kreativitas yang kebablasan

Dalam perjalanan ke kampus menumpang sebuah kendaraan umum beberapa waktu lalu, gw sempat mendengar lagu dangdut yang syairnya begini:

awalnya aku cium-ciuman
akhirnya aku peluk-pelukan
tak sadar aku dirayu setan
tak sadar aku ku kebablasan

ku hamil duluan sudah tiga bulan
gara-gara pacaran tidurnya berduaan
ku hamil duluan sudah tiga bulan
gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Gila, langsung aja berasa shock banget dengan syair yang to the point dan tanpa tedeng aling-aling begitu, tapi herannya lagu itu keinget terus di memori gw. Setelah diselidiki.. *upsss.. ketauan gw penggemar dangdut neh*, banyak juga lagu dangdut lain yang serupa dan parah abis.

(more…)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Memburu Laskar Pelangi Hingga ke Negeri Singa..

yes...got the ticket!!

Kegilaanku terhadap Laskar Pelangi (LP) dan Andrea Hirata tahun 2007-2008 lalu, aku pikir sudah berakhir sejak filmnya dirilis diikuti dengan film Sang Pemimpi di tahun 2010, ternyata belum tuh.. Gue mengoleksi semua buku Andrea Hirata hingga yang terakhir (Sebelas Patriot) dan tentu saja Tetralogi Laskar dan Pelangi serta buku kembar Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas serta beberapa buku tulisan pengarang lain yang ada bau-bau Laskar Pelanginya. Ah, gw sempet gila gara gara Bang Ikal ini. Jadi inget pertama kali hunting dia di Unsyiah awal 2008 lalu. Gue juga sempet ngeblog tentang ini, di beberapa tulisan gue; Nonton Buku Baca Film, Sekte Penyakit Gila, Laskar Pelangi The Movie is Coming dan My Maryaman Karpov. Bahkan tanpa sengaja gw juga pernah ngopi bareng Bang Ikal ini di sebuah warung kopi di Banda Aceh pertengahan Maret 2011. Dibayarin pulak!!

Fenomena buah tangan Andrea Hirata ini ternyata tidak berhenti sampai disini saja, tahun 2010 mulai digagas pementasannya dalam bentuk drama musikal. Yah, gw emang ketinggalan nonton di putaran pertama. tapi ternyata pertengahan tahun ini, ada lagi dong… dan meski di detik detik terakhir, gw sempetin juga nonton dengan @rpoppy. Kesan gw: speechless dan amazing.. dan gw nangis aja gitu di adegan pertama ketika Bu Muslimah dan Pak Arfan menunggu 10 murid untuk memulai sekolahnya. . Kesan lain, Dira Sugandi (@dirasugandi) berhasil memerankan Ibu Muslimah dengan suaranya bikin merinding. Secara gw ngefans banget sama Dira. Anak-anak yang main pun sangat natural, suranya bagus, tata panggungnya keren dan mereka semua nyanyi live dengan olah vokal yang..yaa ampun,..gw pasti malu kalo ikut karaokean sama mereka.. Hihihih… Pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang (kalo gak salah) sampai dua minggu dengan rata-rata 2 show per hari itu, sukses berat. Nyari tiketnya kalo gak buru buru susaah, penonton selalu penuh bahkan gak sedikit yang nonton lebih dari sekali. Padahal harga tiketnya gak bisa dibilang murah, wong yang paling bawah Rp 150.000 per seat (Rp 100.000,- pada saat presale) hingga Rp 500.000,- Gue aja dapet tiketnya dari orang yang batal nonton dan itu untung dapet!!

