d’vicca
Nyaris dua minggu ini agak sedikit “tersiksa” oleh pekerjaan yang numpuk. Tapi untungnya karena udah biasa, “siksaan” itu bisa dibikin enjoy apalagi aku punya temen temen tim yang hebat dan bisa diandalkan ( I love you, gus..). Namun sering juga terlintas betapa membosankannya semua ini dan itu yang akhirnya bikin aku merasa, “Oh No…, gue kayak gak punya kehidupan lain?!!” Tapi, setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang temen kemarin aku tiba-tiba diingetin kalo hidupku dengan semua kejadian dan peristiwa yang pernah kualami itu berwarna banget. Asumsi seperti gak punya kehidupan lain mungkin hanya sesuatu yang tanpa kusadari aku “setting” sendiri. So terrible, isn’t it?
Ingatanku menerawang ke semua hal-hal penting yang pernah terjadi dalam nafasku. Ibaratnya hidup ini penuh dengan milestone. Lahir dari orang tua dengan budaya yang cukup berbeda, yang membuatku tumbuh dengan gabungan kultur Sulawesi dan Sumatera. Atau paling tidak menambah perbendaharaan bahasa daerah yang aku cukup pahami. Jadi aku punya “koleksi” saudara yang beda banget adat dan bahasanya kalo lagi ngumpul. Lalu masa kecilku yang menclok dari satu kota ke kota lain menambah koleksi teman-teman. Untuk temen-temen sekolah, aku nyaris gak punya temen TK yang se-SD, temen SD yang se-SMP, temen SMP yang se-SMA dan temen SMA yang sekampus. Semua berbeda. Ketika kuliah pun aku masuk di lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang dari 27 provinsi (btw, sekarang udah 33 ya?) Lagi-lagi membuka mataku bagaimana berbaur dan menyesuaikan diri dengan orang-orang yang datang dari latar belakang yang berbeda. Alhamdulillah bisa dibilang aku masih keep contact dengan teman-teman terdekat yang berbeda-beda wahana itu, meski pun hanya dengan perantara teknologi.
Sebagian masa kecilku adalah bahagia, tapi ada juga bagian lain yang idealnya pada saat itu belum layak aku alami. Namun itu sungguh bukan satu penyesalan justru suatu karunia besar yang kini aku sadari. Belum lagi milestone penting perjuangan Mama untuk aku dan adik-adikku yang akan selalu jadi sejarah penting sampai dunia ini tutup usia. Kalau ingat hal-hal berat kala itu, rasanya aku tidak yakin bisa melewati itu semua. Satu hal yang sudah jadi garis tanganku, bahwa selama ini apapun yang aku capai sama dengan perjuangan. Hampir tidak ada setitik hal kecil yang aku dapatkan tanpa usaha keras untuk mencapai itu. Ngomong-ngomong soal ini, aku pernah “dibaca” oleh seseorang, bahwa katanya untuk memperoleh sesuatu rata-rata aku harus melewati lebih banyak tahap dibanding orang lain padahal bisa jadi itu untuk sesuatu yang sama. In others words, nothing such an easy thing for me. Lagi-lagi itu bukan satu penyesalan yang membuatku menggerutu dan bilang bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau, tapi merupakan satu suratan dan pembuktian; my life is my fight.
Seumur-umur gak pernah telat naek pesawat. Aku selalu inget kalo pesawat itu bukan angkot yang apapun kejadiannya tetep nunggu penuh baru jalan. Biasanya kalo ada teman yang ketinggalan pesawat, aku pasti dengan sukses tertawa tawa penuh kemenangan. Tapi pagi tadi kejadiannya jadi ke aku.Untuk rute rutin Jakarta-Banda Aceh via Medan.
Pukul 3 pagi teng..alarm HP dengan ringtone Senam Kesegaran Jasmani itu membangunkan aku. Bukannya segera beringsut mandi atau paling gak cuci cuci muka (ritual biasa kalo berangkat pagi), aku malah narik selimut. Gerimis mengundang yang mengguyur Bogor sejak semalamnya membuatku lupa, kalo aku gak kenal sama pilot pesawat yang bakal kutumpangi di pukul 5.30-nya (jadinya gak bisa minta tungguin). Tepat 3.30 baru beranjak dari rumah dan tepat pukul 4.00 Damri meninggalkan Bogor menuju Bandara. Jalan menuju bandara hujan deras, so bis yang dingin itu pelan banget lajunya. Saat normal di jam jam dimana maling baru pulang beroperasi begitu, gak rata-rata 45 menit sudah sampai bandara. Tapi tadi.. nyaris 1 .30 menit!
