d’vicca

..dan aku pun..

Apr 3, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

walaupun,

meskipun,

apapun,

bagaimanapun,

biarpun,

dimanapun, ..

tanpa pernah bisa dipungkiri..

dan tak perlu kuingkari…

I miss you…

to love you more

Apr 1, 2009 Author: vika | Filed under: music n me

lagu lama yang tidak pernah mati..

———————–

Take me back in the arms I love
Need me like you did before
Touch me once again
And remember when
There was no one that you wanted more

Dont go you know you will break my heart
She wont love you like I will
Im the one wholl stay
When she walks away
And you know Ill be standing here still

Ill be waiting for you
Here inside my heart
Im the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more

See me as if you never knew
Hold me so you cant let go
Just believe in me
I will make you see
All the things that your heart needs to know

Ill be waiting for you
Here inside my heart
Im the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more

And some way all the love that we had can be saved
Whatever it takes well find a way

Ill be waiting for you
Here inside my heart
Im the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more

naik becak

Mar 30, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

Selain ngopi ngopi di pinggir kali, satu hal lagi yang paling aku sukai di kota ini. Apalagi kalau bukan Naik Becak. Jangan salah, becak yang dimaksud disini adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor ya, bukan yang tenaganya tergantung dari genjotan si mamang. Kalo dihitung rata-rata, dalam satu minggu mungkin ada lima kali aku numpang di kendaraan ini.  Kadang-kadang kalo kangen naik becak, aku sengaja tidak ikut jemputan kantor. Rasanya seneng aja berada disamping si abang becak dengan dengan semilir angin yang suwir suwir menyapu wajah di pagi hari. Jangan lupa pasar earphone dari HP untuk mendengarkan lagu lagu cengeng. Rasanya indah banget.  Waktu 15 menit, jarak kantor dan rumah seolah-olah jadi moment penuh kenikmatan yang tiada tanding.

Dulu aku waktu masih tinggal di mess yang lama, yang cukup jauh dari pusat kota, aku punya becak langganan. Namanya Bang Imron. Becaknya keren, dengan motor Honda Tiger keluaran terbaru yang semua body-nya dicat biru tua sehingga menimbulkan kesan macho. Si abang-nya pun sangat ramah. Meski hampir semua keluarganya sudah hilang sebagai korban tsunami, garis-garis kesedihan di wajahnya seperti sudah tergantikan dengan semangat juang melayani penumpang (baca: customer) sebaik-baiknya. Bang Imron yang lumayan ganteng ini pun siap dipanggil ke rumah kapan pun. Tinggal sms, tunggu tidak lebih dari 15 menit, ia sudah siap mengantar kemanapun kita mau. Ke pasar, ke kantor bahkan pernah sampai ke Pelabuhan Laut yang lumayan jauh untuk menumpang becak, si abang siap sedia. Itu pun sebelumnya masih pake acara jemput jemput teman dulu. Jatah penumpang yang sebenernya hanya berdua bisa jadi bertiga bahkan berempat yang jadi berlima sama abangnya.  Ketika Mama kesini setahun yang lalu, Bang Imron pulalah yang mengantar kemana-mana. Mengingat aku sendiri tidak punya banyak waktu untuk menemani Mama kemana-mana. Hebatnya lagi, ia sama sekali tidak pernah mematok tarif. Padahal naik becak di Aceh terkenal mahal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang juga menggunakan kendaraan umum jenis ini. Di Medan misalnya, dengan jarak tempuh yang sama bisa lebih murah hingga 60% dibandingkan di Aceh.  Karena pelayanan Bang Imron yang memuaskan ini, aku tidak segan-segan merekomendasikan jasanya ke teman-teman. Hasilnya, semua bermerasa senang atas service yang diberikan si abang.

Dua hari lalu, masih urusan becak aku bela-belain naik becak di tengah gerimis. Berharap ada kisah romantis yang pernah terulang seperti tahun lalu.

Sst…tapi bukan dengan abang becaknya loh.  Siapa nyana, di tengah jalan hujan turun dengan sangat deras. Mau tidak mau harus mampir berteduh, kasian si abng basah kuyup dan aku pun mulai kecipratan air. Walau basah, moment berlindung sesaat di tukang sayur di pinggir jalan menjadikan aku semakin menghayati makna bersyukur. Indah saja.

