being a stalker

Munculnya bermacam macam sosial media harus diakui memang membuat hidup menjadi lebih mudah, terutama dalam soal informasi.  Hanya dengan meng-RT satu pesan di twitter berita kecil jadi terasa sangat penting dan mendapat sorotan tajam. Belum lagi banyak orang orang yang mendadak menjadi selebriti di dunia maya cuman karena tulisan pendek sepanjang 140 karakter di twitter.

http://www.penn-olson.com/2009/10/18/20-hilarious-twitter-comic-strips/

Tapi saya bukan mau bahas itu, udah bejibun tulisan yang mengomentari soal fenomena sosial media.  Buat saya sendiri, dengan sosmed saya jadi tau terlalu banyak tentang seseorang atau orang lain diluar yang orang itu pikir. Wah gimana tuh? Kalo bahasa kerennya saya sering jadi “stalker” alias menyelidiki seseorang melalui jaringan sosialnya. Kalau jaman dulu, media curhat mungkin hanya buku harian yang disimpan rapat rapat di lemari dan nyaris jadi barang dengan tingkat confidential yang sangat tinggi, kini hampir semua orang doyan curhat di internet. Banyak yang mengungkapkan ide, gagasan dan pemikiran tapi lebih banyak lagi yang mengumbar masalah pribadi yang akhirnya jadi tidak pribadi lagi. Wah, ini sasaran empuk banget buat tahu “dapur” seseorang bagi detektif cap kacang buncis seperti saya.

Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu ada karyawan baru di kantor saya, gayanya sih oke, percaya diri dan keliatan cukup cerdas. Eh, siapa nyana gak sampai dua minggu ia pamit pulang ke kampungnya di Medan sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan alasan masalah orang tuanya yang sangat mendesak.  Lucunya ia juga tidak mengajukan surat pengunduran diri, dengan alasan jika sudah selesai ia akan kembali aktif. Ini pasti alasannya karena gak enak “baru dua minggu”. Membaca gelagat yang kurang enak, saya yang ada bakat dikit jadi paranormal KW 5, iseng meng-googling namanya berharap ketemu facebook, twitter atau sejenisnya untuk tahu bagaimana anak baru itu sebenernya. Dan ternyata, kebohongan besar terungkap, saya menemukan akun twitternya yang sejak seminggu sebelum ia keluar sudah sesumbar akan pindah kerja. Malah pake embel embel, “enak banget dapet tawaran kerja di dua tempat sekaligus”.. Bego-nya lagi, ia “lupa” atau gak ngerti sehingga map location-nya terlihat di timeline-nya. Jreng jreng…daan ia masih ada di Jakarta!!  Manajer HRD kantorku seperti kebakaran jenggot. Kalo saya sih mikirnya, duh..gw jangan sampe deh dikadalin sama anak kemaren sore. Lucunya  lagi ketika dikonfirmasi, ia bilang, akun tersebut di-hack seseorang. Sesuatu yang sangat mustahil mengingat dalam satu minggu terakhir hingga pagi harinya ia terus menerus bicara tentang kepindahan kerjanya itu. Kadung ketahuan, besoknya saya cek lagi, akun itu sudah gak ada.. Hahahahahaha.. *ketawa penuh kemenangan*

Contoh yang jelek bukan?  Makanya hati hati deh, meski di list follower, kamu yakin gak ada orang yang berhubungan dengan “rahasia”-mu, inget.Mbah Google itu luar biasa jago dan banyak orang yang lebih cerdas dari kamu di luar sana. Kecuali kalo kamu memang pengen eksis dan ngetop sih, beda perkara tuh..

“Fungsi” lain lagi (ini sebenernya gak baik diikuti), saya pribadi beberapa kali mem-follow seseorang bahkan dua atau tiga orang untuk mendapatkan info tentang orang yang lain lagi :D Hihihihihi. Sasaran utamanya biasanya bukan orang yang sangat aktif di internet, so untuk tau lebih banyak tentang dia, bisa dengan mengamati timeline lingkungan sekitarnya yang sangat membantu (sekali lagi: hihihihi…). Memang sih, apa yang dituangkan dalam 140 karakter itu gak selalu bisa menggambarkan isi hati atau kondisi penulisnya, tapi paling tidak ..banyak sekali yang bisa diraba dari sana, tinggal bagaimana kita secara cerdas bisa mengolah informasi itu (ceilee..berat bener bahasanya..) Bukan itu saja, dengan mem-follow satu orang kita bisa menjumpai orang orang lain disekitarnya yang pasti ada hubunganya dengan sasaran kita. Kan pada dasarnya dunia setiap orang itu seperti lingkaran, udah kemana mana ujungnya tetap di sana sana juga. Oya, tips dari saya, kalau semua info sudah terkumpul, lebih baik kamu stop mem-follow atau me-remove orang tersebut. Yah, jangan sampe ketauan dong, kita mata-matain Hihihihi..

