<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>balancing corner..</title>
	<atom:link href="http://www.vikaoctavia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.vikaoctavia.com</link>
	<description>a place I called home...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 12:51:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>I am so sentimentil&#8230; ^_^</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/05/i-am-so-sentimentil-_/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/05/i-am-so-sentimentil-_/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 12:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1418</guid>
		<description><![CDATA[Saya mungkin termasuk orang yang agak susah move on. Eits, ntar…jangan berasosiasi lain dulu… Ini bukan menyangkut sebuah hubungan yang berakhir atau sejenisnya. Tapi tentang “hobi” saya menyimpan barang-barang yang menurut saya bersejarah dan mengandung nilai-nilai tertentu dalam perjalanan hidup sayah.  Ttsssahhh… berat bener bahasanya. Liburan ini saya membongkar semua koleksi pakaian, sebenernya ini hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Saya mungkin termasuk orang yang agak susah move on. Eits, ntar…jangan berasosiasi lain dulu… Ini bukan menyangkut sebuah hubungan yang berakhir atau sejenisnya. Tapi tentang “hobi” saya menyimpan barang-barang yang menurut saya bersejarah dan mengandung nilai-nilai tertentu dalam perjalanan hidup sayah.  Ttsssahhh… berat bener bahasanya.</h3>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/05/Tantra_Women-Sentimental-Inside_b.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1419" title="source : http://inlove-withmylife.blogspot.com" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/05/Tantra_Women-Sentimental-Inside_b.jpg" alt="" width="334" height="307" /></a>Liburan ini saya membongkar semua koleksi pakaian, sebenernya ini hal biasa. Kalau lemari sudah kepenuhan, pasti beberapa baju yang masih layak saya hadiahkan ke saudara-saudara ataupun orang-orang yang memerlukan. Anehnya ada beberapa baju yang sudah jelas-jelas tidak bakal dipakai lagi (umumnya karena udah ketinggalan mode), masih aja nangkring dengan manis di lemari.  Kenapa? Karena baju-baju itu ada jin-nya ..eh, ada sejarahnya. Saya masih menyimpan baju hari kerja pertama saya di Aceh, baju kuno hadiah dari teman yang jelas jelas udah gak muat, baju jadul jahitan mama, kaos merah hadiah terakhir (alm) papa, baju yang pernah saya pakai “kencan” gak penting dengan seseorang dari masa lalu banget. Hahaha..  Sepatu juga begitu. Saya mencintai sepatu, seneng beli sepatu tapi gak punya koleksi yang banyak, soalnya sepatu yang saya suka sering mahal (dan gw belum mampu beli).   Saya masih menyimpan sepasang sepatu SMP cuma karena alasan sentimentil, itu hadiah Papa untuk kenaikan kelas. Jadul abis.</p>
<p>Tidak cuma sandang. Saya masih menyimpan kartu-kartu ucapan selamat ulang tahun teman lama yang kini belum tentu saya tahu keberadaannya.  Kartu ucapan perpisahan  kantor bahkan sebundel surat-surat cinta pertama (yang akhirnya saya putuskan untuk dimusnahkan setelah saya simpan hampir 10 tahun)! Saya juga masih menyimpan buku harian saya sejak kelas 3 SD sampai akhirnya saya lebih senang menulis di internet dibanding di buku. Bahkan… saya sempat menyimpan beberapa bukti transfer atau pengiriman barang struk belanjaan karena mengingat “sesuatu” di balik semua itu.  Kalo pernak pernik sih udah gak keitung deh harta karun saya. Dipake gak, dikasih ke orang juga gak.. Disimpen doang buat dipandang-pandangin sambil menerawang sejarah dibalik barang-barang itu. *<strong>orang gila… orang gila…</strong></p>
<p>Kalau soal file digital, jangan ditanya deh.. Selain foto dan sejenisnya, saya juga rajin memback-up segala macem isi gadget. Saya menyimpan sms-sms yang berkesan, mengaktifkan archive percakapan YM, BBM dan sejenisnya dan membacanya kembali disaat-saat lowong. Kadang emang bener-bener gak penting, tapi hal-hal seperti ini sering bikin senyum senyum sendiri. Aneh kan gw?</p>
<p>Gimana dengan lagu? Samaa ajaaaa.. malah setiap peristiwa dalam hidup saya ini, ada lagunya! Hebring banget kan? Lagi sama si A, lagu anu, waktu sama si B lagu ini, bla.. bla.. Wakakakakka..</p>
<p>Sebenernya tidak ada tujuan apa-apa selain sisi sentimentil saya aja yang kelewatan.  Saya pernah baca satu artikel di internet, katanya ini masuk  salah satu“penyakit” dalam ilmu psikologis. Tapi saya masih dalam taraf yang normal soalnya yang disimpen memang sesuatu yang “berarti”. Di level yag lebih tinggi, ada “penderita” yang doyan menyimpan bahkan barang barang bekas seperti botol sampo, bungkus sabun atau rongsokan yang secara logika, sulit dimengerti dimana nilai historisnya. Hiii.. untunglah gw belum sampe segitunya..  Malahan sekarang, banyak hal yang kira-kira berdampak gak baik untuk psikologis, saya buang.  Hehehe..</p>
<blockquote>
<h3>Manusia selalu punya kenangan akan masa lalu, baik dan buruk. Tapi tidak semua kenangan itu harus dikenang, kan? Memori otak manusia kan lebih hebat dari komputer, tidak ada bekasnya pun masih bisa tetap terlacak meskipun tanpa media-media pengingat seperti diatas. <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </h3>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/05/i-am-so-sentimentil-_/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahlan Iskan dan Adversity Quotient</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/dahlan-iskan-dan-adversity-quotient/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/dahlan-iskan-dan-adversity-quotient/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 06:52:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1389</guid>
