Mengapa Aceh?

Saya tidak tinggal aceh, sama sekali tidak berdarah Aceh, tidak juga lahir di Aceh dan tidak punya keluarga di Aceh.. Tapi saya cinta Aceh, bukan karna saya pernah jatuh cinta dengan orang Aceh bukan juga karena saya pernah mampir bekerja di Aceh. Alasannya sederhana, karena saya feel hommy sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Begini, saya pertama kali ke Aceh pertengahan 2007, untuk bekerja di suatu lembaga yang menangani proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.  Itu adalah pengalaman pertama saya bekerja di luar Jakarta. Jenuh dengan segala tetek bengek dan ingin sesaat lepas dari Jakarta, saya terima sebuah kontrak kerja selama 6 bulan dan meninggalkan pekerjaan tetap saya yang cukup menjanjikan di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.  Keputusan yang agak sedikit ribet dan meragukan waktu itu, tapi dengan berbagai lika liku, singkat cerita tepat 2 Juli 2007 saya terbang ke Aceh.

Apa bayangan saya sebelum berangkat? Aceh itu menyeramkan! Issue GAM masih mewarnai pemberitaan media, daerah rawan dimana mana, belum lagi saya akan bekerja untuk pembangunan kembali daerah yang sempat porak poranda karena tsunami. Bayangan saya tentang Aceh pun ketika itu jauhhhhh sekali…  Ibarat di pedalaman, jauh dari keramaian dan hedonitas penduduk Jakarta yang senang karaoke seperti saya. Saya ingat, koper pertama saya ke Aceh besarnya hampir segede kulkas 1 pintu. Mau tau isinya? Mulai dari sabun cuci, peralatan mandi, indomie sampai buku buku bacaan untuk membunuh waktu, karena dalam pikiran saya pasti akan banyak waktu tanpa aktivitas berarti selain di rumah saja. Kalo ingat itu saya ketawa sendiri sekarang. Betapa waktu itu mata saya sangat tertutup akan Aceh.  Saya pikir selama 6 bulan kontrak kerja itu, akan sangat sulit pulang ke Jakarta, jadi semua stok harus siap.  Lebih Lucu lagi waktu berangkat, beberapa sahabat saya ikut mengantar ke Bandara, ibarat saya mau pergi jauh dan lama baru kembali, persis seperti rombongan kecil pengantar jamaah haji.  Eh, kalo sekarang inget itu gak lucu lagi sih.. Malah jadi norak. Hahahahaha.

Tiba di Aceh pertama kali jam 12 siang, disambut cuaca yang sangat panasss. Setelah mendarat saya sms semua kerabat mengabarkan saya sudah tiba di tujuan dengan selamat. Isi smsnya pun saya masih ingat: “Alhamdulillah aku udah sampe,.. Banda Aceh panass gilaaaa” dan dibalas dengan kata kata menyemangati.  Lalu, dasarnya saya bukan orang yang cepat bisa beradaptasi dengan lingkungan yang benar benar baru.. Saya takut sekali homesick, takut gak betah, sampai takut gak punya teman (ini serius) yang akhirnya dikhawatirkan mempengaruhi ke kerja profesional saya. Terus terang ketakutan itu sempat membuat bimbang seminggu sebelum keberangkatan.  Yang ajaib, tiba tiba ketakutan itu sirna begitu saja ketika pertama menginjakkan kaki di pintu gerbang tanah rencong ini, tepatnya ketika melewati Simpang Surabaya.

Why? I don’t know…. It was an undefined feeling.
Hari itu juga pertama berkantor di Lueng Bata. Bayangan saya akan penuh bekerja dengan penduduk asli Aceh sedikit berubah, karena ternyata di divisi saya itu, separuh lebih juga orang pendatang seperti saya. Lambat laun saya pun bisa menyesuaikan diri dengan rekan rekan kerja yang baru, lingkungan dan masyarakat disana. Asumsi saya sebelumnya, akan banyak waktu tanpa kegiatan yang jelas ternyata salah besar.  Hari hari saya disibukkan dengan menikmati Aceh yang sebenarnya. Kontrak enam bulan pertama itu akhirnya pun berlanjut hingga 2 tahun lebih itu masih ditambah sekitar 1 tahun  bolak balik Jakarta-Banda Aceh. Selama masa kontrak saya juga hampir sebulan sekali kembali ke Jakarta, sekedar melampiaskan rindu akan ibukota. Jauh dari bayangan saya sebelumnya yang seolah olah akan “terbenam” di pedalaman.