Eh, tau tau dapet kabar..awal Oktober ini Musikal LP diundang pementasan dalam rangka Pesta Raya-Malay Festival of Arts di Esplanade Singapura , salah satu gedung pementasan paling besar di Asia. Dua bulan sebelum itu, lagi lagi bersama @rpoppy, planning pun disusun. Alhamdulillah, gw dikasih rejeki dan waktu buat mampir kesana buat nonton LP dengan atsmosfir Esplanade yang lebih megah dibandingkan TIM, Jakarta. Daan gilaaaa… theatre dengan kapasitas 2000 orang itu penuh!! Penontonnya pun mayoritas orang Singapura. Seperti biasa, gw tetep mewek di adegan menunggu 10 murid, meski setelah itu ngakak abis ngeliat tingkah Kucai yang kecil, kerempeng , jahil tapi luwes banget dan punya suara yang mantap!! Aduh, dek.. (eh, nak..) kamu latihan nyanyi dimana sih?? Tante ikutan dunk… :D Tidak ada bagian yang berbeda dengan pementasan Jakarta bahkan propertinya pun nyaris sama, gw pikir bisa jadi sepeda ontel dan kaleng kalengnya juga dibawa dari Jakarta. Hehehehe..

Dengan harga tiket S$28 atau kira kira setara Rp 200.000, Laskar Pelangi Musikal di Esplanade ini, kata gue.. kereennnn bangettt.. Apalagi, gw dapet duduknya di tiga baris pertama yang bisa ngeliat para pemain dari jarakkk sangatttt dekat… Kalo di Jakarta untuk kursi di posisi itu harga tiketnya bisa jadi sampe Rp 500 ribu! Denger denger dari temen, pemerintah Singapura sangat mendukung acara pagelaran seni seperti ini, makanya dapet subsidi.. Hehehhe.. silakan Anda bandingkan dengan pemerintah Indonesia, negara kita tercinta ini.

Udah gak tau mau me-review apalagi. Pemainnya keren, ceritanya oke, panggungnya bagus, musiknya luar biasa,..hanya sayang lampu pelanginya macet gak nyala. Setelah selesai pertunjukan yang total lamanya hingga 3,5 jam itu, penontonnya ber-standing applause nyaris nonstop hingga tiga menit. Bukti bahwa hasil karya anak bangsa bisa diterima tidak hanya di Indonesia. Bangga aja gitu sama Indonesia. Selamat untuk Laskar Pelangi.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

what you would be in next five years?


source: http://blogalwafa.blogspot.com/

Lima tahun lalu, dalam sebuah interview pekerjaan saya ditanya : what would you be in next five years? Kala itu saya perlu berpikir 20 detik sebelum akhirnya menjawab: saya ingin jadi manajer.  Beberapa hari lalu saya ditanyakan hal yang sama dan tanpa berpikir panjang saya jawab : I wanna be a mom yang kemudian saya tegaskan menjadi  “a working mom”  yang disambut dengan tertawa oleh para interviewer. So far, saya belum mencapai sepenuhnya jawaban saya lima tahun lalu, tapi Alhamdulillah saya pernah dan sedang duduk di posisi manajerial, meski gak tinggi tinggi amat dan masih banyak ruang yang bisa saya perjuangkan, tapi saya sudah bersyukur.

Mungkin saya gak sekonsisten Andrea Hirata yang sejak kecil memang sudah bercita cita kuliah di Sorbonne, Perancis atau gak segigih Iwan Setyawan penulis Nine Summer Ten Autumns yang cuman punya satu cita cita yaitu punya kamar tidur pribadi hingga ia mencapai posisi Direktur di sebuah perusahaan kelas dunia di New York.  Tapi buat saya perubahan itu wajar termasuk perubahan cita cita. Waktu masih kecil cita cita saya malah ingin jadi dokter hewan karena keluarga saya, pencinta binatang yang memelihara banyak hewan di rumah Lulus SMA lucunya malah saya nyaris tidak punya cita cita dan terdampar di Fakultas Perikanan, IPB.