		<description><![CDATA[Sosok bapak yang satu ini, rame diperbincangkan  media massa setahun terakhir. Mulai dari sepak terjangnya ketika masih menjadi Dirut PLN lebih lebih lagi  sekarang ,saat ia menjabat Menteri BUMN. Pemimpin Koboy menjadi julukannya. Saya sendiri sih, sebenernya udah cukup lama tahu Bapak ini sejak saya bekerja di Majalah SWA yang sering menjadikan beliau sebagai contoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/tumblr_lm34tjSIIr1qkfop0o1_500.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1390" title="from : http://funsociety.tumblr.com/post/6053886550/life-is-a-beautiful-struggle" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/tumblr_lm34tjSIIr1qkfop0o1_500.jpg" alt="" width="280" height="210" /></a>Sosok bapak yang satu ini, rame diperbincangkan  media massa setahun terakhir. Mulai dari sepak terjangnya ketika masih menjadi Dirut PLN lebih lebih lagi  sekarang ,saat ia menjabat Menteri BUMN. Pemimpin Koboy menjadi julukannya. Saya sendiri sih, sebenernya udah cukup lama tahu Bapak ini sejak saya bekerja di Majalah SWA yang sering menjadikan beliau sebagai contoh sukses pengusaha media. Bagi yang belum tahu, Dahlan Iskan adalah pemilik Jawa Pos Grup salah satu konglomerasi media di tanah air. Tahun 2011 “tanpa sengaja” saya jadi ikut mengamati sepak terjang beliau karena “bantuin” ide karya ilmiah seseorang menyangkut BUMN. <strong>Hadeuhhh…</strong> Dari sini, saya mulai membaca hal-hal terkait BUMN dan beberapa buku yang ditulis sendiri oleh Dahlan Iskan. Buku beliau yang paling berkesan buat saya adalah Ganti Hati (2008) yang menceritakan pengalamannya menjalani proses Transplantasi yang juga mengandung cerita otobiografi beliau. Bahasa bukunya sih kata gw, rada acak-acakan, harus banyak melalui proses editing agar kalimatnya lebih sempurna. Eh, tapi justru itu yang jadi kekuatan buku ini. Bahasanya yang “asal” itu membuat isi buku ini jadi lebih “nancep” di  kepala pembacanya.</p>
<p>Nah, apa hubungannya dengan Adversity Quotient (AQ)? Oh, ya AQ ini jenis kecerdasan “baru”  (eh gak baru baru amat sih…) setelah IQ, EQ, SQ dan ESQ atau mungkin aja masih ada Q-Q yang lain. Hehehehe. Definisi Q-Q itu cari sendiri aja di mbah google ya.. Gw mo cerita soal AQ aja.  AQ pada dasarnya adalah kekuatan mental seseorang untuk berjuang menghadapi semua tantangan dalam hidupnya. AQ dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang untuk terus bertahan dalam suatu “perjuangan” sampai pada akhirnya ia dapat keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun.</p>
<h3>Dengan kata lain AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan. So, AQ itu bukan bawaan lahir tapi didapat dari tempaan dan pengalaman hidup. Ada proses yang tidak sebentar untuk melihat AQ seseorang.</h3>
<p><span id="more-1389"></span></p>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/13295531758964_Ganti-Hati.jpg"><img class=" wp-image-1391 alignright" title="13295531758964_Ganti-Hati" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/13295531758964_Ganti-Hati-817x1024.jpg" alt="" width="343" height="430" /></a>Diceritakan pada buku Ganti Hati, Pak DI lahir dari keluarga yang serba kekurangan, ibunya meninggal dalam usia muda, mereka jarang makan nasi bahkan sepatu pertama yang dimiliki oleh Pak DI adalah sepatu bekas yang bolong di depannya. Itu pun “berhasil” ia miliki saat usianya beranjak remaja. Sedih ya, kalo dipikir-pikir.. Tapi Pak DI selalu menegaskan: “jangan berpikir orang miskin itu tidak bahagia,loh… Mereka bisa bahagia dengan kondisi yang menurut kita yang “berpunya” ini sangat miris. <em>Again, Happiness is relative!!</em></p>
<p>Soal sepak terjangnya, gw rasa sudah terlalu banyak diliput media.  Saya mencontohkan satu yang sederhana, beberapa waktu lalu, Pak DI me-launching kartu tol dan doi sendiri yang langsung turun jualan ke gerbang tol. Menurut gw, ini ide sederhana yang cerdas. Dia cuma meluangkan waktu sejam, dua jam buat mejeng di gerbang tol, tapi gema produk -yang bekerja sama dengan sebuah bank BUMN itu &#8211; diliput secara besar-besaran oleh media tanah air secara serentak. Investasinya “hanya” waktu beliau, tapi hasilnya, iklan gratis dimana-mana. Coba, kalo dirancang dengan strategi komunikasi khusus, paling cepet tiga bulan tim marketing mikirin gimana caranya plus biaya promosi yang gak sedikit. He’s simple and smart!</p>
<p>Padahal Pak DI ini gak sekolah tinggi-tinggi yang gelarnya berderet-deret. Yang bikin doi cerdas? Ya itu, AQ-nya tinggi karena pernah begitu <em>struggle</em> dalam hidupnya. Perjuangan beliau untuk hidup bukan yang penuh fasilitas dan kemudahan. Otaknya “dipaksa” biar terus bekerja untuk <em>survive</em> yang merembet terus ke kecerdasan secara umum.  Hmmmm.</p>
<p>Pak DI  hanya satu contoh aja. Banyak banget tokoh-tokoh terkenal baik dari pengusaha, artis, politisi yang menjadi luar biasa karena pergumulan berat dalam hidupnya.  Andrea Hirata dan Laskar Pelangi yang sejak kecil sudah  konsisten bercita cita kuliah di Sorbonne, Perancis atau kegigihan Iwan Setyawan penulis Nine Summer Ten Autumns yang cuma punya satu cita cita yaitu punya kamar tidur pribadi hingga ia mencapai posisi Direktur di sebuah perusahaan kelas dunia di New York. Saya yakin banyak lagi orang-orang besar negeri ini yang sama hebatnya dengan “para dewa” tersebut. Mereka pasti ber-AQ yang tinggi.</p>
<h3>Namun sayangnya, sejauh ini yang gw amati, kok mereka-mereka yang “sukses” itu kebanyakan adalah mereka yang bangkit karena keterpurukan ekonomi.  Jaman memang sudah berubah, ekonomi masyarakat secara umum makin membaik tapi dampaknya banyak generasi yang “dimanja” oleh fasilitas dan kemudahan.  Memang ada “perjuangan” dalam bentuk lain, secara katanya hidup  adalah perjuangan.. Tapi kok, gw masih lebih percaya orang-orang yang sukses secara fisik dan mental itu adalah mereka yang asal muasalnya miskin secara finansial.  Hipotesis ini masih bisa didebat sih. Hayooo, yang ngerasa anak orang berduit bisa jadi protes nih.. Hihihi..</h3>