Aceh itu indah, hingga dua tahun menetap disana, saya hampir lupa dengan Jakarta. Nyaris tidak ada kesan seram yg selama ini didengungkan. Yah, ini juga mungkin karena saya menetap setelah Perjanjian Helsinki. Namun konotasi akan masyarakat yg tidak ramah, kejam yang beritanya sempat diwakili oleh GAM nyaris tidak pernah saya temui.

Saya bertemu dengan sahabat sahabat terbaik di Aceh, menikmati pantai pantainya yangluar biasa di setiap akhir pekan dan menikmati kupi aceh hampir setiap malam. Kalau soal pantai, saya memang bukan traveller, tapi saya pernah berkunjung ke beberapa lokasi pantai di Indonesia seperti Bali, Yogya, Lampung, Makassar dan Lombok termasuk negara tetangga seperti Thailand, tapi saya berani bilang: Heiii.. Come to Aceh you will see more than those!!

Intinya gak usah jauh jauh.. Aceh tidak kalah indah bahkan lebih indah dari semua itu.

Sebelum ke Aceh saya hampir tidak suka kopi pun nongkrong di warung kopi,  tapi balik dari Aceh saya adalah tukang ngopi, meski bukan kopi hitam. Saya penikmat berat sanger dingin (sejenis kopi susu ala Aceh), sekali duduk saya bisa minum hingga dua gelas ukuran besar. Hmm.. Apa nikmatnya? Jangan samakan warung kopi di Aceh dengan Starbucks yang menjual model penyajian berstandar internasional, kursi empuk dan AC superdingin.  Semua itu hampir tidak akan ditemui di warung kopi Aceh. Kursinya keras (sungguh sebenarnya bukan dirancang untuk duduk berlama lama), tidak ada pelayanan kelas dunia dan jangan berharap ada AC.  Harga kopinya pun bisa hingga sepersepuluh Starbucks. Tapi saya yakin kalau anda pernah mencoba dan mengerti akan kopi, anda bisa jadi merasa rugi beli Starbucks yang lebih menjual gaya hidup itu. Kopi Aceh is amazing. Lebih dari itu ada hal lain karena ternyata dengan uang 5000 perak ada makna kekerabatan yang sangat kental dari segelas kopi. Pembauran berbagai strata masyarakat seolah mencerminkan kebersamaan dan kekeluargaan yang tanpa batas.

Ah, saya tidak bisa bercerita banyak soal pantai, keindahan alam dan segelas kopi Aceh dengan bau bau promo pariwisata. Terlalu banyak web dan artikel yang sangat ahli untuk itu. Saya cuma ingin bilang: Saya pernah menikmati semua itu dan its really priceless. Saya mencintai Aceh..mencintai sahabat sahabat saya dan masyarakat disana yang ramah dan mulai terbuka akan dunia luar, jangan salah lho, Aceh sekarang sudah menjelma menjadi salah satu provinsi digital di Indonesia. Saya berani bilang, jumlah WiFi di Aceh mungkin lebih banyak dari Jakarta dan semua itu bisa dinikmati dengan gratis alias  free, cukup dengan duduk di warung kopi dan memesan minuman seharga tidak lebih dari Rp 6000,-  Anda sudah bisa menjelajah dunia ditemani cuaca Aceh yang panas namun bebas polusi.

Datang ke Aceh nikmati indah alamnya, keramahan penduduknya, keunikan budayanya dan pelajari begitu banyak lesson learn pasca tsunami 2004 yang merupakan salah satu bencana besar dunia. Rasakan bagaimana tsunami yang sempat meluluhlantakkan Aceh kini nyaris tak bersisa kecuali berbagai monumen, museum, pemakaman massal dan tonggak tonggak sejarah lain sebagai wujud pembangunan yang siginifikan sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh patut diperhitungkan. Hikmah besar tsunami adalah Aceh menjadi lebih terbuka akan pembaharuan termasuk ini, Visit Banda Aceh Year 2011.