Pada dasarnya relatif mudah mengetahui seseorang dengan internet. Akun twitter terkenal seperti @poconggg yang pemiliknya sempat membuat penasaran jagad twitter akhirnya terkuak juga berkat kejelian para stalker stalker ini. Diri kita sendiri tentu tidak luput dari “bahaya laten” seperti ini. Oleh karena itu lebih baik berhati hati jika memang ada hal hal yang tidak perlu diketahui orang. Terkadang kita memang merasa itu bukan hal penting tapi kepentingan masing-masing orang di sekitar kita berbeda beda, bisa aja hal hal tidak penting bagi kita jadi informasi yang sangat penting bagi orang lain.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

My Thesis (Abstract)

Analysis on Factors That Affect The Community’s Understanding of Tsunami Mitigation Information Through The Use of Knowledge Management in TDMRC

 

The research is closely related to  condition of disaster information system in Indonesia that has not run well. Knowledge Management (KM) is expected to assist the needs of the parties that are responsible for this issue and the community as  the main target. Tsunami Disaster Mitigation Center in Banda Aceh has been trying to make KM as a part of disaster mitigation information system, but it still needs some assessment of several factors that can effect people’s understanding of  those information. The purpose of this research is to know how education, media information,  event frequency and type of event affect the community’s understanding of disaster mitigation, also the characteristics of Human Resources, process and technology as Critical Success Factors (CSF) that run KM inTDMRC.

The methodology used in this research is quantitative survey of 227 population as sample in Banda Aceh.  It Questionnaire were analyzed using multiple linear regression against the hypothesis of the influence of each variable. Some validity test also conducted to support the level of confidence for this survey result.  Qualitative analysis were enriched this survey by collecting and evaluating related documents, literaturs as well as interview with relevant parties and compiled them as Critical Success Factors for KM.

The obtained results is media turned out to be the most influential variable on people’s understanding of KM. Countless other variables, although not significant enough to affect. Overall, all variables (educational level, media information, frequency of activities and types of activities) have an influence by 68% to the overall understanding of society disaster mitigation. Meanwhile, from qualitative observations of work patterns, both products of technology and non technology, KM activities and literature studies on CSF obtained results are; focus of the organization, human resources, technology, process, integration with other units, cultural, information content and execution.

 

Please contact me you need more information about this at vika.octavia@gmail.com

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

bukan saya…

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Gadget dan Mudik

Mudik? Hampir setiap manusia khususnya di Kota Jakarta pasti akan melakukan ritual ini setiap tahun. Tradisi berkumpul dengan sanak saudara seolah olah sudah dinanti-nanti dan tidak akan dilewatkan setiap tahun, walaupun penuh perjuangan karena sesaknya pemudik dan pengorbanan biaya serta tenaga yang tidak sedikit. Barang bawaan mudik pun pasti gak kira kira banyaknya terutama macem macem oleh oleh buat sanak saudara.

Nah , beberapa tahun belakangan ini, ternyata ada lagi yang menurutku cukup merepotkan dan harus dibawa juga buat mudik. Apalagi kalau bukan gadget dan perlengkapannya. Bagi saya packing barang-barang ini lebih “rempong” dibanding sekian banyak oleh oleh dan perlengkapan pribadi. Saya sendiri saat ini menggunakan dua handphone (termasuk blackberry), satu laptop, satu iPad, iPod Touch, kamera digital yang semua chargernya beda.  Plus WiFi Modem yang juga pake charger.  Entah kenapa saya kok repot sendiri dengan barang barang itu, mau ditinggalin kok kayaknya gak mungkin ya..  Bahasa alay-nya saya tuh miss gadget banget.  Dipilih untuk gak dibawa semua pun kayaknya sulit, karena masing-masing gadget punya fungsi dan waktu penggunaan yang berbeda.  Gak ada solusinya kan?