<p>But eniwei, apapun bentuknya semua harus disyukurin. Kalo sekarang kita miskin, jangan sampai anak cucu kita nanti miskin juga. Mari belajar tentang perjuangan hidup dari  orang-orang besar seperti Pak DI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/dahlan-iskan-dan-adversity-quotient/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>resep bahagia</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/1374/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/1374/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 17:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1374</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia itu relatif. Bahagia gak selamanya tergantung duit, tapi katanya duit itu sarana pembahagia paling besar (katanya&#8230;.). Cara orang buat bahagia pun beda-beda. Temen gw, bahagia kalau dua kali  sehari bisa naik ke rooftop lantai paling atas kantor buat merokok di sela jam kerja yang padat.  Katanya, hal itu kebahagiaan karena “sukses” meracuni diri sendiri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/be_happy_01.gif"><img class=" wp-image-1375 alignright" title="http://www.orkutnow.com/scraps.php?f=be.happy" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/be_happy_01.gif" alt="" width="302" height="246" /></a>Bahagia itu relatif. Bahagia gak selamanya tergantung duit, tapi katanya duit itu sarana pembahagia paling besar (katanya&#8230;.). Cara orang buat bahagia pun beda-beda.</h3>
<p>Temen gw, bahagia kalau dua kali  sehari bisa naik ke rooftop lantai paling atas kantor buat merokok di sela jam kerja yang padat.  Katanya, hal itu kebahagiaan karena “sukses” meracuni diri sendiri. Aneh. Temen yang lain (termasuk gw) bahagia kalo seminggu sekali bisa latihan vocal alias karaoke. Adik gw keliatannya bahagia kalo malem-malem kebangun kelaperan trus bikin indomie. Anak-anak deket rumah gw, kayaknya bahagia banget kalo malem minggu nge-trak kebut-kebutan di fly over deket rumah (gw doain celaka, abis nyebelinn,..upss). Temen gw yang lain doyan banget ama yang gratisan ampe malu-maluin. Tapi mungkin dia bahagia karena itu, gw harus ngerti.  Cowok yang merasa “kegantengan” pasti bahagia kalo bisa tepe-tepe alias tebar pesona dimana-mana. Seniornya bisa jadi bahagia kalo berhasil punya istri lebih dari satu. *Curcol banget.</p>
<p>Gw sendiri juga memandang bahagia itu relatif dan tergantung waktu. Apalagi perempuan yang emosinya lebih labil menjelang datang bulan. Itu serius bikin gak bahagia. Cuma ada pepatah: <em>you choose your own happiness</em>. Gue setuju, meskipun itu gak mudah, secara kita hidup dengan banyak orang yang saling mempengaruhi. But eniwei sekarang gw suka merumuskan apa-apa yang membuat gw bahagia. So, kalo kira-kira tiba-tiba ada hal yang membuat gw jatuh, gw langsung menjalankan “strategi” ini buat bahagia lagi. Ini diaaa&#8230; :</p>
<p><span id="more-1374"></span></p>
<ul>
<li>Jadi diri sendiri.  Gw suka sebel sama beberapa temen yang lagi punya masalah tapi menutupinya dengan mengkamuflasekan masalah orang. Jadi orang yang mungkin punya masalah mirip-mirip dia, dibawa bawa terus untuk jadi contoh buat nutupin kejadian ama diri dia sendiri. Jadi keluarannya dia sok wise dan bijak. Ih, males banget..</li>
<li>Curhat Curhat dan Curhat. Semua orang pasti butuh sharing. Memendam sendiri masalah itu gak bakal nyelesain masalah, nambah penyakit iya. Manusia itu mahluk sosial yang butuh berbagi. Berbagi gak mesti kita dapet solusi, lo.. Tapi itupun sudah cukup melegakan. Gw suka sebel (lagi) sama temen yang ‘sok kuat, sok sabar dan sok tabah’ kalo punya masalah. Beda lo, dengan kuat, sabar dan tabah betulan. Kadang yang begini kebanyakan “jaim” dan gak mau keliatan lemah.</li>
</ul>
<h3><em><span style="color: #000080;">Padahal manusia itu tempatnya salah dan lemah. Sebelum kita jadi bener-bener kuat, sabar dan ikhlas pasti ada proses galaunya dulu. Hati, perasaan itu kan bukan mesin yang punya tombol sabar dan ikhlas yang kalau dipencet seketika juga nerima.  </span></em></h3>
<p>Tapi tetep kita harus liat temen curhatnya siapa, jangan sampe lo curhat sama call center kartu selular ato satpam di komplek. Tetep harus orang yang dekat, tahu diri kita dengan mendalam dan terpecaya.  Jangan lupa juga harus liat waktu dan tempat ya..</p>
<ul>
<li>Naik kendaraan umum. Yess!! Buat yang keseringan naik kendaraan pribadi, coba deh kalo pas galau naik bis kota yang padat. Kenapa? Karena di kendaraan umum itu banyak contoh yang mewakili kelas-kelas kehidupan masyarakat. Gak selalu yang miskin yang naik bis kok. Banyak hal yang bisa dipelajari dan itu bisa bikin kita bersyukur.  Masalah kita gak berat-berat amat kok..kalo liat “perjuangan” orang-orang di sekitar kita. <a href="http://www.vikaoctavia.com/2012/01/renungan-perjalanan/">Baca tulisan ini deh..</a>.</li>
<li>Banyak sedekah.  Gak bakal jadi miskin kalo berbagi. Ngasih duit seribu dua ribu untuk petugas sampah di rumah, beli dagangan pedagang keliling yang tak seberapa, ngasih duit lebih buat ojek langganan yang abis sakit atau ngasih sedikit sembako untuk tukang sol sepatu yang suka lewat depan rumah. Liat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka, indah banget..;</li>
<li>Banyak senyum. Terus terang gw pribadi template-nya jutek, tapi gw percaya senyum itu juga sedekah. Setiap pagi gak susah menyapa satpam dan OB kantor sekedar menanyakan kabar mereka pagi itu. Senyum sama orang-orang yang berpapasan dengan kita di kereta, stasiun atau pasar. Senyum sama siapapun yang kita temui ditempat umum dengan wajar. Gak rugi, asal jangan senyum senyum sendiri ntar dikira gila;</li>
<li>Berhenti menganalisis masalah. Hidup ini memang penuh dengan kata “mengapa oh mengapa”, why oh why. Gak mudah emang, karena banyak sekali”mengapa” yang gak bisa dijawab seketika seperti soal matematika. Banyak yang baru bisa dijawab dengan proses seperti evolusi Darwin. Lebih gak mudah lagi karena emosi up and down, tapi kalo dikomitmenkan ke diri sendiri, paling gak kerjaan “menganalisis” ini gak sering sering muncul dikepala kita. Analisisnya gak perlu sering-sering kecuali buat introspeksi diri;</li>