Bagi saya, Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika suka duka didalamnya, dan yang paling penting; saya bangga pernah menjadi bagian dari Aceh meski itu hanya sesaat..

Sukses untuk Visit Banda Aceh Year 2011.

Berikut beberapa tulisan saya tentang Aceh :

http://www.vikaoctavia.com/2010/01/ngupi-ngupi/

http://www.vikaoctavia.com/2009/08/kenangan-puasa-tahun-lalu/

http://www.vikaoctavia.com/2009/03/296/

http://www.vikaoctavia.com/category/tentang-aceh/

http://www.vikaoctavia.com/2008/08/berburu-makan-enak-di-banda-aceh/

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +3 (from 3 votes)

cinta itu… (akibat melamun di kelas)

Cinta itu spt baris berbaris, perlu maju jalan…tidak cuma jalan di tempat

Cinta kadang seperti anggota DPR perlu “studi banding” utk memperbaiki masalah internal

Cinta itu kadang seperti virus, sulit dibasmi tanpa re-install..

Cinta itu simbiosis mutualisme bukan komensalisme apalagi parasitisme

Cinta itu seperti statistik…butuh cukup sampel dan pengujian berulang untuk menentukan validitas hasil

Cinta itu seperti medan magnet.. tarik menarik selalu ada dr 2 kutub yg berlawanan *tdk berlaku untuk homo*

Cinta itu spt sinetron dan penontonnya; dihina, dicaci, dimaki tapi selalu dinanti

Cinta itu seperti bilangan prima, hanya ada 2 faktor… yaitu dua orang yg ada didalamnya

Cinta itu seperti  mobil, harus selalu punya ban serep buat jaga2 kalo di jalan pecah ban

Cinta itu seperti ojek langganan, setia menunggu dan mengantar sampai tujuan

Cinta itu seperti makan sambel, biar udah kepedasan dan nangis nangis…besoknya diulang lagi..

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

aku bersyukur..

Aku bersyukur pernah bersamamu, meski itu hanya sesaat


Aku bersyukur pernah merasakan perhatianmu, meski itu hanya sesaat


Aku bersyukur pernah ada di hatimu, meski itu hanya sesaat


Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari hari harimu, meski itu hanya sesaat..



Dan…… aku beryukur pernah jatuh cinta kepadamu,.. meski itu selamanya…


VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

where’s my toddler ??

Dalam sebuah chatting iseng dengan seorang teman laki-laki, aku bertanya: Eh, gw gak pernah tau ciri laki laki dewasa itu gimana ya? Dengan enteng dia di ujung sana menjawab : Laki laki itu pada dasarnya gak pernah dewasa, gak jauh beda sama anak kecil hanya dalam tubuh yang besar. Hihihih… Tentu saja aku ketawa membaca jawaban itu.  Tapi kalo dipikir pikir mungkin ada benarnya juga sih. Again, yang gw tulis di blog kan mostly pengalaman gw sendiri yaaa..  Dan ini adalah salah satunya.

Di kesempatan lain, aku juga sempat ngobrol dengan seorang teman yang sudah menjadi seorang Ibu dari anak laki laki berusia 5 tahun. Ibuk yang ini demen baca buku psikologi anak khususnya anak laki-laki. Dari cerita dia banyak kesimpulan yang aku ambil dimana ternyata laki laki kadang kadang memang mirip anak-anak. Upss.. Gimana ya gw ceritanya.. Hemmm, gini latar belakang keluarga sangat menentukan perkembangan mental seorang anak (laki laki). Menurut sebuah buku yang si Ibu ini baca, anak laki laki umumnya lebih rapuh dibanding anak perempuan, karena itulah tidak heran ada istilah namanya anak mami.  Umumnya sampai usia 6 tahun anak laki laki akan sangat nempel dengan Ibunya, setelah itu hingga usia 12 tahun biasanya mereka akan mengikuti tingkah pola ayahnya, di masa remaja ini adalah masa masa yang rawan karena pencarian jati diri dimulai. Dari buku itu sangat disarankan anak laki laki pada usia 17-18 tahun mulai tinggal terpisah dari orang tuanya, untuk melatih kemandirian dia. Yaaaa..ini agak susah sih,  misalnya sebuah keluarga anaknya sedikit…dan tuh anak dikepit terus sama maminya.  Mana tega maminya melepas dia tinggal terpisah..Kalo gak jaga-jaga, tuh anak bakal jadi anak mami selamanya..