Jawaban terakhir tadi, mungkin dipicu  saya yang sudah mulai bosan dengan ambisi pekerja kantoran pergi pagi, pulang malem demi eksistensi diri. Saya sudah tidak punya banyak keinginan untuk jadi manajer besar apalagi direktur.  Saya masih perempuan biasa yang tidak  ingin kebablasan dengan istilah emansipasi. Masih pengen jadi Ibu, ngurus suami, anak-anak, mencoba resep ini-itu, sibuk dengan belanja bulanan  dan harga sembako yang terus naik dan ngomel ngomel sama suami yang pulang telat. :D   Biar begitu, saya masih selalu ingat pesan Ibu saya bertahun-tahun lalu bahwa apapun alasannya,  seorang perempuan, ibu, istri harus tetap bekerja produktif yang menghasilkan uang. Ada fungsi “jaga jaga”  disini, kita tidak bisa memastikan masa depan rumah tangga dari sisi ekonomi salah satunya jika suami kehilangan penghasilan utama. Kalau bukan istri yang menopang, siapa lagi?!  Ini kejadian di keluarga saya, ayah meninggal dunia di usian 40an saat kami anak-anaknya masih dalam usia sekolah yang butuh biaya banyak, sementara keluarga tidak punya tabungan apalagi asuransi yang cukup.

Sekarang buat saya, mengamalkan, menggunakan dan menyebarluaskan ilmu yang saya punya untuk kepentingan banyak orang itu sudah luar biasa. Malah kepikir kalau sudah lebih mapan secara ekonomi saya ingin punya kegiatan sosial yang membantu anak anak putus sekolah. Kasian di jalan masih banyak anak-anak yang “dipaksa” mencari nafkah di jam-jam yang harusnya mereka duduk manis mendengarkan gurunya.  Semoga yang ini akan tercapai dalam lima tahun ke depan, Amin. Sumpah, ini bukan cita cita sok  idealis,..tapi masih sungkan dan malu aja kalo diomongin di sebuah interview kerjaan. Pun kata orang, kalo ada niat baik, katanya pamali belom apa apa sudah bilang kemana mana. *loh..kok ditulis di blog?* Hehehehe

Apapun itu, semoga lima tahun ke depan saya menjadi manusia yang berguna buat orang lain. Amin..

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

jangan sedih yah…

Jangan Sedih.. (Indah Dewi Pertiwi)

ku tlah berusaha sadarkanmu, bahwa hanyalah diriku
yang paling mencintaimu, sampai nanti
tapi tak pernah kamu mengerti
tetap kamu ingin putus,
untuk lebih memilihnya,
daripada kamu memilih ku selama hidupmu

….

http://www.flixya.com/photo/1904240/Dont-be-sad-darlin

reff:

jangan sedih bila aku nanti, dapatkan kekasih yang lain
yang lebih sempurna dibanding kamu, yang pasti ku lupa
sungguh kamu pasti menyesali, keputusanmu saat ini
tuk meninggalkanku, melepaskanku, yang tak mungkin lagi kembali

Yuk, sama sama dengerin, download disini

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

People (maybe) change? forever?!..

Masih inget dulu gimana kamu delete aku dari contact list BBM-mu, unfollow twitter–ku setelah sebelumnya aku juga sudah me-remove kamu dari FB dan YM –ku. Sumpah, kalau orang cerai mungkin udah jadi kayak orang talak 50. Udah gak mau kenal dunia akhirat lagi. Lucu sih. Tapi entah darimana asalnya tiba tiba kamu balik lagi, lagi banyak PR ya? Gak ada temen buat diskusi kerjaan dan kuliahmu yang bejibun itu? Atoo baru putus pacaran? Apapun alasannya kamu kan selalu begitu, udah separah parah apapun antara kita, kamu tetap kembali lagi tanpa beban dan seolah-olah kemarin tidak pernah terjadi Perang Dunia ke 8 diantara kita.

sumber : http://zhooels.multiply.com/journal

Menjalani banyak waktu denganmu memang melibatkan banyak perasaan. Dulu, terkadang aku merasa sangat dibutuhkan mau kemana aja dicariin, dipuja-puja, dilibatkan dalam setiap proses penting di hari-harimu. Ah apalah namanya, pokoknya lebay. Tapi tidak jarang juga aku dicuekin, kayak gak kenal, dianggap teman selintas doang, dibilang: “emang lo siapa?” yang beda banget dengan sifat lainmu yang sangat demanding ke aku. Sudah banyak cerita yang kita lalui, yang enak dan gak enak. Sudah banyak juga orang orang yang datang dan pergi diantara kita. Terlalu naif, seandainya kamu tidak menyadari itu. Aku tau banget, kita punya “perbedaan” yang cukup signifikan, yang menjadi dasarmu untuk “meng-ignore” semua itu. Tapi semua sikapmu, perlakuanmu meski ada jarak geografis yang jauh diantara kita tidak menyurutkan tanda betapa pentingnya aku buat kamu. Ke-GR-an kali kalo aku bilang: what can you do without me?! Seingatku, sejak kita kenal, sebelum memutuskan sesuatu hal apa yang tidak kamu diskusikan ke aku? Memang semuanya up and down, datang dan pergi, penuh pasang surut tapi itu kan kondisi normal untuk sebuah”relationship” yang normal. Iya kan?!