<li>Tidur cukup di malam hari dengan baju tidur yang bersih, seprei yang enak dan free your mind dari semua urusan. Banyak yang bilang susah tidur kalo lagi gak bahagia (baca: banyak masalah). Tapi pelan pelan dengan memfokuskan pikiran ke hak tubuh dan otak untuk beristirahat, pasti bisa. Pikirkan kalau besok banyak tugas yang menanti yang membutuhkan stamina sempurna. Kalau setelah bangun, kepikiran masalahnya lagi, itu beda perkara, yang terpenting tubuh sudah mendapatkan haknya buat istirahat.</li>
<li>Banyak berdoa (sholat buat yang muslim). Klise ya.. Dari beberapa buku yang gw baca doa itu punya kekuatan metafisika (artinya tidak gaib) untuk membuat kita bahagia. Memang doa itu keyakinan, tapi keyakinan itu gak muncul 100% mendadak, semua pake proses. Seperti emosi, kondisi keimanan juga naik turun dan gak ada tombol on off-nya. Tapi dalam kondisi iman lagi turun pun, berdoa saja.  Karena yang diliat dari doa itu intensitasnya dulu baru keyakinan yang akan datang dengan sendirinya saat intensitas doa semakin kerap.</li>
</ul>
<p>Oh, ya.. ada satu lagi, ini parah banget sih … Soalnya akhir-akhir ini yang membuat gw bahagia adalah kalo bisa pake baju baru tiap hari dan punya gadget keren. Parah karena bisa membuat bangkrut yang akhirnya jadi bikin gak bahagia. Hihihi..</p>
<p>Kira kira gitu, ya tulisan ini sebenernya buat ingetin diri gw sendiri dan sekedar berbagi. Gak berarti gw udah khatam dan sukses dengan resep-resep di atas.. Insya Allah..</p>
<h3><em>God always makes happy endings, if its not happy&#8230;its not the end..</em></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/1374/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>aceh, gempa dan mitigasi</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/aceh-gempa-dan-mitigasi/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/aceh-gempa-dan-mitigasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 14:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1361</guid>
		<description><![CDATA[Haaa? Aceh gempa lagi? Terkaget kaget sore itu aku membaca sms BMKG  tentang peringatan dini tsunami di Aceh dan beberapa wilayah Sumatera dengan kekuatan sekitar 8,9 SR. Oh My God.  Hal pertama yang aku lakukan menghubungi teman-temanku disana. Seperti diduga, tiba-tiba semua koneksi terganggu.  Tapi tidak lama satu orang teman berhasil dihubungi dan mereka sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-aceh.jpeg"><img class="alignright  wp-image-1364" title="sumber: http://berita.plasa.msn.com" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-aceh.jpeg" alt="" width="335" height="218" /></a>Haaa? Aceh gempa lagi? Terkaget kaget sore itu aku membaca sms BMKG  tentang peringatan dini tsunami di Aceh dan beberapa wilayah Sumatera dengan kekuatan sekitar 8,9 SR. Oh My God.  Hal pertama yang aku lakukan menghubungi teman-temanku disana. Seperti diduga, tiba-tiba semua koneksi terganggu.  Tapi tidak lama satu orang teman berhasil dihubungi dan mereka sedang dalam proses evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alhamdulillah. <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setelah mencari informasi , akhirnya baru ketauan jenis gempanya sedikit berbeda dibandingkan gempa akhir 2004 lalu, karena itulah kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu parah. Walaupun demikian tetep aja membuat sebagian besar masyarakat Aceh was was karena sirene tsunami warning sudah menggema di seluruh penjuru kota Banda Aceh.</p>
<p>Membaca hasil liputan berbagai media, sepertinya tidak berlebihan jika gempa kemarin direspon masyarakat dengan lebih tenang dan tidak panik. Mereka sudah tau harus melakukan evakuasi kemana, Koordinasi berjalan cukup baik dan informasi selalu ter<em>-update</em> dengan cukup cepat dan akurat. Ini bukan pendapat media saja, ngobrol dengan teman-teman disana pun tanggapannya kurang lebih  begitu. Ya, meski belum 100% sempurna sih, tapi paling gak pengalaman disertai <em>lesson learn</em> selama tujuh tahun terakhir ini jadi hal yang sangat penting bagi <em>knowledge</em> mitigasi bencana penduduk Aceh atau Kota Banda Aceh pada khususnya.</p>
<p><span id="more-1361"></span></p>
<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/gambar1.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1362" title="gambar1" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/gambar1.jpg" alt="" width="358" height="269" /></a>Tepat setahun lalu, saya melakukan<a href="http://www.vikaoctavia.com/2011/09/my-thesis-abstract/"> satu riset untuk merampungkan program master</a> saya di bidang manajemen sistem informasi. Kebetulan topiknya nyambung banget sama mitigasi bencana dan lokasi penelitiannya pun Banda Aceh. Metodologi yang digunakan adalah survei kuantitatif terhadap 227 orang sampel penduduk Banda Aceh.  Pada beberapa bagian ditanyakan kepada responden tentang pengetahuan mereka jika terjadi bencana lagi (dibandingkan tsunami 2004) dan rata-rata terhimpun nilai 3,55 dari skala 1-5 terhadap poin ini. Ditanyakan pula tentang kemudahan mendapatkan informasi tentang mitigasi bencana di Banda Aceh hasilnya terangkum angka 3,30 dari skala 1-5.  Meskipun masih membutuhkan pengembangan untuk mencapai sempurna, setidaknya ini sudah menjadi preseden yang baik bagi pengembangan <em>knowledge</em> tentang mitigasi bencana khususnya di Aceh.</p>
<h3><span style="color: #000080;">Mungkin banyak yang belum tahu, Aceh sudah menjadi <em>lesson learn</em> soal keberhasilan penanganan bencana di dunia. Kalau selama ini banyak orang yang mengagung-agungkan Jepang, yaa wajar.. secara Jepang negara yang sudah sangat maju. Tapi Indonesia boleh sedikit bangga karena Indonesia sedang menuju kesana dengan Aceh sebagai <em>”pilot project”</em> .</span></h3>
