanan dia sebagai pemandu cukup baik, tapi tetep aja buat gue nilainya 3, baca : TIGA dari skala 10! Gak ngerti ini kondisi darurat ? Ini jadi tips juga buat yang mau jalan-jalan, cari guide yang “mengerti” kondisi pelanggannya, genting dan penting apalagi menyangkut nyawa orang!
Oya, aku pikir “penyakit” ini hanya milikku sendiri. Ternyata atasanku yang sekarang (nama dirahasiakan) sebut saja namany Pak Jacky, mengalami hal serupa. Dari ceritanya mampir di hotel-hotel ternama di ibukota buat dinner eh..buat pipis sudah menjadi hal biasa. Ini level beser-er yang lebih tinggi nampaknya. Kalo gue pipisnya di WC umum, beliau di hotel, man!! Pernah satu kejadian aku dan beliau berniat meeting ke daerah Jakarta Pusat dari kantor kami yang berada di seputaran Jakarta Selatan. Tak disangka, ketika hampir sampai ke lokasi yang dituju, yang mau diajak meeting membatalkan rencana. Walhasil kami pun balik mundur. Tiba tiba di tengah jalan yang macet, beliau kebelet pipis. Hebatnya, mobil langsung diarahkan ke sebuah hotel berbintang 5 di seputaran Thamrin, dan pipislah kami disana. Oya, aku juga ikutan pipis, makanya jadi “kami”.
. So perjalanan kurang lebih 2 jam muter-muter tersebut hanya diselesaikan dengan acara pipis di hotel bintang 5.
Untuk menghindari rasa tidak nyaman baik bagi diri sendiri dan orang lain, aku akhirnya menerapkan beberapa aturan. Misalnya kalo cari kamar tidur sebisa mungkin di dekat kamar mandi . Alhamdulillah selama tinggal di mess kantor di Banda Aceh kamarku adalah yang aksesnya paling cepat ke tempat buang hajat ini. Kalau naik pesawat, sudah tidak jaman bagiku duduk di dekat jendela, harus duduk di koridor, agar tidak menggangu penumpang lain di sampingku jika harus bolak balik ke lavatory. Pernah sih satu kali kejadian “terpaksa” duduk deket jendela dan lebih naasnya lagi, aku sebangku sama dua orang big boss kantorku. Duh, malu banget dikit-dikit ijin dan mereka terpaksa harus berdiri demi melewatkan aku. Terakhir, agar kantong kemih tidak penuh, setiap mau pergi kewajiban pertama HARUS PIPIS dan jangan sering-sering minum, gak perlu nurutin anjuran minum minimal 3 liter sehari. ^_^
Selamat Tinggal!
Terlalui sudah 2 Juli 2007-15 April 2009.
Daripada melamun di pesawat, sementara tidur pun tak bisa, aku iseng buka notebook dan menengok kembali semua foto-foto selama hampir 2 tahun di tanah rencong yang mengingatkan semua peristiwa tak terlupakan selama disini. Ceritanya gak mau mellow, tapi tetap kejadian. Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Mencoba aku anggap biasa, toh aku yakin suatu saat, masih akan bertemu keluarga dan sahabat sahabat terbaikku disana, meskipun bukan berkumpul bersama di ruang paling ujung BRR Lueng Bata itu. Ruang sumpek , berisik, berantakan, listriknya suka turun naik, dengan aksesoris utama meja –nya Oi yang paling berantakan sedunia, namun penuh dengan jutaan kenangan yang gak bakal cukup ditampung dalam Hardisk Maxtour 1 Tera. Huh..
Tertular ide Apop di Facebook, aku coba menulisan kenangan-kenangan lucu dan unik yang semoga akan ter-memory hingga ujung dunia nanti..