(more…)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

pengen tinggal di apartemen

Hahahhaha..baca judulnya, pasti banyak yang ngetawain gue. Kasiaannn deh loo.. Tapi entah kenapa tiba tiba aja gue kepikir gimana rasanya tinggal dalam jangka waktu lama di gedung bertingkat tinggi banget itu. Mungkin juga dipicu faktor kebutuhan suasana baru setelah bertahun tahun menjalani Jakarta Bogor yang menyenangkan (baca: membosankan). Ditambah lagi setiap hari melihat kepungan gedung gedung tinggi di Jakarta, rasanya lucu juga tuh kalo menetap disana. Trus kayaknya nih gaya orang Indonesia, kalo tinggal di apartemen itu udah gaya banget, masuk kelas up up alias high high gitu deh.. Wajar sih, secara harga apartemen di Jakarta mahal beinjett, meskipun sekarang sudah banyak juga apartemen yang menyasar golongan middle. Padahal konon di luar negeri yang tinggal di apartemen (sebutan lain buat flat) justru mereka yang gak mampu beli rumah berhalaman seperti umumnya dimiliki orang Indonesia. Hihihihihi..

sumber: http://www.randomclipart.com/217-cartoon-house-with-solar-panel/

Ya udah deh, selama belum mampu gimana kalo kita nge-kost aja? Katanya kost kost-an di Jakarta sudah banyak juga yang mempunyai fasilitas layaknya apartemen tapi toh..harganya gak jauh beda. Ok, kalo gitu biar mirip mirip tinggal di gedung bertingkat gimana kalo kita coba pindah ke Rusun? Ini gak deh, soalnya pengalaman temanku , lift di rusunnya hanya beroperasi hingga jam 9 malam. Jadi lewat jam itu, kita harus naek tangga. Huaaa.. ,mabok dong kalo kamar gue di lantai 8! Gak cocok banget buat gue yang pulang rata-rata jam 10 malem. Gempor duluan tiap hari. Belum lagi kalo perlu apa apa kudu olahraga naik turun tangga yang lumayan berat itu.

Dipikir pikir yaaa, emang lebih baik kita kembali ke rumah yang menyentuh tanah, punya halaman, punya tetangga yang bisa selalu bisa berinteraksi, tidak tergantung sama AC, bisa nunggu abang sayur, abang somay dan abang bakso lewat dan satu lagi kita bisa piara ayam!! Di rumah sering kan sering ada nasi tersisa. Kalo dibuang sayang,.. jaman dulu sih nenek saya dikasih sama ayamnya.. Nah, kalau tradisi ini kita teruskan selain menjaga daya dukung lingkungan (carrying capacity) juga bisa mendukung siklus mata rantai kehidupan yang lebih baik.

Apartemen memang keren, deket pusat kota, nyaman dan symbol prestisius kondisi ekonomi seseorang, tapi lihat deh, sudah berapa banyak kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tidak terkontrol. Mari kita dukung dengan kembali ke rumah kita yang sebenarnya.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +1 (from 1 vote)

Dari Temen Jadi Demen

source: http://fetihabsari.blogspot.com

Gue sebenernya gak terlalu percaya ada persahabatan yang murni benar benar persahabatan antara SATU orang cewek dan SATU orang cowok. Bedanya tipis dan absurd banget.  Sahabat itu istilah yang sedikit lebih tinggi dari sekedar teman, tapi kalau tidak di-“maintain” dengan hati-hati, hati hati!! hati manusia tidak terbuat dari batu, perasaan itu lembut seperti awan, perlakuan yang biasa yang dilakukan secara konstan dan terus menerus mudah sekali memelencengkan hati *maap, gak nemu kata lain*  Hubungan pertemanan yang sangat dekat selalu melahirkan rasa ingin memiliki dan rasa tidak ingin kehilangan yang bisa berdampak lain terhadap arti persahabatan.