<p>Banyak kok contoh nyatanya, kurikulum kebencanaan sudah beberapa tahun terakhir diterapkan di sekolah dasar hingga menengah di Aceh, <em>talk show</em> soal bencana di radio dan TV lokal sudah jadi makanan sehari-hari, informasi baik online maupun offline tidak sulit untuk didapatkan di Aceh. Aceh juga menyimpan banyak <em>lesson learn</em> tentang tsunami 2004 yang bisa dibagi ke semua orang yang memerlukan di dunia. Mungkin hanya Provinsi Aceh yang punya lembaga penelitian khusus tentang mitigasi bencana bahkan belum lama ini sudah dicanangkan program studi S2 kebencanaan pertama di bawah Universitas Unsyiah. Yes, semuanya memang belum berjalan sangat baik seperti (lagi lagi) Jepang dan masih banyak celah untuk membuat semuanya lebih mapan, tapi setidaknya, kita harus optimis kalau orang orang pandai di negeri ini sudah mulai memikirkan bencana yang masih belum bisa dihalangi ”kedatangannya”. Yuk, sama sama kita dukung… Gak usah rame-rame bersikap skeptis terhadap apa yang sedang dijalankan. okayyy&#8230; <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/aceh-gempa-dan-mitigasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sebuah catatan kecil..</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/sebuah-catatan-kecil/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/sebuah-catatan-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 13:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1350</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar dua minggu lalu ada satu kejadian yang mungkin bisa jadi salah satu kejadian paling buruk dalam hidup gw.  Baru kali itulah, gw bener-bener diintimidasi dengan perkataan yang sangat sangat merendahkan dan mungkin benar-benar menghina gw sampai titik terendah. Gak perlu gw ceritain sebab musababnya, namun yang membuat gw bersyukur orang orang terdekat mendukung dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/52186_340.jpg"><img class=" wp-image-1351 alignleft" title="http://www.wordans.com/pretty+flowers+designs" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/04/52186_340.jpg" alt="" width="272" height="214" /></a>Sekitar dua minggu lalu ada satu kejadian yang mungkin bisa jadi salah satu kejadian paling buruk dalam hidup gw.  Baru kali itulah, gw bener-bener diintimidasi dengan perkataan yang sangat sangat merendahkan dan mungkin benar-benar menghina gw sampai titik terendah. Gak perlu gw ceritain sebab musababnya, namun yang membuat gw bersyukur orang orang terdekat mendukung dan membesarkanku sepenuh hati dengan sangat obyektif memandang semua yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut.  Meskipun kemarahan sudah di ubun atas semua asumsi yang melenceng ke gw, pengen rasanya labrak orangnya, pengen ngamuk, pengen bales ngata-ngatain dengan ucapan-ucapan yang sama sadisnya, pengen maen fisik dan semua-muanya.. Tapi Alhamdulillah, aku kuat untuk nyaris tidak bereaksi apa-apa. Buat apa juga ditanggapin dengan serius, perdebatan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Berargumen pun rasanya tidak perlu. Energinya sudah habis, selama ini udah capek dengan semua yang terjadi.</p>
<h3><em>Biarlah apa yang ada di pikirannya tentang aku, seperti apa yang dia pikirkan.</em></h3>
<p>Bukan dia penentu benar salah satu masalah.  Meskipun sakit akibat perkataan itu berefek ke fisik aku yang nyaris drop selama tiga hari. Its really mentally abuse.  Sakitnya bukan karena “ditinggalin” tapi karena kata-kata yang ternyata memang lebih tajam dari belati.  Ah sudahlah, finally timbangan salah bener dan ganjaran yang pantas untuk kita (sebagai manusia) terima itu, udah ada yang ngatur.  Seorang sahabat hanya berpesan kecil tapi menohok; “jangan kotori tangan lu dengan balas dendam ya, vik.. “ .. dan aku pun menangis. <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ini cuma catatan kecil kehidupan. Apapun yang terjadi, baik buruk, up and down, semua ada hikmahnya. Minimal bisa jadi bahan perenungan dan introspeksi untuk menjadi orang yang lebih baik.. Amin..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/04/sebuah-catatan-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>women (verbal) mentally abuse</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/women-verbal-mentally-abuse/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/women-verbal-mentally-abuse/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 10:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1331</guid>
		<description><![CDATA[Putus cinta itu biasa, sakit hati itu biasa, kecewa itu biasa. Yang tidak biasa adalah kalau didalamnya ada perlakuan penghinaan yang menjurus ke abuse. Kali ini gw pengen nulis topik yang agak serius.  Kekerasan pada perempuan. Weitss, jangan berpikir gw mendadak sudah jadi ahli gender ato malah feminis ya, ini jadi semacam bahan alert aja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/don__t_let_verbal_abuse_define_you_by_deadofnight_art-d4h10c6.jpg"><img class="alignright  wp-image-1332" title="don__t_let_verbal_abuse_define_you_by_deadofnight_art-d4h10c6" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/don__t_let_verbal_abuse_define_you_by_deadofnight_art-d4h10c6.jpg" alt="" width="324" height="223" /></a>Putus cinta itu biasa, sakit hati itu biasa, kecewa itu biasa. Yang tidak biasa adalah kalau didalamnya ada perlakuan penghinaan yang menjurus ke abuse.</h3>
<p>Kali ini gw pengen nulis topik yang agak serius.  Kekerasan pada perempuan. Weitss, jangan berpikir gw mendadak sudah jadi ahli gender ato malah feminis ya, ini jadi semacam bahan alert aja buat kita perempuan bahwa ada porsi-porsi hal-hal atau “perlakuan menyakitkan” yag biasa kita terima sebenernya sudah masuk kategori women abuse. Oke, chek this out, girl!</p>
<p>Dari hasil googling, saya dapatkan beberapa terminologi tentang topik ini.  Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983 menyebutkan women abuse adalah; Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ; termasuk ancaman dari tindakan tsb, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi dilingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. Literatur lain menyebutkan kekerasan pada perempuan sebenarnya terdiri dari beberapa bentuk yaitu; <strong>Physical abuse, emotional or psychological abuse, Sexual abuse, Economic or financial abuse dan Spiritual abuse.</strong></p>