Udah deg-deg-an di counter check-in, pake cara nyerobot antrian pula. Yang dikhawatirkan terjadi : CLOSED! Aku memohon-mohon dan si mas penjaga counter yang lumayan manis itu luluh.. Dia kontak ke dalem, aku nunggu sekitar 5 menit. Tapi hasilnya mengecewakan. Tetep gak bisa ikutan! Bete, Kesel dan mo marah rasanya. Akhirnya dicadangkan untuk penerbangan berikutnya di 09.20 pagi. Itu pun posisinya masih waiting list. Dan kalau pun dapet harus nombok Rp 580 ribu. Wadohhhhhhhhh, bayar sendiri? ? Gak mau dong secara ke Jakarta juga disuruh kantor. Aku coba telpon beberapa temen kantor untuk mastiin kalo bisa reimburst. Good news, bisa katanya meski harus diakalin
. Untuk flight yang jam 1 siang udah confirm. Tapi mikir-mikir kelamaan banget yah..ngapain gue nongkrong selama itu di bandara. Jadi Porter ? Halah.. Tanya tiket untuk keesokan harinya statusnya sama aja.
Akhirnya dengan H2C dan berdoa yang diiringi ngomel-ngomel aku berharap tetap dapat di pukul 09.20. Untungnya ketemu Jolie yang lagi jemput si Ibuk Tia di Terminal 1B. Ngerumpilah disana. Sempet tergoda juga untuk back to Jakarta, trus jalan jalan ke PIM ngikutin rencana mereka. Tapi kalo inget kerjaan yang numpuk dan dedikasi gak penting sebagai seorang karyawan teladan (ciee…) aku batalkan. Tepat 08.40 aku balik ke counter, dan Alhamdulillah dapet!!! Hebatnya lagi..gak perlu bayar 580 ribu tadi! Thanks to si Om yang udah bantuin.
Semua kejadian emang ada hikmahnya,..ketika tiba di Medan, aku dapet kabar kalo pesawat yang gagal aku tumpangi itu telat sampe ke Medan karena cuaca buruk dan terpaksa mendarat di Pekanbaru. Ya..kalo itung-itungan waktu ternyata kurang lebih sama aja.. J
Anyway..kenapa sih harus milih flight yang paling pagi ? Ini gara gara “kewajiban”nonton Tia dan Jolie di missing lyrics pas pukul 13.30. Dengan asumsi kalo berangkat yang jam 9.20 sampe di Aceh mepet, padahal tiket aslinya memang yang 9.20 itu. Dodol kan ? udah bela-belain dipindahin ke 5.30 eh…ketinggalan dan balik lagi ke 9.20! Itu plus acara drama gak penting!!
Setelah “kenal” dan beberapa kali berbincang dengan perempuan itu aku merasakan seolah menemukan diriku sendiri.
Cara bicaranya yang meledak ledak
Caranya mengungkapkan emosi
Caranya menyimpulkan sesuatu
Caranya memandang masalahnya
Caranya bercerita yang ceplas ceplos
Gayanya yang berusaha sok tegar menghadapi semuanya
dan semua yang terungkap dari lisannya..
yang akhirnya membuatku bertanya..
benarkah laki-laki itu tertarik pada satu typical perempuan yang sama ?