Dari pengalamanku dekat dengan seorang “anak mami”, ternyata bener banget… Bergaul sama anak mami harus luar biasa extra sabar. Meski umurnya gak balita lagi, tapi sebagian mentalnya gak jauh beda sama balita. Pertama, sangat egois.. Ini berangkat dari keluarga yg selalu dimanja dan selalu diikuti kemauannya.  Jangan berharap bisa mendapatkan balasan hal yang sama ketika kita melakukan sesuatu. Habbit “dilayani” kadang bikin dia lupa untuk memberikan hal yang sama pada orang lain. Nyaris gak ada take and give dengan orang seperti ini.  Kedua; gampang ngambek, tapi gampang minta maaf.  Hihihi.. Sudah gak terhitung kejadian seperti ini terjadi berulang-ulang. Triggernya sih harus aku akui, kadang datang dari diriku sendiri juga. Aku pikir perempuan wajar sekali kalo kadang kadang juga ingin diperlakukan dengan hal sama seperti dia memberikan sesuatu. Karena ybs egois luar biasa… akhirnya jadi keributan yang (tidak) penting.

(more…)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

Anak Kampung vs Anak Kota

Ini bukan cerita untuk mendeskriditkan satu pihak atau satu golongan ya (berat bener bahasanya) tapi hanya ingin berbagi pengalaman sedikit tentang sebuah pengalaman      bekerja dengan orang-orang yang berbeda di lokasi yang juga berbeda. Di Jakarta, aku pernah bekerja di tiga perusahaan swasta (termasuk yang sekarang) aku juga sempat  menclok ke Aceh kurang lebih tiga tahun untuk sebuah proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami. Nah…dari dua tempat yang secara geografis sangat jauh itu  menyisakan, banyak cerita dan perbandingan, salah satunya tentang kualitas dan mental sumberdaya manusia yang menjadi rekan kerjaku baik itu di level yang sama, di level di  bawahku atau bahkan superiorku.  Lumayan menarik jika disimak..

Mungkin sebagian besar orang berpikir SDM di daerah itu “cenderung” tidak lebih berkualitas di bawah SDM dari ibukota. Jawaban saya, TIDAK!!  Selama di Aceh selain bekerja dengan pendatang yang umumnya berasal dari Jakarta dan sekitarnya, saya juga banyak bekerja sama dengan SDM yang asli orang sana. Sampel ulasan ini mungkin belum valid secara statistik, tapi ketika saya kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, kok terasa banget ada gap, bahwa ternyata anak (SDM) ibukota  tidak jauh lebih baik dari pada rekan kerjaku di Aceh  dulu.  Malah di sisi mental jika ditarik dengan garis lurus, cenderung lebih buruk tuh….  Ini apple to apple yaa.. alias secara umum kualifikasi pendidikan dan pengalaman kerja mereka nyaris sama.

Memang ibukota menjanjikan semua fasilitas yang membuat sebagian besar masyarakatnya jadi lebih melek akan pengetahuan terutama soal teknologi. Tapi jujur mentalnya udah habis tergerus sama kemacetan ibukota. Sebagai contoh, kalo fight mah.. semua orang di Jakarta juga harus fight biar bisa hidup, tapi masalah kretivitas dan curiosity, dohhh.. maap maap saya bilang, sekarang saya menemui banyak anak Jakarta dengan pengalaman masih jauh dari apa-apa sudah belagunya minta ampun dengan tingkat sok tahu yang kadang kadang bikin geleng geleng kepala dan semangat untuk tau lebih banyak itu nyaris gak ada. Eitss..soal teknologi juga sebenernya anak daerah malah sama meleknya kok.. Malah aku sempat menemui beberapa “anak muda” Jakarta yg gapteknya lumayan gaptek banget *bahasa aneh*.