Sekarang aku jadi sering membayangkan kalau kendaraan ini ad adi Jakarta atau Bogor. Tentu tidak dengan kondisi macet yang bikin orang makin tua di jalan.  Naik becak di Sudirman ?. Tapi bisa jadi, Sudirman toh cukup teduh, asyik kalo bisa naik becak di sini. Hemm.. waktu yang paling oke mungkin sekitar jam empat sore, menjelang orang pulang kantor sambil ber-say hai jika berpapasan dengan seorang teman. Wow !!! Mimpi kali yeee. Ah… irama kota besar memang selalu mengurangi makna kekerabatan…

tanpa inspirasi (maret 2009)

Mar 23, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

Apa yang lebih menyedihkan bagi para blogger selain miskin ide buat nulis? Dan itu yang mendadak aku alami nyaris dua bulan ini. Entah apa sebabnya, mungkin karena kerjaan yang emang lagi numpuk kayak piring kotor atau lagi gak ada orang yang dulu hampir tiap hari ngasih ide buat nulis ini, itu..( Halah.. Itu mungkin bagian gak penting) Miskin ide sama dengan miskin kreativitas. Otaknya mampet, buntu, kesumbat. Padahal otak kalo tidak bekerja sama dengan mati raga. Suatu malam, setelah bolak balik ngeliatin kerjaan di tabel excel dan sambil menunggu jemputan temen untuk nonton Kambing Jantan The Movie, aku coba blogwalking alias menjenguk beberapa blog temen. Ternyata seru juga, banyak yang gak pernah miskin ide. Setiap titik yang dilalui tiap hari ternyata bisa jadi bahan tulisan. Dari urusan bangun pagi, jalanan ke kantor, kentut, ngupil semua bisa diulas. Hebat. Lah..terus ada apa dengan gue yang akhir-akhir ini “kering” banget ? Ada sih beberapa ide curhat yellow mellow. Tapi udah gak jaman lagi untuk menulis hal-hal sentimental seperti itu disini.

Gak kurang akal, aku membuka HP, ngutak ngatik SMS. Mungkin aja bisa ketemu si ide itu. Tetep nihil. Secara seminggu lalu baru saja ada acara penghapusan sms secara besar-besaran dari HPku. Hmmm..ngapain ya ? Melamun kali ya.. Oke, aku coba. Tanpa memegang keyboard kupandangi layar notebook 12” ini. Tetep aja besarnya segitu gak melar atau mengkerut jadi VaiO mini. Huh..Masih gaya cybermania. Buka Facebook, kadang-kadang ada aja comment nyeleneh atau note temen-temen yang kuprediksi bisa memunculkan si ide itu. Hasilnya, tetep nol besar. Ada juga yang muncul ide buat upload foto-foto baru yang temanya Welcome to the narcisme of me. Sebagai penulis kelas curhatan aku merasa sekali, saat emosi cenderung stabil saat ini malah jadi gak punya ide. Huhuhu… Kalau pun ada ya…mungkin masih kalangan terbatas saja yang bisa baca. Jadi memang belum layak dipublikasikan disini.

Ah,.sudahlah, buka aja langsung halaman blog-nya. Ketik huruf yang bisa diketik. Toh katanya penulis penulis besar juga liat sepeda ontel aja bisa timbul ide bikin buku sampe 10 jilid yang setebal bantal. Masa aku yang liat BMW (punya orang) tiap hari gak bisa nyari ide, kecuali ide ngejahilin orang. Malam ini akhirnya setelah nyaris bulan gak sempet sempet , akhirnya bisa menikmati satu novel cemen. Lagi lagi kepikir di otak gue, gila ya..beginian aja bisa jadi ide nulis, gue yang merasa punya pengalaman lebih “kaya” , punya temen banyak dengan tabiat dari gak normal, setengah normal sampe bener-bener normal, gue yang ngerasa hidup gue tuh colorful banget, harusnya punya jutaan ide buat ditulis. Lalu masalahnya apa dong? Setelah gue telusuri selain yang pertama tadi (gak ada lagi yang suka ngasih inspirasi), emang kurang bakat juga mungkin dan yang ketiga yang paling penting alasannya karena gue malas. Malas, saudara-saudara!! Itu bahaya laten yang lebih gawat dari PKI. Gara-gara malas itu, jujur- kadang-kadang aku suka sedikit menyesal, merasa punya waktu yang masih terbuang sia-sia. Kalo lagi punya ide kreatip dikit baik untuk nulis ato buat yang lain, kadang-kadang teredam oleh rasa malas, leyeh-leyeh, ngelamun sambil ngetik ngetik plurk dan facebook mobile lebih jadi pilihan. Berjuang mengalahkan malas ternyata bukan hal mudah. Tekad saja tidak cukup, harus dijalanin. Aku berharap banget, satu bulan terakhir sebelum Insya Allah, meninggalkan Aceh for good, ini aku bisa mengalahkan rasa malas itu dan menghasilkan sesuatu yang pernah aku inginkan. Amienn..