Minggu lalu napak tilas ke Yogyakarta. Sama gank 7bi minus Jolie , Nta dan Mb Nna yang lagi ndut (perutnya). Tapi ada tambahan si Uncit Oie plus mas Tukiman sang driver. Aku nyusul naek Mandala with Posy and Oie tanggal 26 Desember-nya. Sementara rombongan udah lebih duluan satu hari sebelumnya. Satu minggu sebelumnya udah cari hotel by phone. Tapi nihil. Jogya rame banget, coz tahun baru kali ini dobel alias deketan antara peringatan 1 Muharram (1 Suro versi Jawa) dengan 1 Masehi. Tumpek Blek. Akhirnya dapet juga sederhana tapi lumayan dan si Oie nginep di rumah satu kerabatnya. Oya, buat rame-ramein kita ngajak beberapa sodara di Yogya untuk ikutan jalan-jalan. Sempet ke beberapa pantai di daerah selatan yang katanya ada Nyi Roro Kidulnya (soal pantai, Aceh is still the best, bo!!). Lalu mampir ke Borobudur dan muter muter gak jelas di kota Yogya. Tidak lupa, dalam segala hal, gank gue yang satu ini gak pernah lepas dari yang namanya ning a nong alias sing a song alias karaoke begitu juga di Yogya. Agak kagok juga pas bawa Oie coz takut dia gak bisa gabung sama perempuan-perempuan ajaib itu. Tapi itu gak terjadi, jadinya asyik-asyik aja. Secara anak ini tetep aja narsis kemana-mana, karena hasil foto-foto tetep aja dia yang paling banyak.
Sayangnya gue gak sempet nyari RS Bersalin Tresnowati. Kata Mama aku lahir disitu. Gue rasa tuh rumah sakit pun udah gak ada. Konon, dulu namaku sebelum dikasih nama sekarang, sama dengan nama RS itu. Kata Lala, gak lucu banget kalo gue pake nama itu dan blog ini jadi http://ngobrol.tresnowati.com. Heheheh.. Btw, tresno kan artinya cinta, harusnya bagus dong ya… Kalo gue jadi artis, nama gue jadi Tresno Laura. Hihihi…
Balik ke Jakarta, Bogor… Thanks God. That was the most beautiful moment in this vacation. Males-malesan di rumah. Tidur, makan, nonton infotainment, nongkrong dan cari WiFi gratis nyaris itu aja yang dikerjain tiap hari. Rasanya dunia indah banget. Gak usah mikirin angka-angka sumbangan buat Aceh pasca tsunami, gak inget sama laporan akhir tahun kantor, gak peduli dengan Key Performance Indicator pembangunan Aceh Nias, gak dengerin omelan bos dan gak terlalu keinget sama “mie kocok”. Hahahahhaa.. Pas malem taun baruan sempet nonton kembang api di pinggir satu telaga yang so sweet di Cibubur dan malem terakhir tetep ning a nong dilanjutkan nongkrong di Citos sampe jam 2 dni hari, sebelum paginya jam 6 pas meluncur lagi ke Banda Aceh.
Thanks to gank Jogya: Ullie, Anabella, Posy, Mas Tukiman yang setia, Ibu Theodora Meilani Setiawati yang rela meninggalkan Avanza-nya buat kita. Jolie.. (dunia gue tak ada artinya tanpa elo, gue doain resolusi lu 2009 sebagai artis (bukan manajer artis) tercapai..hahahahhah…). My sweet Nta.. (cedih tanpa dirimu di Yogya kemaren, hope u are happy ya..darling), Oie Bunch (was it our last vacation???, am glad to know you “more”). Anak-anak Jogya: Tari, Adit dan Ganesh.. (gak usah rajin rajin kuliah, gak penting….) Hihihi..
Itulah penutup 2008 yang sudah member satu milestone penting dalam hidupku. I strongly believe, everything happens because a reason…. Semoga YME akan memberiku semua hal terbaik di 2009 ini.
Dan. ..akhirnya terlewati juga libur lumayan panjang 10 hari dan malam ini kembali menikmati langit cerah Banda Aceh dengan dua gelas sanger dingin di Cek Yuke. Sedikit kerasa sepi, masih ada rasa kehilangan, apalagi ketika tau kamar empok yang ada di sebelah kamarku kosong, karena orangnya udah dimutasikan ke Jakarta. Hiks… kehilangan lagi satu temen yang siap dengerin gue 24 jam full. Pun ketika ingat bahwa besok adalah hari pertama tanpa rutinitas dengan seseorang seperti di 2008 . Dan aku akan kembali menggeluti meja berantakan-ku di Lueng Bata, ngomel-ngomel sama Oie, Alex dan Emi plus maen sinetron gak penting di ruangan sumpek itu. Anyway, walau nanti akan ada kejenuhan, aku akan tetap cinta dengan Aceh dan semua yang ada dan pernah terjadi di dalamnya.
sempat kau berharap kau tak harus pergi
sempat kau katakan kau rindu padaku
sempat saling berdekapan dan menghangatkan, menyaksikan malam penuh bintang
sempat kunikmati kecupan senyummu
sempat kuresapi redupnya matamu
sempat saling mendengarkan ombak bersuara
dan kita berkhayal keliling dunia
dan… sempat kumelayani hatimu..