<p>Oke, karena ini bukan diktat kuliah, gw mau bicara yang kedua aja dari sekian kategori di atas, yaitu <strong>emotional or psychological abuse khusunya yang terkait dengan verbal abuse. </strong></p>
<p>Siapa yang gak pernah disakiti? Apalagi soal cinta.. Hemm, gak hidup namanya kalo gak pernah disakiti, entah itu oleh pasangan (suami atau pacar) atau bisa jadi perlakukan tidak menyenangkan dari orang-orang lain di sekitar kita. Khusus untuk orang yang kita sayangi tanpa sadar sebenarnya kita sering sekali mengalami yang namanya “abuse” dari level kecil hingga level tinggi. Sering sekali timbul kata-kata yag dasarnya menghina, merendahkan atau menyudutkan perempuan yang kemudian atas nama cinta semua itu kita tolerir dan dianggap biasa. Lebih buruknya lagi, hampir semua laki-laki sering tidak menyadari kalau perlakukan mereka itu sebenernya sudah masuk kategori abuse.  Akibatnya perlakukan seperti itu terus saja berlangsung dan terus saja dimaklumi dan dimaafkan.</p>
<h3>Contohnya gimana sih? Gini, kalo ada laki-laki yang sudah menyinggung masalah fisik, usia, pengalaman masa lalu, derajat sosial, latar belakang keluarga dan sejenisnya untuk mengukuhkan eksitensi diri dia (lebih dari kita), pembenaran atas suatu kesalahan atau sebagai argumen dari sebuah peristiwa dan sejenisnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan merendahkan, itu adalah abuse. Konkritnya seperti ada perkataan seolah-olah saya tidak pantas untuk sesuatu hal (baca: urusan percintaan) karena sesuatu hal menyangkut diri saya. Dan seterusnya, dan seterusnya…</h3>
<p>Kata beberapa rujukan yang gw baca, reaksi yang emosional yang timbul biasanya: shock, rasa tidak percaya diri, marah, malu, menyalahkan diri sendiri, kacau, bingung bahkan sampai histeris. <em>*hemmm,.. I think I&#8217;d been there <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> *</em> Ungkapan kata-kata lebih kejam dari pedang mungkin pantas buat topik ini. Tidak selalu kekerasan itu menyangkut fisik, mental yang dirusak itu lebih parah akibatnya dari sekedar luka fisik .</p>
<p>Namun dari sisi lain, perempuan juga harus introspeksi kadang-kadang abuse itu asal muasalnya karena sikap kita sendiri. Tapi lebih dari itu,  laki-laki yang baik, dewasa dan bertanggung jawab juga seharusnya “ngomong pake mikir”, berpikir jauh dan ke depan.. bukan hanya meluapkan emosi. Sayangnya, pelaku abuse tidak memandang level pendidikan dan strata sosial, tindakan abuse sepertinya berakar dari karakter dan tingkat kedewasaan seseorang. Sayangnya lagi, reaksi dan proses penyembuhan perempuan yang di-abuse pun bisa berbeda-beda tergantung bagaimana si perempuan menyikapi  dan berpikir akan hal tersebut.</p>
<h4><em> Sudahlah, lets move on&#8230;hidup ini terlalu indah untuk mikirin orang yang sudah menyakiti bahkan yang sudah &#8220;abusing&#8221; sekalipun &#8230; (dont be blinded by love, my dear friend&#8230;)</em></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/women-verbal-mentally-abuse/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>made in china</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/made-in-china/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/made-in-china/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2012 13:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1315</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah obrolan ringan, seorang sahabat saya (@oca_shinta) melontarkan sebuah anekdot; Tau gak, ternyata di dunia ini  yang dibuat Tuhan hanya mahluk hidup, sisanya buatan China. Upss, ini becandaan kok, jangan dianggap serius.  Sebenernya fenomena produk cina ini udah sekitar 10 tahun belakangan mewabah gak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Bahkan Cina udah jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah obrolan ringan, seorang sahabat saya (@oca_shinta) melontarkan sebuah anekdot; Tau gak, ternyata di dunia ini  yang dibuat Tuhan hany<a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/made-in-china1.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1318" title="made-in-china  (http://www.chrismadden.co.uk)" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/made-in-china1.jpg" alt="" width="358" height="324" /></a>a mahluk hidup, sisanya buatan China. Upss, ini becandaan kok, jangan dianggap serius.  Sebenernya fenomena produk cina ini udah sekitar 10 tahun belakangan mewabah gak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Bahkan Cina udah jadi salah satu “harimau” perekonomian baru di dunia. Coba deh, kamu cek semua hampir semua barang-barang yang kita pegang Made In China. Merek apapun dari mobil, gadget sampai pensil sekalipun sekarang lebih banyak dirakit di China.  Dari yang gak bermerek, merek abal-abal, merek terkenal sampe yang bisa dimerekin sendiri semua dibuat di Cina. Gak itu aja, beberapa kali saya dapat souvenir dari teman-teman yang baru datang dari luar negeri, mau dari Eropa, Amerika bahkan oleh-oleh jamaah haji pun, tulisannya : Made In China!! *tepok jidat</p>
<p>Ada lagi nih,  di dunia kedokteran; Cina (aka.Tiongkok) sekarang masuk dalam salah satu Negara yang paling maju dalam bidang transplantasi organ tubuh. Nah, apalagi tuh.. Jangankan benda mati, “barang hidup” pun sekarang diproduksi di Cina. Gilaa yaa Cina.  Bukan itu aja,  pernah suatu waktu bersama Lala (@J_La2) gw nonton satu acara TV tentang bagaimana “berlimpahnya” mahluk berjenis kelamin laki-laki di Cina. Ini karena budaya mereka yang cenderung “menolak” kehadiran bayi perempuan, karena lebih menganggungkan bayi laki-laki sebagai penerus keterunan. Jeleknya ya gitu, kini populasi perempuan sangat sedikit, sehingga banyak laki laki yang gak dapet pasangan disana. Eh, untuk ini gw belum meriset apakah poliandri diijinkan disana. Tapiiiii.. the good news adalah: ini merupakan satu lagi “produk Cina” terutama bagi yang jomblo (*ketawa miris, ngetawain diri sendiri*). Artinya buat yang lagi nyari pasangan, yuk kita ke Cina..Hihihihi.. Ternyata pepatah jaman dulu; Tuntutlah Ilmu ke negeri Cina, bisa dibuat versi terbarunya yaitu: Tuntutlah jodoh hingga ke negeri Cina. Wakakakaka..</p>