Gue yakin banyak yang gak setuju dengan pendapat gw, dengan beralih: “Ah, gw punya tuh sahabat cowok/cewek, baik baik aja.. bahkan sudah jadi kayak saudara!” Nah disinilah bedanya,.. Kalo sudah jadi saudara, cara kita me-maintain hubungan itu pasti beda. Hemm.. Gimana ya..agak sulit jelasinnya. Kita pake contoh aja mungkin lebih baik. Misal, sahabat itu menurut gue gak telponan atau sms-an, dll tiap hari, gak selalu ingin tau atau memberi tahu kegiatannya setiap hari ke sahabatnya. Gak juga punya acara rutin buat ketemuan atau curhatan. Lebih lagi, sahabat gak boleh marah (a.k.a) kecewa kalo sahabatnya tidak bisa memenuhi satu keinginan. Kepada sahabat kita bebas bercerita tentang gebetan kita, kencan kita atau kisah kisah patah hati kita.. Kala hubungan itu naik jabatan menjadi lebih dari sekedar sahabat, kita akan sungkan bercerita tentang “orang ketiga” yang tanpa kita sadari sebenernya mengindikasikan gak mau dia kecewa atau kita gak pengen dia ninggalin kita karena kita punya “orang lain”. Iya kan? Hayo ngaku..

Dengan sahabat umumnya kita bisa tampil apa adanya seperti kita, tapi dengan orang yang  (akan) naik pangkatnya menjadi lebih dari sahabat, pasti kita sering ingin terlihat lebih sempurna. Apalagi disaat-saat awal perubahan hubungan. Misalnya lagi kalau kita punya gank sahabat yang terdiri dari beberapa orang cewek dan cowok. Kalau dari salah dua diantaranya mulai tercium aroma naik pangkat ini, pasti mereka sering memisahkan diri alias sering bikin acara berdua saja, tapi belum tentu berarti menjauh dari kelompoknya.

Selanjutnya, saat  sebuah hubungan persahabatan bergeser, misal perhatian yang mulai lebih, komunikasi yang lebih intens, intonasi dan cara bicara kita ke dia yang berubah, kita pasti akan mulai berpikir ada yang berbeda. Ada yang segera menyadari dan mulai mencoba membalikkan kondisi seperti sebelumnya alias meng-ignore semua itu. Tapi gak sedikit juga yang cepat menyadari bahwa ada “sesuatu” yang mungkin bernama “cinta” dan tidak menghindari hal tersebut bahkan mencoba memperjelas hubungan dari “temen jadi demen” ini.

Kata orang bijak cinta itu bisa datang ke siapa saja dan kapan saja tidak terkecuali ke sahabat kita sendiri. Doel Sumbang dalam satu lagunya malah bilang:

Jangan berkata tidak, bila kau jatuh cinta,

Terus terang sajalah buat apa berdusta.

Cinta itu anugerah maka berbahagialah, sebab kita sengsara bila tak punya cinta…

(Arti Kehidupan)

 

 Kata Band Zigas gak  jauh beda :

Tak bisa hatiku merapikan cinta

Karena cinta tersirat bukan tersurat

Meski bibirku terus berkata tidak

Mataku terus pancarkan sinarnya

(Sahabat Jadi Cinta)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Ketemu Hantu

Kejadian ini sebenarnya sudah agak lama sekitar tahun 2005 -2006. Tapi boleh jadi, ini salah satu cerita paling “bersejarah” dalam hidup saya.  Pada tahun itu saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Baranangsiang Bogor. Tidak ada kesan yang menyeramkan, karena rumahnya di kompleks pegawai yang cukup padat namun asri. Saya memang lebih sering sendiri di rumah karena keluarga saya memang tinggal di kota lain.