(sempat melayani hatimu, titi dj)
Menandai masa purnabakti, tadi malam nyaris semua personil BRR tumplek blek menikmati saat-saat kebersamaan terakhir dalam satu pekerjaan di bumi Naggroe ini. Inilah waktu dimana tidak kurang dari 450 karyawan akhirnya harus kembali ke pangkuan “ibu pertiwi”, kembali berkiprah di institusi sebelumnya atau mencoba mengais rejeki di tempat lain. Alhamdulillah aku masih dipercaya mengerjakan beberapa tugas hingga awal 2009 nanti yang membuatku gak harus buru-buru eksodus dari Banda Aceh.
Ada rasa sedih, pasti.. Biar bagaimanapun diantara mereka ada sahabat sahabat terdekatku yang sudah berbagi dan bersama dalam segala suka dan duka selama kurang lebih 1,5 tahun ini. Akhirnya toh, waktu yang mempertemukan dan waktu pula yang memisahkan. Namun begitu, masa-masa kebersamaan ini bagiku tetap salah satu tonggak penting dalam sejarah hidupku..
…dan yang pasti… aku kehilangan “mie kocok”, “mouse hello kitty”, 1031,pulsa IM2, ngomel-ngomel, protes gak jelas, mie kepiting dan susu beruang. Karena yang tersisa hanya tapak tapak jalan sepanjang Lueng Bata dengan semua memori gak penting di dalamnya dan catatan , 3 Juli 2007 ketika aku minta tanda tangan untuk approve permohonan email, kau tandatangani tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Ending ini adalah sungguh di luar dugaan. Sedih. Kecewa. Kaget. Lega. Bahagia. Semua bercampur jadi satu. Tapi aku yakin ini adalah pasti pasti yang terbaik untuk semuanya.
Tidak ada yang perlu disesali, pasti ada blessing in disquise dari semua ini. Biar Dian Piesesha aja yang bilang : bukan perpisahan yang kutangisi, namun pertemuanlah yang aku sesali..
teurimòng geunaséh..
Sorry to bother you, maybe you don’t thing I really try to make it better for you..even I should share my husband by doing POLIGAMI with you. I know you will hurt me, but its me. I do still believe in you, even you are a lier, don’t have a heart to give and not positive thinking of me. But now, its up to you..whatever you will do to me again and again…
(no name) 0878-77x-xxxxx
Received : 05:32:03
22-12-2008
Horee…akhirnya, akhir tahun pun tiba. Gak kebayang akhirnya bisa libur agak lama juga. Tahun lalu masih agak anak baru disini, belum berani ngambil libur lama-lama. Tapi tahun ini ?? Walau bahaya laten (kerjaan) numpuk, thanks God, banyak kemudahan yang aku dapetin dan semua rencana, Insya Allah akan terlaksana. Di kepalaku sudah tersusun rencana selama sepuluh hari ke depan. Pertama, ke Yogya!! Secara gue lahir di kota ini, tapi ajaib-nya gak pernah kesini. Alias numpang lahir. Tentu sama temen-temen seperjuangan dan plus si uncit. Hihihi… Napak tilas!!
Rencana kedua setelah pulang dari Yogya, gak pengen pergi rame-rame, kepikir banget pengen menyendiri di Kebun Raya. Pokoknya satu minggu full harus menikmati Bogor. Di rumah aja atau paling jauh sekitar Baranangsiang, cukup cari WiFi gratisan terus niat mo nulis apa yang sudah terjadi dalam kehidupanku selama satu tahun ini, moga-moga bisa jadi novel (ngarep). Meski satu bulan ini ada kasus berat yang harus aku lewatin, aku berharap ini benar-benar akhir dari semuanya. Semoga tahun baru mendatang, semua yang terbaik dengan semua cinta akan tercurah buatku dan buat orang-orang yang kusayangi..