<p>Makanan pun demikian, kalo chinese food sih emang dari dulu sudah jadi bagian dari budaya makanan Asia termasuk Indonesia.  Tapi kini makanan dalam kemasan sekarang asal Cina juga mulai banjir ke Indonesia.  Thank God, yang tidak tergerus oleh produk Cina buat gw adalah tetap lalapan. Saya cinta lalapan, asli makanan Indonesia karena di Cina sepertinya mutlak hanya kambing yang makan lalapan. <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/made-in-china/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>feeling dukun</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/feeling-dukun/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/feeling-dukun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2012 12:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1307</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini bukan dalam rangka membuat kesombongan atau pamer atau sejenisnya.  Gw juga gak terlalu menganggap ini sebagai sebuah kelebihan lebih tepatnya mungkin sebuah kebetulan. Eh, tapi apapun itu kan harus disyukuri ya. Alhamdulillah Sebenernya awalnya iseng,  gw dari dulu sering banget menebak “kelangsungan hubungan asrama” teman-temanku.  Misal kalau ada temen yang memperkenalkan  pacar atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/Ramalan-Bintang-2011.gif"><img class="alignright size-medium wp-image-1309" title="Ramalan Bintang 2011" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/Ramalan-Bintang-2011-298x300.gif" alt="" width="298" height="300" /></a>Tulisan ini bukan dalam rangka membuat kesombongan atau pamer atau sejenisnya.  Gw juga gak terlalu menganggap ini sebagai sebuah kelebihan lebih tepatnya mungkin sebuah kebetulan. Eh, tapi apapun itu kan harus disyukuri ya. Alhamdulillah</p>
<p>Sebenernya awalnya iseng,  gw dari dulu sering banget menebak “kelangsungan hubungan asrama” teman-temanku.  Misal kalau ada temen yang memperkenalkan  pacar atau pasangannya ke gw, sering sekali gw bisa “melihat” kira-kira mereka berjodoh atau tidak tanpa harus berpikir panjang, hanya dengan melihat orangnya atau minimal fotonya. Lucunya “ramalan” itu nyaris gak pernah salah.  Bisa bisa ditebak, gw sering banget nerima kiriman foto gebetan, kecengan atau pacar teman-teman.  Tapi ini bukan contoh yang baik ya, secara percaya sama yang beginian kan bisa menjurus jadi dosa. So, kalo ada “pasien” , hal pertama yang gw sampaikan adalah: “jangan percaya sama gw”. Meski pun biasanya mereka akan datang kedua kali, entah karena ramalan pertama sukses ato mungkin niat iseng iseng doang. Atooo karena ngefans sama gw? Hemmm, yang terakhir sih <em>wallahualam</em> deh..  Aku sempat beberapa kali “meramal”  beberapa teman dan temannya lagi yang sudah hampir menikah, sudah siap semua tapi karena  terawang gw bilang “kayaknya gak deh… “ , kok jadi kejadian beneran. Heemm, okelah..itu semua cuma kebetulan (anggap saja begitu).</p>
<p><span id="more-1307"></span></p>
<p>Herannya, soal beginian  gak bisa gw terapkan untuk diri sendiri. Sama aja seperti dokter yang gak bisa ngobatin dirinya sendiri, “dukun” pun konon begitu…Gak bisa ngedukunin dirinya sendiri. Hihihi.. Kalo punya gebetan atau kecengan, sama sekali gw gak bisa membayangkan kelangsungan hubungan hanya dari melihat fisiknya atau malah cuma fotonya.  Chemistry yang sering gw tangkap hanya dari sepersekian menit melihat   foto foto atau fisik “pasien” gw, justru tidak gw dapatkan dalam sekejap di hubungan-hubungan pribadi gw. *<em>Curcoll deh…</em></p>
<p>Eniwei, sebagai perempuan, seperti halnya perempuan lain, gw juga “dilengkapi” dengan insting perempuan. Haii para cewek cewek (yang teraniaya), percayalah, kalau kita punya hubungan “batin” dengan seseorang, banyak sekali “bisikan bisikan” terhadap sesuatu yang sedang atau akan terjadi dengan orang  (baca: laki laki) yang dekat dengan kita.  Perubahan sikap dan cara bersikap biasanya menjadi hal utama yang membuat insting perempuan semakin tajam.. Feeling terbesar adalah saat kita tau, seseorang yang berarti buat kita itu, punya orang lain. Buat gw sih yang begini kerasaaa banget. Dari liat foto salah satu temannya saja di fesbuk kadang-kadang aku bias nebak; something already  happened! Padahal hampir bisa dibilang tidak ada interaksi apa-apa mereka di media sosial itu. Hehehhehe. Tapi, karena kita harus menganut paham <em>positive thinking</em>, hal-hal yang buruk harusnya tidak terlalu berlarut-larut dipikirkan. Takutnya jadi beneran terjadi dan gak baik jadinya. Cuman bolehlah yang begini-begini jadi alert biar lebih hati-hati dan introspeksi ke depannya.</p>
<h3>Gue percaya laki-laki <em>basicly</em> tidak multitasking. Bukan seperti perempuan yang bisa ngetik sambil telponan, bisa masak sambil bbm-an bahkan ada yang bisa nyetir sambil dandan. Catat!!! Sayangnya cowok gak begitu.   Mereka  sulit  untuk “berbagi”  dua konsentrasi  sekaligus dan tetap menjadi seperti dirinya sedia kala, mana kala dia punya orang lain di belakang kita. Sekali lagi: Catat!!</h3>
<p>That’s why dalam Islam poligami itu meski dibolehkan bukan sesuatu yang main-main, karena tidak benar-benar tidak mudah.Teh Ninih aja sempat gak sanggup dimadu oleh Aa Gym, meski akhirnya sih mereka balik lagi. Hihihi..</p>