 

 

Hmm..tapi kalo dipikir pikir lagi, balikin ke tujuan awal kita mudik deh, yaitu silaturahmi. Jadi “budak” teknologi sih boleh.. Tapi jangan sampai kebiasaan di kota yang lebih sibuk sama gadget dibanding interaksi sosial secara langsung juga ikut ikutan kebawa di kampung halaman. Kalo merasa  repot seperti saya, sepertinya memang harus ada yang dikorban, toh paling lama seminggu kok pisah dari gadget gadget tercinta itu, sementara bertemu dengan semua sanak saudara dan handai taulan paling hanya satu kali seperti di masa liburan Idul Fitri saat ini.

Intensitas berkomunikasi di dunia maya memang tidak ada salahnya dikurangi. Gak enak dong pas ngumpul keluarga, kita sibuk update status twitter atau ngecek status facebook gebetan kita. Yang demen maen game juga.. Wah.. di kampung gak boleh autis ya.. kasian kakek, nenek, om, tante dan temen temen lama dianggurin gara-gara kita sibuk menamatkan angry birds yang emang gak abis abis…

So, use your gadget wisely on your holiday with family !!

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Ayu Utami : Saya Tidak Akan Menikah (katanya…, tapi….)

Saya lupa deh, apa pernah membaca buku penulis yang satu ini. Mungkin yang Parasit Lajang saya punya, tapi mungkin karena saya tidak sealiran dengan gaya penulisan dia, jadi tidak ada kesan yang mendalam setelah membaca buku itu.  Saya tau Ayu Utami bukan dari buku-bukunya tapi dari berbagai statement-nya di media massa  (seperti diungkap di bukunya itu) yang mati matian mengatakan: “Saya Tidak Akan Menikah”.

Ini ada beberapa kutipan hasil googling saya tentang pernyataan Ayu:

“Saya tidak mau menikah”, itu prinsip yang kini saya pegang. Di buku Parasit Lajang, saya menuliskan 10 alasan untuk untuk menikah. Salah satunya yang penting bagi saya, menikah itu selalu menjadi tekanan bagi perempuan. Meskipun kita selalu bilang bahwa menikah adalah pilihan, tapi dalam kenyataannya menikah itu jadi satu satunya pilihan. Karena, kalau tidak menikah, perempuan akan diejek sebagai perawan tua, dan sebagainya. Yang pada akhirnya, membuat si perempuan jadi berada di bawah tekanan.

Nah, saya ingin menghimbau atau mengajak atau sebetulnya bilang kepada orang lain, kenapa sih kita harus menikah? Tapi kalau ajakan itu hanya sekadar kata-kata saya, apa artinya. Makanya, saya harus konsekuen juga dengan ajakan tersebut Saya menunjukkan bahwa tanpa pernikahan pun saya bisa bahagia. Di satu pihak saya juga ingin menyadarkan masyarakat akan dua hal. Pertama, bahwa dalam realitanya hubungan seks itu bukan hanya ada dalam pernikahan. Yang kedua, hubungan seks dalam pernikahan sendiri bukan berarti lebih baik dari hubungan seks di luar itu.

Tentunya, sewaktu saya memutuskan untuk tidak menikah, keluarga saya, terutama ibu, sempat merasa sedih. Sampai sekarang-ibu tetap ber- harap suatu saat saya akan menikah. Sebaliknya, di luar perkiraan saya, bapak malah menerima keputusan ini dengan enteng. Buktinya, sewaktu kakak saya menikah, dia bilang ke para tamu kalau ini pestanya yang terakhir. “Karena anak bungsu saya enggak akan kawin,” itu kira-kira omongan bapak ke para tamu.

Untuk jadi seorang ibu? Saya juga tidak memiliki keinginan. Ngapain lagi bikin anak, toh pen- duduk Indonesia seka- rang sudah padat seka li. Makanya, saya suka bingung kalau melihat teman-teman saya yang anaknya banyak. Di benak saya akan muncul satu pertanyaan. Apa mereka enggak pusing ya mengurus anak sebanyak itu? 