http://serba-serbi.pantura.us/page/3/

Saya terbiasa tidur dengan mematikan lampu. Suasana gelap memang membuat tidur lebih nyenyak karena produksi hormon albumin di tubuh (semoga tidak salah) menjadi lebih banyak.  Malam itu pun demikian, saya tidur menghadap kiblat dengan lampu yang total gelap. Menjelang subuh, saya tiba tiba terbangun sebelum jam weker  yang biasa berbunyi tepat pukul lima pagi, berdering. Tanpa sadar saya melihat sesosok tubuh diujung kasur saya menatap saya dalam dalam dengan rambut tergerai panjang nyaris menutupi wajahnya. Karena baru bangun dari tidur, saya pun belum sepenuhnya sadar hingga dalam hitungan beberapa detik saya bertatapan dengan mahluk itu.  Ketika tersadar, saya langsung membaca beberapa ayat yang saya tahu dan berdiri menyalakan lampu kamar saya. Tepat setelah itu azan subuh pun berkumandang.

Setelah sholat subuh, barulah ketakutan menghampiri saya, hingga rasanya pengen cepet cepet matahari terbit dan semua perasaan gak enak itu hilang. Penampakannya nyaris persis seperti yang sosok yang sering digambarkan di berbagai acara televisi atau gambar gambar di media yang sering kita lihat. Rambut panjang, berbaju putih dengan muka hitam nyaris pucat dan tanpa ekspresi. Saya yakin sekali, orang orang yang menggambarkan sosok itu pasti pernah melihat asli-nya seperti yang saya lihat. Gambaran hantu, lucu, imut dan baik hati seperti Casper sama sekalii gak ada.. Bego’nya, saya sama sekali gak kepikir buat minta foto bareng.. Hehehehehe..

Seminggu penuh setelah kejadian itu saya gak berani tidur sendiri. Kalau pun terpaksa sendiri, saya memilih tidur di ruang tengah dengan TV menyala hingga pagi.

Masih di rumah itu juga, beberapa teman saya sempat menelpon saya via telepon rumah pada saat rumah itu kosong, anehnya mereka meyakini ada yang menjawab panggilan telepon (suara perempuan) dan bilang bahwa tuan rumahnya lagi keluar. Ihhhh.. syeremmm yaa..

Kejadian cukup bikin merinding lainnya adalah saya sempat kehilangan uang sebesar Rp 200 ribu (dua lembar seratusan) yang saya simpan di saku celana jeans yang saya pakai hari itu. Uang itu saya lipat kecil dan celananya digantung di dalam kamar pas jam 12 malam menjelang tidur. Paginya, saya berniat mencuci semua pakaian kotor termasuk celana itu. Dannn.. jreng jrengg..uang itu tidak ada disitu!! Gak mungkin jatuh, kan? Wong dari semalem digantung di belakang pintu kok!  Lagian tengah malam memang tidak ada siapa siapa di rumah itu, selain saya.  Ya sudahlah, meskipun merasa sangat aneh dan masygul saya coba ikhlaskan. Siangnya, karena itu hari Sabtu agenda saya adalah membereskan rumah dan membersihkan tumpukan barang barang yang tidak terpakai.  Tau gimana kelanjutannya?? Ya Allah, saya menemukan uang itu di dalam sebuah rice cooker yang sudah lebih dari tiga bulan tidak terpakai dengan tutup yang berdebu karena tidak pernah disentuh. Hebatnya, masih dalam lipatan yang sama seperti di saku celana. Sedikit gak masuk di logika saya, tapi saya meyakini Tuhan memang menciptakan mahluk lain selain manusia. Ngomong ngomong itu hantu mbok ya, kalo mau ngutang bilang aja terus terang,,gakpapa kok… :D

Selidik punya selidik, ternyata (kata tetangga sebelah) di rumah itu memang ada perempuan yang pernah meninggal karena bunuh diri, tapi ceritanya memang tidak terlalu banyak diungkap di masyarakat sekitarnya.