<p>Ya sudahlah… ini sungguh curhat tidak penting..:)  Oya, kalo pun suatu saat gw akan alih profesi jadi dukun, gw pengennya jadi dukun yang melek teknologi. Gak pake jampi jampi apalagi sajen tapi pake algoritma berbasis teknologi informasi didukung riset baik kualititatif maupun kuantitatif secara mendalam.  *hoi.. hoi, inget dosaa oiii.. * Hahahhaha, yukss..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/feeling-dukun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>here i am now..</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/here-i-am-now/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/here-i-am-now/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 05:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang kerjaan itu seperti halnya jodoh, kadang meski kita yakin banget cocok sama satu kerjaan bisa jadi belum tentu bertahan lama. Atau ada kerjaan lain yang sebenernya di awal &#8220;ogah-ogahan&#8221; dijalani, ternyata itu yang terbaik.   Begitu juga yang terjadi dengan gw. Ini adalah pekerjaan kedua (eh, atau ketiga yaaa) yag berhubungan dengan pemerintahan.  Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang kerjaan itu seperti halny<a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/foto-kantor.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1297" title="foto kantor" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/foto-kantor-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>a jodoh, kadang meski kita yakin banget cocok sama satu kerjaan bisa jadi belum tentu bertahan lama. Atau ada kerjaan lain yang sebenernya di awal &#8220;ogah-ogahan&#8221; dijalani, ternyata itu yang terbaik.   Begitu juga yang terjadi dengan gw. Ini adalah pekerjaan kedua (eh, atau ketiga yaaa) yag berhubungan dengan pemerintahan.  Setelah dari Aceh lalu sempet menclok setaun di Kementrian Keuangan sebagai lanjutan dari Aceh dan akhirnya disini.  Setelah &#8220;kemana-mana&#8221;, finally tanpa proses yang panjang dan berbelit-belit setidaknya sampai pertengahan tahun ini gw akan stay disini.</p>
<p>Gak ada yang baru, pekerjaan yang nyaris sama dengan yang sudah-sudah; ngutak ngatik data, nulis, meeting dan meeting. Tapi sepertinya makin kesini, gw makin merasa kuat di bidang ini. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, memberi rekomendasi berdasarkan data dan menulis dengan gaya bahasa sederhana agar orang awam pun mengerti. Its my passion already!! Love it!!</p>
<p>Orang-orangnya pun begitu, sebagian besar malah rekan-rekan kerja lama dengan di Aceh dulu. Menyenangkan. Bedanya adalah tentu saja tantangannya lebih baru, tugasnya juga membutuhkan standar hasil yang lebih tinggi. Oya, yang baru lagi banyak barang &#8220;aneh&#8221; di kantor ini. Karena sayah ini orang kampung banget,  pas masuk sini gak tau gimana cara make <em>coffee maker.</em> Hahahahha..</p>
<p>Tapi, anyway..  bismillah..harus yakin kalau bisa. Beda yang lain apa yaah? Hmm.. keknya banyak perubahan di gw, udah agak berkurang hobi &#8220;hore-hore&#8221;, pecicilan dan petakilan kayak dulu.  Pengaruh makin &#8220;tua&#8221; kali ya, boo. Yah, meskipun makin lama hidup gw udah makin mengarah ke &#8220;autis&#8221; semoga tetap bisa &#8220;care&#8221; sama lingkungan sekitar dan yang paling penting bisa menghasilkan hasil kerja yang membanggakan.. <img src='http://www.vikaoctavia.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3><em>Keep up the good work, everyone!!</em></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/here-i-am-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(bukan) catatan galau</title>
		<link>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/bukan-catatan-galau/</link>
		<comments>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/bukan-catatan-galau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 10:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.vikaoctavia.com/?p=1288</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya memang ada yang harus ditinggalkan.. Ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang berbeda Gakpapa, ini pasti akan lebih baik.. Kenapa harus menahan sesuatu yang keliatannya indah dan baik baik saja, Tapi di dalamnya penuh keganjilan dan kepura-puraan yang tidak sengaja terus dijalankan. Semu.. Tidak mudah ketika, rasa lebih berperan dari logika. Ketika usaha fisik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;" align="center"><em><a href="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/birdspinkskywomangirlhappy-7b9994a29cd90dcd3ae8ca3d80d77da4_h.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1293" title="birds,pink,sky,woman,girl,happy-7b9994a29cd90dcd3ae8ca3d80d77da4_h" src="http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2012/03/birdspinkskywomangirlhappy-7b9994a29cd90dcd3ae8ca3d80d77da4_h-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Akhirnya memang ada yang harus ditinggalkan..</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang berbeda</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Gakpapa, ini pasti akan lebih baik..</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Kenapa harus menahan sesuatu yang keliatannya indah dan baik baik saja,</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Tapi di dalamnya penuh keganjilan dan kepura-puraan yang tidak sengaja terus dijalankan.</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Semu..</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Tidak mudah ketika, rasa lebih berperan dari logika. </em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Ketika usaha fisik tidak mampu mengalahkan psikis </em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Tapi, mau dibolak balik bagaimanapun, ternyata ada kuasa yang lebih berkuasa dari keinginan dan harapan dan cita-cita..</em></p>
<p style="text-align: right;" align="center"><em>Kata Aa Gym: </em>semuanya ada takdirnya, sesuatu ada waktunya, segala ada hikmahnya</p>
<h3 style="text-align: right;" align="center"><em>God put people in your Life for a reason &amp; removes them for a better reason..</em></h3>
<p style="text-align: right;" align="center">*yang ga kelar-kelar juga*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.vikaoctavia.com/2012/03/bukan-catatan-galau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