Tiba tiba pertengahan Agustus ini merebak kabar dari twitter dan fesbuk, ternyata si Parasit Lajang ini, baru saja melangsungkan pernikahan. Wahhh.. tentu saja kalo saya kenal Mbak Ayu, saya pasti akan mengucapkan selamat duluan. Tapi dasar saya emang kerjanya suka ngusilin orang saya coba cari tau, apakah Ayu sudah melanggar “sumpahnya”?  Yukk.. Ternyata saya temukan jawabannya di twitter beliau dengan akun @BilanginFu sebagai berikut :

@BilanganFu Ayu Utami 

Waktunya memperjuangkan agar perempuan dihargai di dlm maupun di luar perkawinan.

20 Aug 

@BilanganFu Ayu Utami 

Sblm ini, sy mprjuangkan agar prmp bebas dr rasa takut tidak menikah, jd perawan tua/ tdk perawan sblm nikah. 

20 Aug 

@BilanganFu Ayu Utami 

Ketidakmenikahan sy adl tindakan politik. Kemenikahan sy adl tindakan iman

20 Aug 

@BilanganFu Ayu Utami 

Jika sy tidak menikah, itu adl ajakan spy peremp tak takut utk sendiri. Jgn takut jadi perawan tua atau jadi tidak perawan.

20 Aug 

Yaah..gak ada yang salah sih dari semua pendapat dia, bener banget.. Tapi pasti semua orang bertanya tanya, mana bukti dari apa yang dia dengung dengungkan selama ini?? Duh, kata temenku Mbak Ayu kayaknya lupa.. semua yang dia bilang sebelumnya itu keputusan dia.. Ada Tuhan loh yang Maha menggerakkan dan merubah hati dan keputusan manusia semudah manusia membalikkan telapak tangannya. Tidak menikah pun sekarang sudah bergeser menjadi fenomena “biasa” di sebagain lapisan masyarakat di kota besar. Tapi mbak.. tetep looo gak boleh lupa, salah satu kodrat alias cetakan manusia dari sononya itu salah satunya menikah. Hanya salah satu looo… tapi bisa jadi salah satu yang paling besar.

Dah segitu aja, Mbak Ayu.. hanya sebuah pemikiran kecil.. Happy Life ya, Mbak.. Salam buat suami.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: -1 (from 1 vote)

Haruskah membuat akun di semua SosMed?

Lima tahun yang lalu mungkin kita semua belum tau ada istilah Sosmed alias sosial media, tapi sekarang “hewan” yang satu ini seakan sudah jadi bagian hidup manusia mau yang di desa apalagi di kota. Ibarat udah jadi kebutuhan primer, facebook dan twitter sudah jadi media komunikasi baru yang mungkin dulu bisa jadi tidak pernah diduga oleh penemu internet. Gak buka fesbuk, gak twitteran sehari kayak makan gak pake sambel.  Belum habis demam dua sosmed itu, sekarang muncul lagi macem macem sampe gw sendiri gak hapal. Mulai dari Tumblr, Heello, Google+ belum yang fungsinya spesifik dan dikembangkan dari yang sebelumnya pernah ada seperti Linked atau Multiply. Sempet juga ada MySpace, Plurk ato beberapa jenis temen-temennya Friendster. Tambah lagi sekarang hampir semua aplikasi bisa di-link ke sekian banyak merek merek yang disebutin barusan. Gara gara sekian aplikasi itu, orang jadi sulit berbohong lagi ngapain, lagi dimana dan sama siapa semua terlacak. Bahkan terkadang sosmed bisa membuat kita tau kepribadian seseorang dengan baik tanpa harus mengenal dia lebih jauh.

Udah banyak banyak begitu, apa kita juga kudu bikin akun di semua aplikasi? Kalo yang saya liat sih, anak anak muda khususnya ABG Labil rata-rata pasti punya akun di minimal dua sosmed.  Gak gaul dan gak alay banget kalo sampe gak update di sekian banyak sosmed. Lah, trus tujuannya apa? Buat nambah temen? Buat gaya dan tambah eksis atau biar gak ketinggalan jaman doang? Beda umur, beda pergaulan pasti beda tujuan.