Banyak kasus dimana, lulusan baru dari universitas terkenal di Jakarta  dan sekitarnya merasa dirinya sudah hebat, sehingga “lupa” atau tidak mau melakukan hal hal yang terkesan cemen sepertiiii; ngentri data, ngetik laporan cemen atoo beresin file file dan pekerjaan pekerjaan lain yang bukan pekerjaan inti dan terlihat tidak berarti. Padahal, kalo buat anak baru yang baru kerja ato pun masih merintis karir, yaa alloh..gak usah belagu kali buat hal-hal begitu. Sebagai catatan  teman saya, seorang Senior Manager di perusahaan penerbitan terkenal di Jakarta, kadang-kadang masih mau melakukan hal-hal seperti entry data disaat urgent dan dibutuhkan.  Sebabnya? mungkin itu tadi..karena di jalan udah macet, di kantor ketemu fesbuk dan twitter, udah capek duluan buat berkreasi dan meningkatkan rasa keingintahuan (curiosity). Padahal tau gak sih, kalian justru hebat jika mengerti semua detail pekerjaan dari yang cemen cemen tak berarti hingga jika suatu saat ad adi posisi yang membutuhkan pemikiran tingkat berat.

Sorry to say, kalo rekan rekan kerjaku di daerah dulu, punya kreativitas, tanggung jawab, mental dan yang paling penting rasa keingintahuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa yang saya temui akhir-akhir ini. Mungkin karena ibukota memberi semua fasilitas, jadi banyak anak anak sini yang cenderung “menggampangkan” apa-apa, sehingga gak ngerti yang namanya pay attention to detail. Miris…

Semoga cerita ini terjadi hanya di sisi saya saja…atoooo., semoga juga saya salah menyimpulkan karena contohnya hanya dari satu daerah saja.. Ini hanya perbandingan based on pengalaman kok, kalo diulas apa dan mengapa-nya ntar bisa jadi jurnal ilmiah.. *Capekkk deh..

Buat temen temen di daerah, keep fight! Kalian bisa kok bersaing dengan anak Jakarte !! *smile*

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +2 (from 2 votes)

rempong banget ngurusin jodoh orang… *&!^*!)>??

Di usia yang udah kian “uzur”  begini, aku sangat menyadari pertanyaan yang paling sering aku dapatkan atau istilahnya Frequently Asked Question (FAQ) adalah sudah menikah? Atauu.. kapan menikah? Pertanyaan ini tentu saja paling sering datang dari orang yang dikenal atau dari teman lama yang sudah lama tidak berkomunikasi. Nah…khusus untuk teman-teman lama ini aku selalu menganggap hal itu sangat wajar. Ya, namanya temen, itu pertanyaan standar utama ketika sebuah komunikasi terjalin lagi. Aku tentu saja berusaha “damai” menjawab pertanyaan itu, bilang aja yang sebenernya…kalau sampai sekarang emang belum ketemu jodohnya dan mohon didoain aja deh… Bener kan?  Menjadi tidak wajar apabila teman-teman itu mendadak sok tahu dan, tiba-tiba meluncurlah berbagai nasehat dan petuah seolah-olah mereka lebih tau kehidupanku. Sebagai contoh; “Duh lo sih pilih pilih”, “makanya jangan kebanyakan kerja..”, “eh..ngapain pake kuliah lagi..tuh bikin gak ketemu jodoh..” en de bra en de bra en de bra ..

Herannya “petuah” seperti itu tidak hanya datang dari teman-teman yang dulu memang dekat, tapi juga orang- orang yang dulu cuman kenal selintas atau bahkan hanya temannya teman. FYI, Aku sangat menghargai “nasehat nasehat’ itu, dan aku anggap sebagai bentuk perhatian bahkan doa, tapi sebagai teman yang baik harusnya tidak menjudge seolah kalian lebih tau diri gw daripada gw sendiri. Oh, no… misal kita gak ketemu 5-7 taun ..Sudah banyak hal yang terjadi di diri gw.. dan gw gak perlu curhat hal itu kan sama kalian ?? Aku suka geleng geleng sendiri sama teman teman yang katanya “berpendidikan” itu, kok rempong bener ngurusin privacy orang yah? Harusnya bisa dong bedain mana bagian  yang pribadi dan sensitive, mana yang gak.  Keluargaku yang tidak terlalu berpendidikan saja gak pernah tuh sok ngasih nasehat dan mendadak jadi ustadz. Udah deh, udah sama sama dewasa semua.. siapaaa jugaa aa yg gak mau nikah..Gw ngerti kok masalah umur, kesuburan lebih lebih lagi itu tentang urusan dengan Tuhan. Tapi keknya saat ini lebih penting doa deh.. daripada petuah gak penting yang cenderung menyudutkan begitu.

