d’vicca
Ini tercetus gara-gara beberapa hari yang lalu, seorang sahabat curhat padaku (atau tepatnya kita saling bercurhat ria), tentang kekhawatiran alias parno. Bukan Parno yang mas mas jawa itu loh, tapi parno bahasa gaul dari paranoid terhadap sesuatu. Ceritanya sahabatku itu, konon sudah sangat kenyang pengalaman dalam kehidupan percintaannya (baca: in her romantic life). Kini, di usia yang beranjak matang memang ia belum mempunyai pendamping hidup walau sebenarnya sudah ada calon nun jauh disana. Yah, long distance relationship-lah. Seperti kata Marcel di firasat : bagai sungai yang mendamba samudera, kutahu pasti kemana kan kubermuara, seperti itulah..hubungan itu diharapkan menjadi tambatan terakhir bagi keduanya. Read the rest of this entry »
Hah ? Lu sensitif? Sensitif darimana? dari Hongkong?. Itulah jawaban seorang teman ketika aku iseng menanyakan; “menurut lo, gue sensitif gak sih?” Lanjutannya: Gimana bisa dikategorikan sensitif kalo temen-temen lu bisa ngomongin apa pun tentang lu tanpa tedeng aling-aling bahkan kadang kadang cenderung tidak berperasaan. Tapi jeleknya, nih.. kata dia melanjutkan. Lu tuh kadang terlalu cuek, Vik.. Lu sering kurang peka sama apa yang orang-orang sekitar lu lakukan buat elu. Bukan dalam arti, lu gak nyadar yah, tapi kalo ada sesuatu yang sebenernya “beda”, lu sering meng-ignore alias suka ngeyel. Anehnya, sebenernya lu temen yang care kok! (Loh!!!) Ngebingungin gak? (thanks, lyn!!)
+ Yah, elu… gw lagi di Ragunan, di rumah sakit hewan.
- Hahhhhhhhh ??, lu sakit ??? Sakit apa?
+ Bukan gw, dodol!! Tapi kelinci gue, abis jatuh dari tembok, kayaknya pendarahan gitu, dia kan lagi hamil.
- Haaaaaaaaa ??
+ Iya, gw takut dia lemah kandungan (dengan suara sedih)..
- @#$^(^%&!(!!??!!
+ Gimana menurut lo ? kalo dia keguguran gimana?
- Halah…kelinci lu tuh patah hati kali, cowoknya gak bertanggung jawab, jadi dia dalam rangka percobaan bunuh diri tuh, lu pake acara nyelametin segala!Gara-gara semalem perempuan-perempuan mess itu nge-gosipin Mayangsari, sore ini gue iseng masukin “mayangsari” ke om google. Fantastis! Dalam waktu 0,04 detik keluar 98 ribu record ber-referensi Mayangsari. Meskipun tidak seluruh URL yang terjaring adalah Mayangsari yang dimaksud, tapi kira-kira sebegitulah bagaimana wanita Purwokerto ini merebut perhatian media.
Sumpah, gue gak meng-idolakan dia, meskipun dulu (banget) ada beberapa lagu dia yang sempet gue suka. Gue gak kenal sama dia dan yang pasti gue gak peduli sama hidup dia. Dia mo kawin sama Bambang kek, Yanto kek, Michael kek atau Bill Clinton sekalipun. EGP. Tapi yang sedikit menggelitik adalah nenek-nenek di mess yang demennnnnnnnnnn banget ngomongin nih cewek. Dengan berapi-api (dan agak sotoy) persis ketika Sumpah Pemuda dicetuskan di tahun 1928. Katanya sih mereka gak nge-fans, tapi setiap ada gosip soal Mayangsari kok ya tau-tau nya, gitu. Dari yang katanya si Mayang dibeliin rumah di Menteng, Mayang dimarahin sama keluarga Cendana sampe anaknya harus tes DNA karena diperkirakan itu bukan anak Bambang. Kok mukanya gak mirip ya, kok jelek ya ?, kok gak kayak Bapaknya ya? Loh..kok bisa-bisa nya tau ? Lah, padahal sebagai sesame cewek matre, mereka (termasuk gue), kayaknya jadi istri ke enam pun rela. (hehehe…)
biarkan hatiku, lepaskan segala asa
penat yang kurasa
sejak kau katakan cinta
jangan kau dustakan kenyataan perasaan
bila kuterluka, saat kau sekejap berubah…..