Kalau tujuannya hanya untuk gaul, biar gak ketinggalan jaman, pesen saya sih gak perlu deh buka sekian banyak akun sosmed. Selain repot ngurusinnya, ngabisin waktu, pasti ngisinya juga gak optimal. Namun ada beberapa alasan kenapa kita harus aktif di sosmed yang jika dimanfaatkan dengan baik, keuntungannya banyak sekali selain sebagai tempat untuk mengememukakan pendapat, uneg uneg atau sekedar iseng

 

Gak perlu deh bikin akun di semua sosmed, kita bisa pilih pilih sesuai pertimbangan seperti di bawah ini;

  1. Sarana komunikasi. Yang pasti manfaat utama SosMed itu untuk menjalin silaturahmi. Inget..silaturahmi itu ibadah dan berpahala lo. Kadang saat menunggu sesuatu, lagi jenuh kita bisa iseng ber-say Hi ke teman teman atau keluarga  yang jauh via sosmed. Cari sosmed yang paling banyak digunakan oleh kerabat dan handai taulan kita.
  2. Sarana promosi. Sekarang sudah banyak perusahaan perusahaan besar yang menggunakan sosmed untuk sarana promosi produk mereka atau untuk menjalin komunikasi dengan customernya. Kenapa kita yang individu gak? Gak mesti produk jualan lo.. bisa jadi promosi kegiatan, promosi tulisan kita di blog atau yang lain lain sejenis. Bicara marketing di Sosmed, sepertinya di google banyak banget tuh.. monggo googling ajah..
  3. Sarana Kebutuhan Khusus. Pilih Sosmed yang sesuai kebutuhan. Saat ini twitter emang paling oke untuk menyebarkan informasi yang cepat dalam sekejap. Semantara itu Linked sangat baik digunakan untuk promosi diri untuk pekerjaan profesional. Sudah semakin banyak HRD yang mencari calon kandidatnya melalui sosmed ini. Buat jualan sekarang multiply sudah diperbaharui khusus untuk online shopping. Yang demen fotografi  posterous dan tumblr boleh dicoba.
  4. Sarana Jajak Pendapat. Maanfatin sosmed untuk survei, penelitian dan jajak pendapat. Kalau dulu untuk tau pendapat orang lain atau masyarakat mungkin kita perlu waktu berminggu-minggu. Kini melalui sosmed, dalam sekejap kita bisa tau respon masyarakat terhadap satu hal yang trend atau memang sedang menuju trend. Nih buat kamu kamu yang perlu data beginian, sosmed ampuh banget deh..
  5. Sarana Beramal. Membantu orang via Sosmed. Ini sekarang lagi trend. Mulai dari mencari orang hilang, penggalangan dana anak cacat sampe bantuin kemanusiaan bencana alam.

Asyikk kan.. jadinya twitter dan teman temannya itu gak buat tempat curhat doang…

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

My New iPad


Yihaaaa.. Ini beneran gak bermaksud pamer dan saya juga sama sekali gak pernah ditunjuk jadi brand ambassador-nya Apple. Agak ketinggalan juga kali yee..tapi seneng buanget..karena Ssstt…dan bocorannya ini juga gratisan.. Hahahaha.. Jadi itu lebih membuat bahagia. Sutralah, gak penting asal usulnya.. yang penting sekarang berasa makin eksis aja dengan iPad2 keren bersarung warna hejo ini.

 

 

Karena stok iPad 2, 3G lagi kosong dimana-mana dan setelah dipikir pikir aku tidak terlalu perlu online di iPad tiap saat, aku pilih yang Wifi saja. Toh, hidup saya lebih banyak di kantor yang pasti ada wifi-nya. Yah, emang sih kalo di kantor atau di kampus pasti ketemu wifi. Nah, gimana ngakalinnya biar tetep bisa konek saat berada di lokasi tanpa wifi? Tentu saja adaa.. saya beli Modem 3G wifi yang sekaligus berfungsi sebagai router. Produknya kecil mungil dan bisa dikantongin.

Produk ini sih emang masih baru, tapi kalo diitung itung beli iPad wifi plus modem 3G tadi jatuhnya malah lebih murah dibanding beli iPad 3G. Saya juga punya pertimbangan lain, yaitu pengiritan biaya internet. Saya sudah terbiasa menggunakan modem USB biasa dengan 1 kartu selular unlimited untuk internet. Kalo saya pakai iPad 3G, itu berarti saya butuh 2 kartu, karena menjadi tidak praktis kalau harus mindah-mindahin kartu dari iPad ke Laptop. Apalagi simcard buat iPad itu harus dipotong dari ukuran aslinya (micro chip).  Dengan modem ini juga kita tetap bisa konek via laptop (bye bye modem USB), bahkan bisa dipake hingga 5 user..