Makin nge-fans deh sama Rossa dan Pasha Ungu..
Waktu bergulir lambat merantai langkah perjalanan kita
Berjuta cerita terukir dalam menjadi sebuah dilema
Mengertikah engkau perasaanku tak terhapuskanMalam menangis tetes embum basahi mata hatiku
Mencoba bertahan diatas puing-puing
Cinta yang telah rapuh
Apa yang ku genggam tak untuk aku lepaskanAku terlanjur cinta kepadamu
Dan tlah ku berikan seluruh hatiku
Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan cintakuAku pun tak mengerti yang terjadi
Apa salah dan kurang ku padamu
Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan
Karna sekali cinta aku tetap cintaMencoba bertahan diatas puing-puing
Cinta yang telah rapuh
Apa yang ku genggam tak mudah untuk aku lepaskan
Ada kabar baik.. Kata Oie, beberapa waktu terakhir ini aku udah terlihat lebih “normal”. Meski agak gak nangkep arahnya kemana, mungkin bener juga. Mungkin aku udah keliatan “get real”. Gak maen sinetron lagi. Gak ujug-ujug minta ambilin tissue karena nangis yang berderai-derai. Gak mendadak kehilangan mood dan selera makan. Waktu itu, yang bercokol hanya selera makan orang alias marah-marah sama oknum yang sama. Kasian juga dia kena marah terus tiap hari.

Ke-ideal-an “how to control your emotion” lama-lama hanya ada di buku-buku tebel yang sering gue baca. Ternyata lagi-lagi gak segampang itu. Disamping emang udah bawaan orok yang udah doyan ngomel waktu masih di kandungan, ternyata ketidaksiapanku menghadapi satu kehilangan yang sudah di depan mata menambah parah penyakit itu (baca: ngomel tanpa henti). Sampe sempet diinfus dengan selang yang gak betah nangkring di nadi-ku. So…akhirnya walau penyakit itu udah tahap kronis stadium empat, I have to go.. (dun no..maybe coz “something” already left me before..). Karena obatnya memang hanya itu. Pahit, sakit, perih, sengasara jadi efek samping obat itu. Meski harganya mahalllllllllllllll banget dan gak diganti sama Askes kantor atau asuransi pribadi, tetep harus aku beli, untung aja gara-gara itu, gak jatuh miskin sampe harus tidur di mesjid.
Thanks God, aku punya dua ribu fans (halah…hiperbola sebagai artis gagal) yang rela berkorbah hingga titik darah penghabisan buat meyakinkan aku kalo,…semua hal buruk dan penyakit yang sudah terjadi adalah kewajaran biasa bukan kesalahan. Meski berdarah-darah penuh derita, merintih rintih penuh sepi, yellow mellow on the wow.. toh semua akhirnya harus jadi tidak berarti lagi. Life must go on.
Terpaksa aku kutip penggalan sajak basi dari masa lalu yang entah kenapa kerasa nyambung aja sekarang ini
Satu
Perubahan terus mengalir membanjiri lautan hati hingga
ke samudera (baru) kehidupan, agar luas seperti bumi
sehingga tidak sempit, gerah, penat..
Bila berlayar bercinta dengan ombak, karena badai yang
berselingkuh akan cemburu bersama pasang surut.. tak
perlu berhenti, cukup menunggu karena akan membawa
sang dewa, sang dewi melahirkan putri keseimbangan.
Merenung menuju malam..bermimpi akan indahnya harapan
karena bila esok menjadi kenangan,?
Apa yang telah terlewati adalah bagian menggapai nanti
Saat ini adalah semuanya, saat ini menjadi kesempurnaan.
Dua
Dia yang pernah ada, begitu dekat tapi tak tersentuh
Begitu keras, begitu nyaring, suara ini………….
tapi yah!! aku tak terdengar
Dia yang pernah ada, tapi kini tak lebih dari halogram hidup yang rancu, sistemnya telah pudar dicumbu virus berkendaraan kuda trojannnya.
Aku mematung, menjadi tak bergeming..
Dia sudah tiada, yang ada hanya halogram dengan jutaan byte kenangan berkapasitas giga. Mesin berkecepatan tinggi berbahana luas..
Tapi itu tidak berarti lagi.. (Last Cargo, 2004)