Minggu terakhir di Banda Aceh. Empat hari tanggal merah dan tidak kemana-mana. Selain masih ada sedikit pekerjaan yang harus dituntaskan, tanggung juga kalo harus pergi-pergi. Kapan lagi menikmati saat saat terakhir di Banda Aceh apalagi di hari Pemilu yang hanya terjadi 5 tahun sekali. Sayangnya tahun ini aku terpaksa jadi Golput, karena tidak berhasil mendapatkan form A5 dari PPS asal di Bogor. Ah..sudahlah, toh sebenarnya tujuan ke TPS juga buat liat keramaiannya saja. Tanpa tahu mau milih siapa. Heheheh.. Seingatku, tahun lalu juga ada libur panjang seperti ini dan aku pun tidak kemana-mana. Namun saat itu masih ada Apop yang setia menemani mulai dari berenang di Hermes lalu menyempatkan mencoba Wifi gratis di Oasis Hotel. Tapi tahun ini aku sengaja tidak merencanakan apa-apa, apalagi sebagian besar teman-teman dekat sudah punya acara sendiri.. Hanya saja tadi siang sempat berputar di beberapa lokasi melihat dari dekat kesenyapan kota Banda Aceh. Sepi benar-benar sepi. Entah karena penduduknya menikmati libur panjang setelah mencontreng atau justru takut kemana-mana di hari pesta politik yang atanya….katanya loh..dikhawatirkan masih ada konflik.

sepinya simpang surabaya
Saat-saat begini, notebook adalah teman yang paling setia buatku. Bukan hanya untuk urusan kerjaan namun “kerjaan” lain, seperti buka facebook, main plurk, nge-blog atau hanya membuka folder foto-foto lama. Huhuhuhu….gara-gara itu, aku jadi sedih, jadi pengen nangis.. Mulai dari foto di ruangan kerja berantakan itu, foto di hotel berbintang, di lapangan, di warung kopi, seribu pantai, brastagi, danau toba hingga foto-foto meeting gak penting. Disadari atau tidak mereka semua sudah menjadi bagian hidupku selama nyaris dua tahun ini. Dan di penghujung minggu depan, semuanya menjadi hanya tinggal kenangan. Hikss… hikss..
Biasanya kalau libur paling tidak tiga hari aku sudah blingsatan pengen ke Jakarta. Tapi tidak di minggu ini. Bukan karena bulan kemarin keseringan ke Jakarta , tapi itu tadi. Ini moment-moment terakhir. Nantinya walaupun mungkin aku tetap akan sering ke kota tercinta ini, bisa jadi aura-nya sudah beda. Namun, Lueng Bata, Cek Yuke, sanger dingin, mie kepiting, nasi kuning cumi-cumi (loh..makanan semua), internet putus nyambung, lamgugop-neusu, Lmpuuk, taman seribu janji, ruangan sumpek itu, my best friend dan my lovely bunch akan selalu ada dalam satu kotak khusus di hatiku.

jambo tape yang lengang
Meski jenuh dan bosan dengan “kesendirian” selama empat hari ini, aku begitu menikmati semuanya.
I miss you…
Selain ngopi ngopi di pinggir kali, satu hal lagi yang paling aku sukai di kota ini. Apalagi kalau bukan Naik Becak. Jangan salah, becak yang dimaksud disini adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor ya, bukan yang tenaganya
tergantung dari genjotan si mamang. Kalo dihitung rata-rata, dalam satu minggu mungkin ada lima kali aku numpang di kendaraan ini. Kadang-kadang kalo kangen naik becak, aku sengaja tidak ikut jemputan kantor. Rasanya seneng aja berada disamping si abang becak dengan dengan semilir angin yang suwir suwir menyapu wajah di pagi hari. Jangan lupa pasar earphone dari HP untuk mendengarkan lagu lagu cengeng. Rasanya indah banget. Waktu 15 menit, jarak kantor dan rumah seolah-olah jadi moment penuh kenikmatan yang tiada tanding.