Niatnya sih, kalo punya iPad lebih rajin baca Ebook, cari informasi yang berguna buat kerjaan dan kuliah. Eh, ternyata gak tuh.. dalam seminggu ini, aku sangat sibuk mengunduh berbagai macam game dan macem macem aplikasi sosial media. Wah, gak bener nih.. tapi emang sih pada dasarnya iPad tidak bisa menggantikan fungsi laptop, akhirnya seperti juga sekian juta umat Indonesia, iPad ini Cuma bagian dari life style. Yaah, bahasa kerennya buat gaya-gayaan doang. Toh gw (masih) males tuh cari artikel serius dengan iPad. Baca email juga seadanya. Aku masih berprinsip, yang serius serius itu dikerjainnya depan laptop, iPad apalagi BB itu hanya fungsi komplementer saja.

Hadoohh..sekarang saya mendadak sibuk ngajarin Mama maen angry bird dan make Skype buat liat cucunya di Amerika..

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Congratulationzz..

Alhamdulillah..senengnya, dalam dua minggu terakhir dapet banyak kebahagian dan penghargaan atas hasil sebuah “kerja keras” . Pake tanda kutip tuh kerja keras-nya, secara sebenernya gak keras keras banget sih, ada dikitlah males malesnya…

Pertama, tau tau dapet penghargaan jadi pemenang ketiga untuk lomba menulis dalam rangka Visit Banda Aceh Year 2011. Lumayan, dapet duit jajan tambahan. Gak nyangka banget, soalnya aku nulis “curhat” seperti biasa, bahkan baru sekali-kalinya nulis di ponsel dan besoknya di hari terakhir submit naskah, baru bisa aku kirim. Alhamdulillah… Tulisannya yang ini http://www.vikaoctavia.com/2011/06/mengapa-aceh/

 

Yang paling membahagiakan, tentu saja, akhirnya aku berhasil menyelesaikan studi masterku di Program Studi Magister Manajemen Sistem Informasi, Universitas Bina Nusantara, lebih cepat dari bayanganku semula. Waktu 16 bulan sungguh gak kerasa. Terharu sih, soalnya dalam kurun waktu itu pengorbanannya lumayan banyak, dari materi, waktu, pikiran dan perubahan dengan lingkungan sosialku.  Serunya mungkin ini peristiwa dimana aku nervous dan gugupnya keterlaluan. Duh, sampe pake acara sakit perut seharian, hilangnya setelah sidang. Aku pikir awalnya itu bukan stress, emang sakit perut, sembelit..Ternyata kata temenku, kadang orang stress emang suka gak sadar kalo dia stress. Hihihi.. Yang bikin gugup lagi, aku harus menghadapi tiga dosen penguji (tanpa didampingi pembimbing) yang sangat senior dan sudah cukup punya nama. Nambah lagi stress-nya manakala dua orang mahasiswa sebelum giliranku ditanyakan belum lulus, alias harus ujian ulang. Hadohhh.. gimana guee?!! Alhamdulillah… Allah ngasih ketenangan hati dalam kegugupan itu..

Makasih yang luar biasa buat keluarga dan temen-temen yang mendukung dengan gila-gilaan selama setahun ini, mulai dari minjemin duit, nyariin contekan, ngajak karaoke saat suntuk ujian… Akhirnya..

 

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Ipad, Galaxi Tab dan Tukang Buah Buta..

Hampir tiap malam di komplek rumahku, di Bogor ada tukang buah pikulan yang lewat. Dari mulai pisang, pepaya hingga duren dibawanya berkeliling. Sedikit aneh, karena biasanya pedagang buah keliling beroperasinya siang, nah.. yang ini kok malem ya,.. Mungkin saja dia sempet belajar prinsip diferensiasi dalam marketing, karena siang kompetitornya banyak, jadilah ia jualan malam hari (Kali…) Pernah sekali saya tanyakan, ternyata dia kalo siang, jualan di pinggir jalan di kampung sebelah. Ohhh… pantes.. Bukan itu saja, ada bagian yang membuat saya sangat terharu, dia buta..saudara saudara!! Jadi dalam berjualan ia selalu ditemani satu orang lain, entah itu istrinya atau anaknya, yang menuntunnya untuk berjalan, sementara ia sendiri memikul keranjang buah yang sangat berat itu di kedua bahunya.