Udah ah..males juga ngelanjutin nulis ini, mending tidur…capek. Kapan-kapan aja disambung lagi.

on a flight

Mar 4, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

Tidak terasa akhirnya aku harus meninggalkan Aceh yang sudah menjadi bagian dari hidupku selama hampir dua tahun ini. Tapi aku yakin tidak hanya untuk dua tahun itu, namun sepanjang tahun dalam hidupku, Aceh akan selalu jadi bagian yang tidak pernah mati.

Dalam sebuah perjalanan yang membosankan,  aku membuka kembali sebuah video tsunami kutipan dari berbagai media. Sedih, miris bercampur jadi satu.  Gempa dan ombak besar yang meluluhlantakkan Aceh itu laksana kiamat yang membunuh 169 ribu jiwa dan nyaris menghancurkan semua yang ad adi sekitarnya. Pada 26 Desember 2004 lalu, ketika pertama kulihat berita bencana ini di TV, sama sekali, tidak terbayangkan jika 2,5 tahun berikutnya aku akan menjadi bagian dari sebuah sejarah bencana terbesar dunia abad ini.

Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika picisan di dalamnya kuyakinkan tidak akan pernah lepas dari ingatanku sampai dunia ini tutup usia.  Ada ribuan kenangan terpatri, bahagia, sedih, duka, suka dan setumpuk makna hidup aku dapatkan disini.  Terima kasih untuk semua yang sudah menjadikanku satu bagian penting dari sebuah prasasti sejarah.

Sejuta cinta dan semua yang terbaik untuk Aceh ..

On a  flight to Jakarta, 3 Maret 2009 08.55 PM

a new friendship or.. ??

Feb 22, 2009 Author: vika | Filed under: tentang aku...

Beberapa bulan yang dia memang sempat menelponku walau hanya miskol. Waktu itu aku belum kenal dia dan sama sekali gak tau nomer HP-nya.  Sementara dia pasti tau nomerku dari HP suaminya. Herannya nomor itu justru aku simpan tanpa alasan apa-apa, selain hanya “feeling” bahwa akan ada “sesuatu” menyangkut nomor itu. Lucu.  Setelah tahu dia itu siapa, seingatku aku memang pernah menelpon untuk “mengakui” semuanya, itu pun setelah “dipancing” olehnya.  Dia pun sempat menelpon beberapa kali yang tentu saja membuat perasaanku jadi tidak nyaman. Ibarat maling aku disuruh ngaku. Hihihi..

Sekarang setelah semua tragedi dengan suaminya berakhir, harusnya dia adalah perempuan pertama yang harus aku hindari begitu juga sebaliknya. Hal ini buatku sangat beralasan; “ngapain juga berhubungan sama istri seseorang yang harus aku enyahkan dari pikiranku”, sementara dia harusnya berpikiran “biar bagaimanapun”, aku adalah perempuan yang pernah mengisi hari-hari suaminya.Dan itu adalah tidak sepantasnya. Setelah aku berjanji “menyelesaikan semuanya”, sangat commonly kita tidak ada “urusan” lagi.  Tapi kenyataannya  cukup aneh, sekarang aku malah merasa makin akrab dengan wanita yang aku panggil “mbak” itu. Memang agak sungkan di awal. Kalo dia nelpon aku bingung harus  bagaimana menanggapi, yang akhirnya hanya membuatku jadi pendengar keluh kesahnya. Namun kian kesini, aku tidak lagi nyaman hanya sebagai pendengar dan mulailah rumpian ala ibu-ibu itu digelar.

Kesimpulanku, dia perlu temen curhat yang mengerti suaminya dan mungkin dia menganggap aku nyambung soal itu. Entah persahabatan model apa ini, tapi aku yakin kita bisa menemukan sahabat dari berbagai cara, termasuk dari “musuh” kita sendiri. That’s what I feel now.. Yang jelas, meski agak ganjil di awalnya, aku menemukan banyak persamaan dengan perempuan yang belum pernah ketemui secara langsung tersebut. Peace Mbak! All the best for you and your family.

sms gak mutu

Feb 19, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

“udah kubuang, dasar orang aneh.. bedangkik. Norak. Gak Jelas, Cuma cari2 masalah aja kerjanya,seakan2 biar hidupnya lebih berwarna, tapi nyatanya orang jadi keganggu..”