Dulu aku waktu masih tinggal di mess yang lama, yang cukup jauh dari pusat kota, aku punya becak langganan. Namanya Bang Imron. Becaknya keren, dengan motor Honda Tiger keluaran terbaru yang semua body-nya dicat biru tua sehingga menimbulkan kesan macho. Si abang-nya pun sangat ramah. Meski hampir semua keluarganya sudah hilang sebagai korban tsunami, garis-garis kesedihan di wajahnya seperti sudah tergantikan dengan semangat juang melayani penumpang (baca: customer) sebaik-baiknya. Bang Imron yang lumayan ganteng ini pun siap dipanggil ke rumah kapan pun. Tinggal sms, tunggu tidak lebih dari 15 menit, ia sudah siap mengantar kemanapun kita mau. Ke pasar, ke kantor bahkan pernah sampai ke Pelabuhan Laut yang lumayan jauh untuk menumpang becak, si abang siap sedia. Itu pun sebelumnya masih pake acara jemput jemput teman dulu. Jatah penumpang yang sebenernya hanya berdua bisa jadi bertiga bahkan berempat yang jadi berlima sama abangnya. Ketika Mama kesini setahun yang lalu, Bang Imron pulalah yang mengantar kemana-mana. Mengingat aku sendiri tidak punya banyak waktu untuk menemani Mama kemana-mana. Hebatnya lagi, ia sama sekali tidak pernah mematok tarif. Padahal naik becak di Aceh terkenal mahal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang juga menggunakan kendaraan umum jenis ini. Di Medan misalnya, dengan jarak tempuh yang sama bisa lebih murah hingga 60% dibandingkan di Aceh. Karena pelayanan Bang Imron yang memuaskan ini, aku tidak segan-segan merekomendasikan jasanya ke teman-teman. Hasilnya, semua bermerasa senang atas service yang diberikan si abang.
Sst…tapi bukan dengan abang becaknya loh. Siapa nyana, di tengah jalan hujan turun dengan sangat deras. Mau tidak mau harus mampir berteduh, kasian si abng basah kuyup dan aku pun mulai kecipratan air. Walau basah, moment berlindung sesaat di tukang sayur di pinggir jalan menjadikan aku semakin menghayati makna bersyukur. Indah saja.
Sekarang aku jadi sering membayangkan kalau kendaraan ini ad adi Jakarta atau Bogor. Tentu tidak dengan kondisi macet yang bikin orang makin tua di jalan. Naik becak di Sudirman ?. Tapi bisa jadi, Sudirman toh cukup teduh, asyik kalo bisa naik becak di sini. Hemm.. waktu yang paling oke mungkin sekitar jam empat sore, menjelang orang pulang kantor sambil ber-say hai jika berpapasan dengan seorang teman. Wow !!! Mimpi kali yeee. Ah… irama kota besar memang selalu mengurangi makna kekerabatan…
Apa yang lebih menyedihkan bagi para blogger selain miskin ide buat nulis? Dan itu yang mendadak aku alami nyaris dua bulan ini. Entah apa sebabnya, mungkin karena kerjaan yang emang lagi numpuk kayak piring kotor atau lagi gak ada orang yang dulu hampir tiap hari ngasih ide buat nulis ini, itu..( Halah.. Itu mungkin bagian gak penting) Miskin ide sama dengan miskin kreativitas. Otaknya mampet, buntu, kesumbat. Padahal otak kalo tidak bekerja sama dengan mati raga. Suatu malam, setelah bolak balik ngeliatin kerjaan di tabel excel dan sambil menunggu jemputan temen untuk nonton Kambing Jantan The Movie, aku coba blogwalking alias menjenguk beberapa blog temen. Ternyata seru juga, banyak yang gak pernah miskin ide. Setiap titik yang dilalui tiap hari ternyata bisa jadi bahan tulisan. Dari urusan bangun pagi, jalanan ke kantor, kentut, ngupil semua bisa diulas. Hebat. Lah..terus ada apa dengan gue yang akhir-akhir ini “kering” banget ? Ada sih beberapa ide curhat yellow mellow. Tapi udah gak jaman lagi untuk menulis hal-hal sentimental seperti itu disini.
Gak kurang akal, aku membuka HP, ngutak ngatik SMS. Mungkin aja bisa ketemu si ide itu. Tetep nihil. Secara seminggu lalu baru saja ada acara penghapusan sms secara besar-besaran dari HPku. Hmmm..ngapain ya ? Melamun kali ya.. Oke, aku coba. Tanpa memegang keyboard kupandangi layar notebook 12” ini. Tetep aja besarnya segitu gak melar atau mengkerut jadi VaiO mini. Huh..Masih gaya cybermania. Buka Facebook, kadang-kadang ada aja comment nyeleneh atau note temen-temen yang kuprediksi bisa memunculkan si ide itu. Hasilnya, tetep nol besar. Ada juga yang muncul ide buat upload foto-foto baru yang temanya Welcome to the narcisme of me. Sebagai penulis kelas curhatan aku merasa sekali, saat emosi cenderung stabil saat ini malah jadi gak punya ide. Huhuhu… Kalau pun ada ya…mungkin masih kalangan terbatas saja yang bisa baca. Jadi memang belum layak dipublikasikan disini.