Mungkin banyak yang menganggap ini biasa, tapi kok saya pribadi sangat terharu. Sementara banyak banget manusia sehat dan normal kerjanya males-malesan (termasuk saya). Dipikir pikir berapa sih penghasilan dari jualan buah itu, bisa jadi gak lebih dari uang sekali “nongkrong nongkrong” saya dengan teman teman buat cekakak cekikik.. Duh aku miris banget… Bukan sok sosial dan humanis ya.. tapi terus terang buatku diliatin yang beginian sama Tuhan bikin aku selalu melek, kalo gak boleh boros, banyak banyak sedekah, menghargai kerja keras dan yang pasti banyak banyak bersyukur. Oke,stop,. Kalo diterusin ntar kesannya menggurui secara gw belom jadi ustadzah. Yang jelas apapun bentuknya bapak tua dan keranjang buahnya itu membuatku sangat terharu biru (belum sampe biru biru sih..)

Di tempat lain , Jakarta yang hanya berjarak 42 km dari Bogor, ada sekelompok manusia lain yang rela mengantri barang teknologibaru bernama Ipad dan Galaxi Tab hingga berjam jam. Jaman dulu antrian begini seingatku hanya waktu pertama Jco Donuts buka, dan itu juga harga per potong rotinya gak lebih dari Rp 10 ribu. Nah, gelombang antrian Ipad dan Galaxy Tab itu sungguh tidak main main, barang yang di-antri hingga 200 meter itu seharga minimal Rp 6 juta per unit. Miris yaa kalo inget Bapak tua tadi.

Sama sekali gak men-judge orang yang ngantri panjang panjang itu.. Wong gw juga kalo ada yang ngasih duit buat beli Ipad mau juga ngantri *nyengir* Hanya aku mencoba membandingkan, bahwa kesenjangan orang Indonesia ini masih lebar banget. Yang satu buat makan aja harus terseok seok dengan keterbatasan fisik, usaha tetep kenceng. Nah yang lain, beli barang mahal ngantrinya udah kayak beli kacang goreng aja. Sedih. Secara pribadi aku belum bisa banyak berbuat untuk orang-orang yang kurang beruntung itu, aku hanya bisa sedikit ngasih doa, semoga Tuhan mendengarkan doa kita, Semoga pendidikan di negara ini makin maju, biar banyak yang pinter, biar gak miskin dan satu lagi, semoga kita kita yang sudah berkecukupan ini makin tinggi semangat membantu sesamanya, dalam hal apapun. Amin

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Emansipasi, Gender dan Sejenisnya itu Terkadang Mengada-Ngada…

source :http://vanyalessandra.blogspot.com/2010/06/emansipasi-samakan-hak-tapi-bedakan.html

Tulisan ini tercetus dari satu riset dimana saya membantu seorang teman untuk sebuah organisasi profesi yang cukup vokal di tanah air. Intinya begini, mereka ingin tahu apakah terjadi kekerasan untuk perempuan dalam profesi ini. Survei dilakukan di tujuh provinsi besar di Indonesia untuk mewakili semua penjuru negeri yang luas ini. Hasilnya, kekerasan dan diskriminasi ternyata hanya dirasakan kurang dari 10% perempuan pada profesi ini. Jumlah ini relatif sedikit dari total 14.000 orang yang ada di profesi ini. Namun menurut organisasi ybs, hasil itu masih perlu digali lagi, karena kenyataannya belum seperti hasil survei tersebut. Memang bisa saja terjadi kelemahan secara statistik pada saat pengambilan sampel, namun kesimpulan saya bukan itu… Masalah gender dan hal hal terkait diskriminasi untuk perempuan lama-lama sudah mengada-ngada alias dicari cari.