sayangi aku seperti apa yang kumau
perhatikan aku sejauh yang kuperlu
damaikan hatiku, seperti apalah anganku
tapi jangan mencintaiku, karena tak seharusnya begitu….
mengapa bila semua yang kurasakan, ku tak lagi mampu menahan rasa ini
(bravo buat *Ibu*, buatku, apapun yang kamu nyanyikan selalu indah, karena selalu ada “cerita” tentang kita dan mereka yang kita cintai dibalik itu)
Ini dia, kerjaan baru kalo pulang! Dititipin. Gara-gara nyempetin back to home, 28 Februari-4 Maret kemarin, ketiban rejeki-lah aku, diamanati titipan dari yang kecil dan paling mungkin sampai yang setengah mustahil. Entahlah maksud si penitip itu apa, tapi ya namanya udah janji, biar hujan, panas, gelombang, badai hingga tsunami sekalipun tetep aku usahain semaksimal yang kubisa.
Dimulai dari titipan orang Jakarta buat dibawa dari Aceh. Suci yang nitip tas Aceh, tiga biji. Katanya sih gak maksa, Tapi sms berkali-kali belum ditambah reminder via YM, pake webcam pula untuk menegaskan contoh tasnya. Cuman tetep pake embel-embel; “kalo lu ada waktu aja kok, vik…” Secara gue orangnya murah hati dan gak tegaan, apalagi untuk orang-orang yang pernah hidup di jaman romusha kayak dia, ya gimana gue gak iba! So, H minus satu, aku ditemenin Bu Ruhama pun berburu tas etnik itu. Jolie kupluk itu laen lagi, tega-teganya dia nitip daun gan*** (titt..sensor). Waduh, dengan berat hati, permintaan itu tak kululuskan karena ybs juga sepertinya tidak berminat menebus gue di bandara kalo terjadi apa-apa denganku. Insyaf-lah Hai anak manusia…. Haram!
sayangi aku, seperti apa yang kumau
perhatikan aku, sejauh yang kuperlu
damaikan hatiku, seperti apalah anganku.
tapi jangan mencintaiku, karena tak seharusnya begitu…
(biarkanlah….by sms)
Menyusun kembali memori yang pernah terjadi dan telah menjadi bagian dari hidupku di kota ini. Juni 1994 dengan kakek tercinta untuk pertama kalinya di sini. Hanya berat yang menggelayuti hati ketika harus melepaskan satu bagian dari cinta pertama yang sempat membuatku memanjatkan doa untuk kekuatan menjalani hari-hari yang terasa berat. Namun, jauh di kemudian hari, kusadari itu hanya sebuah kebodohan karena Bogor dan jiwanya telah memberiku keindahan lain. Baranangsiang, kampus, angkot, hujan, jembatan merah dan cerita-cerita di dalamnya yang akhirnya menumbuhkan cinta lain yang lebih indah. Read the rest of this entry »
Ini satu kisah tentang persaudaran, cinta, kasih sayang, kesetiaan, perjuangan, balas budi, keajaiban, kepengecutan, penyesalan, penebusan dosa dan takdir (again!) yang begitu luas tetapi digambarkan dengan sangat detail dengan karakter tokoh yang kuat oleh Khaled Hosseini. Mengaduk-ngaduk emosi hingga terkadang membuatku seakan tidak sanggup untuk melanjutkan membaca. Pesan sponsor pertama; jangan baca kalau takut sedih. Read the rest of this entry »
Seorang kakak kelas ketika aku baru tiba di Aceh sempat bertanya; Eh, di kamarmu ada sarung, handuk lebar atau kain panjang, gak ? Sebelum kujawab, kutatap matanya dalam-dalam, mencoba mencari arti pertanyaan ganjil itu. Mengerti kebingunganku, dia melanjutkan. Begini loh, Vik.. disini itu kan sering banget gempa, makanya di rumah harus selalu sedia kain panjang. Jadi misal nih, kamu mandi terus tiba-tiba terasa ada yang bergoyang-goyang, gak usah mikir lagi, langsung lari dan pake tuh handuk atau kain yang lebar.