Wallahualam Bissawab,  semoga semuanya bisa menambah keimanan kita kepada Allah SWT.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Banci Kabel

Penggunaan kata banci beberapa tahun belakangan ini memang mengalami pergeseran makna. Secara hakiki, banci adalah sebutan untuk kaum laki laki yang berkelakuan atau menyerupai perempuan. Tapi sekarang banci jadi sebutan “gaul” untuk orang yang maniak terhadap sesuatu atau terus menerus melakukan satu hal. Eh, maaf ini definisi saya saja yah.. Kalo salah mohon dikoreksi.

sumber : http://capcipcus.com/page/13

Seingat saya, dulu ungkapan banci sering sekali ditempelkan dengan kata foto jadinya banci foto yang ditujukan kepada sebuah mahluk yang kerjanya doyan foto-foto. Dimana-mana foto dia, mau tampang jelek  dan sama sekali tidak fotogenik juga gak peduli, pokoknya doyan berfoto-ria meskipun hanya sebagai latar belakang. Lalu ada lagi istilah banci tampil. Ini lebih eksis lagi dibanding hanya sekedar banci foto. Gak malu tampil ke panggung, percaya diri di depan orang banyak dan selalu eksis di setiap kegiatan. Itulah cirri ciri banci tampil. Berkembangnya sosial media, juga menimpulkan istilah baru salah satunya banci debat. Nah, ciri ciri orang yang satu ini demen mengomentari segala macam twitter orang pasti dari sisi yang berbeda dengan tulisan aslinya. Aktivitas reply dan retweet-nya dipastikan selalu tinggi setiap harinya.

Masih nyambung nyambung ke teknologi, menurut saya yang sekarang paling in adalah banci kabel. Bukan kabel listrik di rumah ya, tapi ini kabel yang berhubungan sama charger. Meski sudah ada charger wireless tetap fungsi benda berkabel ini belum tergantikan secara utuh. Perhatiin deh kalo keluar rumah,saya yakin minimal di tas kamu ada satu buah charger misalnya charger handphone. Buat mereka yang tinggal di Jakarta dan tua di jalan, gak mungkin cukup hanya dengan satu kali nge-charge di rumah, beterei gadget cukup menemani sehari penuh hingga larut malam. Mau gak mau deh tuh kabel diajak, termasuk diantaranya charger untuk di mobil.  Selain handphone – yang minimal satu unit dan sering beda merek (berarti beda charger)- pasti ada charger laptop. Belum lagi sekarang marak PC Tablet, charger iPad, GalaxyTab semua juga akhirnya ikut piknik bersama. Rempong ya, bokk.. Jaman dulu keluar rumah cukup bawa dompet, sekarang boro boro, benda benda yang disinyalir berdampak buruk terhadap lingkungan ini, sudah menjadi must item to bring buat hampir semua orang. Bahkan menurut sebuah survei, banyak orang yang lebih khawatir ketinggalan handphone (baca:kabel) daripada ketinggalan dompet. Ckckckckck… I know you are one of them :D

Oya, temennya banci kabel ini namanya banci colokan. Kemana mana merasa lebih aman di tempat yang ada colokannya. Nyari tempat duduk di kafe dekat colokan sampe ke karaoke pun tetep pengen colokan (Eh, yang terakhir ini mah sayah.. hihihihih)

Bayangkan, handphone mati sebentar saja, seolah-olah sudah merasa hidup dalam di pengasingan. Padahal belum tentu juga tuh handphone dipake buat kegiatan produktif, paling banyak untuk cek timeline, status update dan baca email (yang belum tentu urgent). Heheheheheh. Saya sendiri kalau keluar rumah minimal bawa satu charger, buat blackberry yang emang cepet habis batereinya.  Saya juga selalu membawa kabel data yang lebih ringan dan bisa menggantikan fungsi charger. Handphone kedua, saya pilih yang agak katro yang hemat energy dengan fungsi cukup buat sms dan telpon saja. Ini buat jaga jaga untuk kondisi dimana smartphone sejenis BB tau tau batereinya habis, tidak ada colokan dan sangat perlu berkomunikasi dengan orang. Kita tentu semua tahu, berbagai macam aplikasi online berkekuatan tinggi untuk menghapiskan energi semua perangkat elektronil. Jaman memang sudah berubah, kita tidak mungkin kembali menggantungkan komunikasi dengan telepon rumah apalagi telepon umum koin. Kondisi ini adalah konsekuensi semua itu. Saya berharap nantinya ada satu charger dan satu jenis input saja untuk semua gadget. Dari laptop, handphone, iPad, iPod hingga kamera digital. Amin