Sent by : 08131585xxxx

Received 08:58:54

16-02-2009

 

my life is so colorful

Feb 9, 2009 Author: vika | Filed under: curhat, tentang aku...

Nyaris dua minggu ini agak sedikit “tersiksa” oleh pekerjaan yang numpuk. Tapi untungnya karena udah biasa, “siksaan” itu bisa dibikin enjoy apalagi aku punya temen temen tim yang hebat dan bisa diandalkan ( I love you, gus..). Namun sering juga terlintas betapa membosankannya semua ini dan itu yang akhirnya bikin aku merasa, “Oh No…, gue kayak gak punya kehidupan lain?!!”  Tapi, setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang temen kemarin aku tiba-tiba diingetin kalo hidupku  dengan semua kejadian dan peristiwa yang pernah kualami itu berwarna banget. Asumsi seperti gak punya kehidupan lain mungkin hanya sesuatu yang tanpa kusadari aku “setting” sendiri.  So terrible, isn’t it?

Ingatanku menerawang ke semua hal-hal penting yang pernah terjadi dalam nafasku. Ibaratnya hidup ini penuh dengan milestone.  Lahir dari orang tua dengan budaya yang cukup berbeda, yang membuatku tumbuh dengan gabungan kultur Sulawesi dan Sumatera. Atau paling tidak menambah perbendaharaan bahasa daerah yang aku cukup pahami.  Jadi aku punya “koleksi” saudara yang beda banget adat dan bahasanya kalo lagi ngumpul. Lalu masa kecilku yang menclok dari satu kota ke kota lain menambah koleksi teman-teman. Untuk temen-temen sekolah, aku nyaris gak punya temen TK yang se-SD, temen SD yang se-SMP, temen SMP yang se-SMA dan temen SMA yang sekampus. Semua berbeda. Ketika kuliah pun aku masuk di lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang dari 27 provinsi (btw, sekarang udah 33 ya?) Lagi-lagi membuka mataku bagaimana berbaur dan menyesuaikan diri dengan orang-orang yang datang dari latar belakang yang berbeda. Alhamdulillah bisa dibilang aku masih keep contact dengan teman-teman terdekat yang berbeda-beda wahana itu, meski pun hanya dengan perantara teknologi.

Sebagian masa kecilku adalah bahagia, tapi ada juga bagian lain yang idealnya pada saat itu belum layak aku alami. Namun itu sungguh bukan satu penyesalan justru suatu karunia besar yang kini aku sadari. Belum lagi milestone penting perjuangan Mama untuk aku dan adik-adikku yang akan selalu jadi sejarah penting sampai dunia ini tutup usia. Kalau ingat hal-hal berat kala itu, rasanya aku tidak yakin bisa melewati itu semua. Satu hal yang sudah jadi garis tanganku, bahwa selama ini apapun yang aku capai sama dengan perjuangan. Hampir tidak ada setitik hal kecil yang aku dapatkan tanpa usaha keras untuk mencapai itu. Ngomong-ngomong soal ini, aku pernah “dibaca” oleh seseorang, bahwa katanya untuk memperoleh sesuatu rata-rata aku harus melewati lebih banyak tahap dibanding orang lain padahal bisa jadi itu untuk sesuatu yang sama. In others words, nothing such an easy thing for me. Lagi-lagi itu bukan satu penyesalan yang membuatku menggerutu dan bilang bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau, tapi merupakan satu suratan dan pembuktian; my life is my fight.

Read the rest of this entry »

ketinggalan pesawat

Feb 2, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

Seumur-umur gak pernah telat naek pesawat. Aku selalu inget kalo pesawat itu bukan angkot yang apapun kejadiannya tetep nunggu penuh baru jalan. Biasanya kalo ada teman yang ketinggalan pesawat, aku pasti dengan sukses tertawa tawa penuh kemenangan. Tapi pagi tadi kejadiannya jadi ke aku.Untuk rute rutin Jakarta-Banda Aceh via Medan.