Ini sebenernya satu contoh budaya buruk bangsa ini. Budaya jaman dinosaurus yang masih aja dipake. Suka repot ngurusin hidup orang.. Mungkin maksudnya baik tapi lama lama kok jadi kebablasan. Coba kalo ketemu temen lama itu, cari obrolan yang lebih produktif deh..sukur sukur bisa bikin bisnis. Lagian nih…misal gw belom nikah? Lo pikir gw gak bahagia? Atoooo gw mengancam kehidupan mahluk di dunia? Duh pleaseee…. Buang jauh jauh pikirin sempit jaman kerajaan Kutai Kertanegara itu.. Kasian sekali orang-orang negara ini kalo tiba tiba mendadak semua rajin ngurusin hal hal pribadi orang. Giliran korupsi aja diem diem…

Oya, ini gak marah marah kok…cuman pengen cerita doang… Hahahahhaha

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

..dedicated to my team..

Ini sedikit cerita tentang masalah tim kerja. Mulai punya “anak buah” -saya lebih suka menyebutnya “tim saya”- sejak aku kerja di Palyja, sebuah perusahaan provider jasa air minum di Jakarta.  Itu terjadi sekitar awal 2006. Kalo gak salah waktu itu title pekerjaannya’ “Analytical Services Coordinator”. Kerjanya apalagi kalo gak jauh-jauh dari riset dan analisis yang memang menjadi bidangku. Bagiku ini yang pertama me-maintain people dalam pengalaman kerjaku. Waktu pertama masuk saya tidak diberi tahu bahwa akan membawahi sembilan orang staf yang semuanya laki-laki dan hampir semuanya berumur diatas 40 tahun, yang berarti akulah yang paling muda.  Pada pekerjaan sebelumnya di SWA, yang namanya teori leadership itu udah sering banget dibahas, tapi baru pas masuk Palyja aku niat dengan serius belajar leadership sampe beli beberapa buku tentang itu. Kacau-nya (baca: tantanganya), bapak bapak itu sebagian besar adalah karyawan yang bermasalah dengan motivasi kerja karena sebuah perubahan dan restrukturisasi lumayan besar yang terjadi di perusahaan itu. Dengan segala dinamikanya saya berusaha masuk menyelami masing-masing mereka dan menempatkan diri di posisi mereka. Intinya saya benar-benar melakukan pendekatan secara personal, karena sangat sulit menjadi “diktator” saat dimana bos besar pun tidak berdaya, apalagi gue yang istilahnya cuman “bos kecil”.  Teori motivasi yang diberikan melalui briefing, seminar dan sejenisnya nyaris tidak mempan ke mereka. Dengan kondisi begini, saya tidak berharap punya achievement yang luar biasa dari tim ini, bisa “menggerakkan” mereka saja kata bosku saat itu sudah merupakan prestasi yang bisa dibanggakan. Akhirnya dirancanglah berbagai riset dan survey yang bersifat missal dan bisa membuat mereka tuh keliatan “ada” kerjaan, tentu saja kegiatan itu juga dibutuhkan perusahaan. Huhh..jangan salah lo.. aku juga ikutan tuh ke rumah rumah pelanggan, jalan kaki panas-panasan dan ikut ngecek meteran air di tiap rumah. Setelah 1,5 tahun, mid of 2007 karena mendapatkan tawaran lebih menggiurkan di Aceh, finally…aku tinggalkan deh Palyja. Oya, waktu pamitan sempet sedih lohh.. pake nangis segala.. Hikss.. Jadi kangen juga sama Pak Djoko, Pak Sapto, Pak Maradat, Pak Iqbal, … :)

(more…)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)

liburan “berkedok” penelitian

Jadi yah, melanjutkan cerita bikin thesis kemarin, akhirnya, dari 13-24 Maret lalu, aku dengan manis nangkring di Banda Aceh. Agenda utamanya yang pasti ngumpulin data buat penelitian thesisku. Tapi setelah berjalan seminggu, omak…ternyata lebih banyak jalan jalannya dibanding penelitiannya. Hari pertama saja, baru landing aku sudah meluncur ke acara kawinan seorang teman dengan kondisi perut yang sangat lapar, karena sejak berangkat belum makan. Karena sudah siang, makanan yang masih tersedia tinggal nasi dan lauk pauknya. Doh, gw pake nambah 2 kali lohh…biar gak malu,..nambahnya pake strategi, ganti piring baru dan ikut ngantri dari awal. Wkwkwkwkw..