Ah,.sudahlah, buka aja langsung halaman blog-nya. Ketik huruf yang bisa diketik. Toh katanya penulis penulis besar juga liat sepeda ontel aja bisa timbul ide bikin buku sampe 10 jilid yang setebal bantal. Masa aku yang liat BMW (punya orang) tiap hari gak bisa nyari ide, kecuali ide ngejahilin orang. Malam ini akhirnya setelah nyaris bulan gak sempet sempet , akhirnya bisa menikmati satu novel cemen. Lagi lagi kepikir di otak gue, gila ya..beginian aja bisa jadi ide nulis, gue yang merasa punya pengalaman lebih “kaya” , punya temen banyak dengan tabiat dari gak normal, setengah normal sampe bener-bener normal, gue yang ngerasa hidup gue tuh colorful banget, harusnya punya jutaan ide buat ditulis. Lalu masalahnya apa dong? Setelah gue telusuri selain yang pertama tadi (gak ada lagi yang suka ngasih inspirasi), emang kurang bakat juga mungkin dan yang ketiga yang paling penting alasannya karena gue malas. Malas, saudara-saudara!! Itu bahaya laten yang lebih gawat dari PKI. Gara-gara malas itu, jujur- kadang-kadang aku suka sedikit menyesal, merasa punya waktu yang masih terbuang sia-sia. Kalo lagi punya ide kreatip dikit baik untuk nulis ato buat yang lain, kadang-kadang teredam oleh rasa malas, leyeh-leyeh, ngelamun sambil ngetik ngetik plurk dan facebook mobile lebih jadi pilihan. Berjuang mengalahkan malas ternyata bukan hal mudah. Tekad saja tidak cukup, harus dijalanin. Aku berharap banget, satu bulan terakhir sebelum Insya Allah, meninggalkan Aceh for good, ini aku bisa mengalahkan rasa malas itu dan menghasilkan sesuatu yang pernah aku inginkan. Amienn..
Udah ah..males juga ngelanjutin nulis ini, mending tidur…capek. Kapan-kapan aja disambung lagi.
Tidak terasa akhirnya aku harus meninggalkan Aceh yang sudah menjadi bagian dari hidupku selama hampir dua tahun ini. Tapi aku yakin tidak hanya untuk dua tahun itu, namun sepanjang tahun dalam hidupku, Aceh akan selalu jadi bagian yang tidak pernah mati.
Dalam sebuah perjalanan yang membosankan, aku membuka kembali sebuah video tsunami kutipan dari berbagai media. Sedih, miris bercampur jadi satu. Gempa dan ombak besar yang meluluhlantakkan Aceh itu laksana kiamat yang membunuh 169 ribu jiwa dan nyaris menghancurkan semua yang ad adi sekitarnya. Pada 26 Desember 2004 lalu, ketika pertama kulihat berita bencana ini di TV, sama sekali, tidak terbayangkan jika 2,5 tahun berikutnya aku akan menjadi bagian dari sebuah sejarah bencana terbesar dunia abad ini.
Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika picisan di dalamnya kuyakinkan tidak akan pernah lepas dari ingatanku sampai dunia ini tutup usia. Ada ribuan kenangan terpatri, bahagia, sedih, duka, suka dan setumpuk makna hidup aku dapatkan disini. Terima kasih untuk semua yang sudah menjadikanku satu bagian penting dari sebuah prasasti sejarah.
Sejuta cinta dan semua yang terbaik untuk Aceh ..
On a flight to Jakarta, 3 Maret 2009 08.55 PM
“udah kubuang, dasar orang aneh.. bedangkik. Norak. Gak Jelas, Cuma cari2 masalah aja kerjanya,seakan2 biar hidupnya lebih berwarna, tapi nyatanya orang jadi keganggu..”
Sent by : 08131585xxxx
Received 08:58:54
16-02-2009
Seumur-umur gak pernah telat naek pesawat. Aku selalu inget kalo pesawat itu bukan angkot yang apapun kejadiannya tetep nunggu penuh baru jalan. Biasanya kalo ada teman yang ketinggalan pesawat, aku pasti dengan sukses tertawa tawa penuh kemenangan. Tapi pagi tadi kejadiannya jadi ke aku.Untuk rute rutin Jakarta-Banda Aceh via Medan.