Pukul 3 pagi teng..alarm HP dengan ringtone Senam Kesegaran Jasmani itu membangunkan aku. Bukannya segera beringsut mandi atau paling gak cuci cuci muka (ritual biasa kalo berangkat pagi), aku malah narik selimut. Gerimis mengundang yang mengguyur Bogor sejak semalamnya membuatku lupa, kalo aku gak kenal sama pilot pesawat yang bakal kutumpangi di pukul 5.30-nya (jadinya gak bisa minta tungguin). Tepat 3.30 baru beranjak dari rumah dan tepat pukul 4.00 Damri meninggalkan Bogor menuju Bandara. Jalan menuju bandara hujan deras, so bis yang dingin itu pelan banget lajunya. Saat normal di jam jam dimana maling baru pulang beroperasi begitu, gak rata-rata 45 menit sudah sampai bandara. Tapi tadi.. nyaris 1 .30 menit!

Udah deg-deg-an di counter check-in, pake cara nyerobot antrian pula. Yang dikhawatirkan terjadi : CLOSED! Aku memohon-mohon dan si mas penjaga counter yang lumayan manis itu luluh.. Dia kontak ke dalem, aku nunggu sekitar 5 menit. Tapi hasilnya mengecewakan. Tetep gak bisa ikutan! Bete, Kesel dan mo marah rasanya. Akhirnya dicadangkan untuk penerbangan berikutnya di 09.20 pagi. Itu pun posisinya masih waiting list. Dan kalau pun dapet harus nombok Rp 580 ribu. Wadohhhhhhhhh, bayar sendiri? ? Gak mau dong secara ke Jakarta juga disuruh kantor. Aku coba telpon beberapa temen kantor untuk mastiin kalo bisa reimburst. Good news, bisa katanya meski harus diakalin :D .  Untuk flight yang jam 1 siang udah confirm.  Tapi mikir-mikir kelamaan banget yah..ngapain gue nongkrong selama itu di bandara. Jadi Porter ? Halah.. Tanya tiket untuk keesokan harinya statusnya sama aja.

Akhirnya dengan H2C dan berdoa yang diiringi ngomel-ngomel aku berharap tetap dapat di pukul 09.20. Untungnya ketemu Jolie yang lagi jemput si Ibuk Tia di Terminal 1B. Ngerumpilah disana. Sempet tergoda juga untuk back to Jakarta, trus jalan jalan ke PIM ngikutin rencana mereka. Tapi kalo inget kerjaan yang numpuk dan dedikasi gak penting sebagai seorang karyawan teladan (ciee…) aku batalkan. Tepat 08.40 aku balik ke counter, dan Alhamdulillah dapet!!! Hebatnya lagi..gak perlu bayar 580 ribu tadi! Thanks to si Om yang udah bantuin.

Semua kejadian emang ada hikmahnya,..ketika tiba di Medan, aku dapet kabar kalo pesawat yang gagal aku tumpangi itu telat sampe ke Medan karena cuaca buruk dan terpaksa mendarat di Pekanbaru. Ya..kalo itung-itungan waktu ternyata kurang lebih sama aja.. J

Anyway..kenapa sih harus milih flight yang paling pagi ? Ini gara gara “kewajiban”nonton Tia dan Jolie di missing lyrics pas pukul 13.30. Dengan asumsi kalo berangkat yang jam 9.20 sampe di Aceh mepet, padahal tiket aslinya memang yang 9.20 itu. Dodol kan ? udah bela-belain dipindahin ke 5.30 eh…ketinggalan dan balik lagi ke 9.20! Itu plus acara drama gak penting!!

perempuan itu

Jan 16, 2009 Author: vika | Filed under: Uncategorized

Setelah “kenal” dan beberapa kali berbincang dengan perempuan itu aku merasakan seolah menemukan diriku sendiri.

Cara bicaranya yang meledak ledak

Caranya mengungkapkan emosi

Caranya menyimpulkan sesuatu

Caranya memandang masalahnya

Caranya bercerita yang ceplas ceplos

Gayanya yang berusaha sok tegar menghadapi semuanya

dan semua yang terungkap dari lisannya..

yang akhirnya membuatku bertanya..

benarkah laki-laki itu tertarik pada satu typical perempuan yang sama ?



  • Users 2
  • Posts 163
  • Comments 445
  • Pages 3
  • Categories 8
  • Links 26
  • Tags 48
  • Link-Categories 1
  • Words in Posts 105,785
  • Words in Comments 13,163
  • Words in Pages 6,545

See Me...



RSS detik


www.flickr.com

follow me