 

 

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Jam Weker

Setelah melakukan perenungan dengan seksama dan mendalam (sambil menghela nafas) saya pikir satu satunya mahluk di dunia yang paling konsisten dan selalu tepat waktu selain beduk/azan sholat adalah jam weker, ada juga yang menyebutnya jam beker. Sekarang sih, sudah lebih umum orang menggunakan alarm di telepon selular untuk menggantikan fungsi weker ini.

source: http://hendrik-online.blogspot.com/2011/04/alarm-clock.html

Coba bayangin, dia tidak pernah telat bekerja dengan berbunyi nyaring di setiap waktu yang dikehendaki oleh si empunya. Meski yang punya lebih sering mematikan lalu tidur lagi (bahkan kadang dengan marah marah), ia tidak kecewa apalagi putus asa. Besoknya di jam yang sama ia kembali melakukan aktivitas itu. Pada beberapa handphone, alarm ini bisa tetap menjerit jerit meski  waktu berbunyinya sudah habis selama pemiliknya belum memencet pilihan “dismiss”. Filosofinya, jam weker memang tidak pernah menyerah dalam bekerja, meski sudah ditolak berkali kali bahkan dimaki maki, ia tetap datang dan selalu datang. Pun tanpa disadari ia sangat dibutuhkan oleh jutaan manusia (apalagi yang tidurnya kayak kebo). Walau sering dibenci, weker ternyata juga sangat dicintai. Banyak sekali orang yang kebablasan tidurnya dan melewatkan berbagai kesempatan penting gara gara gak ada yg bangunin atau wekernya mogok (karena batereinya habis).

Ngomong ngomong soal jam weker, ketika saya masih kecil, hadiah paling berkesan yang diberikan (alm) ayah saya adalah sebuah jam weker kecil berwarna biru berbentuk rumah lengkap dengan cerobong asapnya. Jam ini tidak menggunakan baterei, tapi masih dengan sistem di-engkol (yang gitu deh, diputer puter sampe mentok puterannya). Minimal dua hari sekali harus diengkol agar mesinnnya tetap berjalan dan bekerja dengan optimal. Duh, sayang saya gak sempet mengabadikan si weker biru ini. Weker ini bahkan menemani saya hingga lulus kuliah di IPB. Jangan ditanya bunyinya, satu kost bahkan tetangga kost bisa bangun semua saking nyaringnya. Karena sudah tua, jam weker ini sudah lama pensiun dan wafat. Menyesal rasanya, karena saya tidak menyimpan jasadnya. Hiks

Mungkin sekarang penggunaan jam weker sudah sulit ditemukan. Manusia manusia modern sudah menggunakan alarm digital pada handphone-atau berbagai gadget lainnya sebagai reminder. Tapi apapun wujudnya, sejatinya mereka bersaudara. Saudara yang sama sama berjasa. Bukan hanya untuk menggantikan kokok ayam jantan (jadul dan sangat berbau pedesaan), tetapi juga mengingatkan hal hal penting dalam hidup kita yang kadang tidak semua cukup ditampung di memori otak manusia yang (semakin) terbatas. Mulai dari alarm bangun tidur, meeting, janji kencan hingga tanggal tanggal penting seperti ulang tahun sahabat, keluarga pacar atau tanggal pernikahan. Bahkan saya pernah menghadiahkan sebuah jam weker untuk seseorang yang sempat istimewa, dengan harapan kalau si weker pagi pagi bunyi, dia selalu ingat saya. Hihihhi.. Maaf, bagian ini memang agak alay. :D

Wajar saja, kalau jam weker sebenernya bisa jadi salah satu penemuan paling penting dalam sejarah hidup manusia. Kita semua berhutang budi kepada penemunya.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)