Terlepas dari survei itu, dengan kemampuan saya yang terbatas dan pengetahuan saya yang (mungkin) belum luas, menurut saya, saat ini –anggaplah 15-20 tahun terakhir- ini, jika masih ada pertanyaan berbunyi: apakah ada diskriminasi terhadap perempuan pada profesi A, B atau C? Sumpah, menurut saya itu lucu.  Saya perempuan, saya merasakan untuk semua pekerjaan yang pernah saya jalani, tidak ada perbedaan. Sudah gak jaman orang meributkan soal gender, yang dilihat sekarang kemampuan, pengetahuan dan eksistensi.

Memang masih kita temukan kasus-kasus kekerasan atau diskriminasi yang obyeknya perempuan, tapi bagi saya (sekali lagi yang awam ini), itu bukan masalah gender tapi isu kekerasannya-lah yang harus diangkat.  Pelakunya siapa, kenapa terjadi begitu. Bukan sebaliknya: karena obyeknya perempuan maka urusannya jadi urusan gender. Sudah sangat jelas, sekarang laki laki dan perempuan itu sama saja, apalagi kalau urusan profesional. Coba bilang ke saya, masih adakah profesi  (yang menggunakan otak bukan otot) dimana perempuan itu dipandang sebelah mata? Lagi-lagi semua kembali ke kemampuan kok. Perempuan pintar sudah dimana mana sekarang, yang mengalahkan laki laki juga tidak sedikit. So..sangat aneh, kalo ada yang masih suka menggali-gali adanya diskriminasi terhadap perempuan.

Jaman dulu iya,…mungkin waktu jamannya Ibu Kartini, Cut Nyak Dien ato siapalah generasi mereka itu. Nah, berarti kalau sekarang masih ada yang menowel-nowel soal diskriminasi dan “sok” memperjuangkannya, duh… gak salah jaman yah?? Kasian bener… Saya malah tersinggung kalau ada yang nanya apakah pernah merasakan diskriminasi karena kamu perempuan? Oh, Tuhan… kerjaan saya kerjaan otak bukan otot…dan lingkungan kini semakin maju, orang-orang semakin terbuka, open minded… Itu jelas jelas pertanyaan yang salah tempat.

Menurut saya gak perlu tuh ada lembaga yang khusus ngurusin masalah gender dan partisipasi perempuan. Karena dengan perkembangan jaman dan pendidikan, its automatically!!! Malah yang perlu diurusin itu, perempuan dengan emansipasi kebablasan yang lupa sama kodratnya sebagai perempuan dan sebagai IBU.  Partisipasi wajarlah, secara katanya (katanya….) jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki, maka dari itu perlu “diaktifkan” atau apalah istilahnya, tapi jangan dibuat ekslusif lah.. Mau bagaimanapun, bener kata nenek moyang kita dulu..perempuan tetap akan kembali ke keluarganya dan itu sesuatu yang luarrrr biasaaa…lebih dari profesi laki laki terhebat di dunia. Terus ada juga embel-embelnya: perlindungan terhadap perempuan. Waduh… sebegitu rentankan perempuan?? Kenapa sih tidak membenahi yang lain misal, moral kaum laki laki, bukan begitu? Jadi  sedikit ambigu, kenapa fokus ke obyeknya sih..kenapa tidak fokus ke subyeknya??

Membuat perempuan menjadi demikian eksklusif sebenarnya malah “melemahkan” perempuan itu sendiri. Karena tanpa dibuat ekslusif dengan istilah gender, diskriminasi, perlindungan dsb..dsb.. perempuan sudah mahluk yang istimewa kok..

Quote ini saya buat di 2008, tapi masih menjadi quoate favorit saya hingga hari ini..

Bagiku, tanpa emansipasi sekalipun perempuan itu adalah mahluk yang istimewa.   Istimewa karena ia punya hati untuk memberi ketegaran kepada orang-orang yang dicintainya. Menjadi labuhan terakhir keluarganya dalam duka, punya ketulusan untuk mencintai dan punya kekuatan untuk menumbuhkan kekuatan  dalam setiap langkah  orang-orang yang mencintainya.  Lebih Istimewa karena aku percaya pada anak-anak yang hebat ada ibu-ibu yang hebat di belakang mereka dan di belakang setiap laki laki hebat pasti ada wanita yang lebih hebat.

And.. I always proud being a woman..

*tulisan ini hanya pendapat saja, semoga tidak ada pihak pihak yang tersinggung atau “merasa-rasa”..

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 2 votes)