Pukul 3 pagi teng..alarm HP dengan ringtone Senam Kesegaran Jasmani itu membangunkan aku. Bukannya segera beringsut mandi atau paling gak cuci cuci muka (ritual biasa kalo berangkat pagi), aku malah narik selimut. Gerimis mengundang yang mengguyur Bogor sejak semalamnya membuatku lupa, kalo aku gak kenal sama pilot pesawat yang bakal kutumpangi di pukul 5.30-nya (jadinya gak bisa minta tungguin). Tepat 3.30 baru beranjak dari rumah dan tepat pukul 4.00 Damri meninggalkan Bogor menuju Bandara. Jalan menuju bandara hujan deras, so bis yang dingin itu pelan banget lajunya. Saat normal di jam jam dimana maling baru pulang beroperasi begitu, gak rata-rata 45 menit sudah sampai bandara. Tapi tadi.. nyaris 1 .30 menit!
Udah deg-deg-an di counter check-in, pake cara nyerobot antrian pula. Yang dikhawatirkan terjadi : CLOSED! Aku memohon-mohon dan si mas penjaga counter yang lumayan manis itu luluh.. Dia kontak ke dalem, aku nunggu sekitar 5 menit. Tapi hasilnya mengecewakan. Tetep gak bisa ikutan! Bete, Kesel dan mo marah rasanya. Akhirnya dicadangkan untuk penerbangan berikutnya di 09.20 pagi. Itu pun posisinya masih waiting list. Dan kalau pun dapet harus nombok Rp 580 ribu. Wadohhhhhhhhh, bayar sendiri? ? Gak mau dong secara ke Jakarta juga disuruh kantor. Aku coba telpon beberapa temen kantor untuk mastiin kalo bisa reimburst. Good news, bisa katanya meski harus diakalin
. Untuk flight yang jam 1 siang udah confirm. Tapi mikir-mikir kelamaan banget yah..ngapain gue nongkrong selama itu di bandara. Jadi Porter ? Halah.. Tanya tiket untuk keesokan harinya statusnya sama aja.
Akhirnya dengan H2C dan berdoa yang diiringi ngomel-ngomel aku berharap tetap dapat di pukul 09.20. Untungnya ketemu Jolie yang lagi jemput si Ibuk Tia di Terminal 1B. Ngerumpilah disana. Sempet tergoda juga untuk back to Jakarta, trus jalan jalan ke PIM ngikutin rencana mereka. Tapi kalo inget kerjaan yang numpuk dan dedikasi gak penting sebagai seorang karyawan teladan (ciee…) aku batalkan. Tepat 08.40 aku balik ke counter, dan Alhamdulillah dapet!!! Hebatnya lagi..gak perlu bayar 580 ribu tadi! Thanks to si Om yang udah bantuin.
Semua kejadian emang ada hikmahnya,..ketika tiba di Medan, aku dapet kabar kalo pesawat yang gagal aku tumpangi itu telat sampe ke Medan karena cuaca buruk dan terpaksa mendarat di Pekanbaru. Ya..kalo itung-itungan waktu ternyata kurang lebih sama aja.. J
Anyway..kenapa sih harus milih flight yang paling pagi ? Ini gara gara “kewajiban”nonton Tia dan Jolie di missing lyrics pas pukul 13.30. Dengan asumsi kalo berangkat yang jam 9.20 sampe di Aceh mepet, padahal tiket aslinya memang yang 9.20 itu. Dodol kan ? udah bela-belain dipindahin ke 5.30 eh…ketinggalan dan balik lagi ke 9.20! Itu plus acara drama gak penting!!
Setelah “kenal” dan beberapa kali berbincang dengan perempuan itu aku merasakan seolah menemukan diriku sendiri.
Cara bicaranya yang meledak ledak
Caranya mengungkapkan emosi
Caranya menyimpulkan sesuatu
Caranya memandang masalahnya
Caranya bercerita yang ceplas ceplos
Gayanya yang berusaha sok tegar menghadapi semuanya
dan semua yang terungkap dari lisannya..
yang akhirnya membuatku bertanya..
benarkah laki-laki itu tertarik pada satu typical perempuan yang sama ?