Hari hari selanjutnya dipenuhi dengan janji ngopi, makan mie aceh, nongkrong,ke pantai dan sejenisnya. Upss, misi utama mencari data untuk penelitian tentu tetap dilakukan dong, hanya saja porsinya kalo dipikir-pikir tetep banyakan yg aku sebutkan di awal. Rundown-nya begini, pertama cari responden sejumlah 250an orang, kedua nyari data sekunder di TDMRC sebagai obyek tesis gw. Misi pertama, ini gampang-gampang susah. Gampangnya, tinggal kumpulin umat se-banda aceh, masing-masing nyebarin 20 kuesioner dapet deh langsung 100an. Sisanya hunting di warung kopi dan maksa temen-temen yang gak bisa ketemu secara langsung buat ngisi online. Susahnya adalah gak semua responden mengisi dengan baik, apalagi yang via online *make software gratisan* sering banget down-nya, bikin kuesioner jadi banyak bolongnya. Huhh.. Belom lagi setelah tersebar kurang lebih 100 kuesioner, ada bagian yang menurut “Pak Dosen” kurang tepat yang diprediksi akan membuat deviasi hasilnya nanti besar. Buru buru deh aku ganti, konsekuensinya, sebagian yg kira kira akan membuat deviasi tinggi, yaa aku drop ajah. :D Misi kedua dijalankan dengan metode “kuliah”, alias menyambangi TDMRC nyaris tiap hari untuk menimba ilmu, itu pun gak lama, sehari hanya 1-2 jam., Ngebrel ngebrel perkenalan organisasi kemudian dokumen dokumen lebih banyak dikirim by email.

Satu yang sangat aku syukuri dan aku banggakan adalah, disana aku masih punya temen temen yang sangat bisa aku andalkan di segala macam kondisi. Mulai dari penginapan gratis, supir kemana mana, nemenin ngopi, nyariin responden, nonton bola, nonton music sampe beliin oleh oleh buat pulang. *Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan* :D Sumpah, kalo Insya Allah gw lulus ntar, kalian adalah nama nama utama yang ada dalam ucapan terimakasih, meskipun mungkin pake font 8 :D . Hahahhaa.. Thanks guys, kalian adalah teman teman terbaik yang pernah aku miliki..

Dengan waktu yang terasa sangat banyak, penelitian ini lebih cocok disebut liburan berkedok penelitian. Tapi apapun namanya, yang penting tujuan utamanya terlaksana dan semoga diriku bisa lulus tepat waktu di tahun ini. Amin.

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +1 (from 1 vote)

kapan nikah?

From my friend’s note http://emphy-poemkisahceritaku.blogspot.com/

Gara-gara ada begitu banyak orang yang usil menanyakan another classic question about a woman “Kapan Nikah??”, membuatku menuangkan segala jawabanku. Pertanyaan mengenai“Kapan nikah” tentu menjadi hal yang menyebalkan. Dan disaat aku sudah menyiapkan sejuta jawaban dari pertanyaan tersebut, pasti ada aja kalimat yang semakin tidak mengenakkan ditelingaku, seperti:

“Udahlah… gak usah terlalu milih2 kali”

“Tinggal nentuin aja kapan, kan gak susahkan?”

“Sibuk kali kerja, nanti nikahnya lupa lagi”

Huuuhh… menyebalkan sekali pastinya!

Well, akan aku urutkan satu-persatu segala pertanyaan dan kalimat-kalimat ajaib itu dan jaawaban yang harus dikeluarkan saat di tanya nantinya.

kapan nikah?

Pertanyaan itu bagusnya ditanyakan aja langsung kepada Yang Masa Tahu.  Kan yang menentukan ada dan kapan jodoh ku adalah Tuhan. Lagian aku kan gak membuat dunia menjadi semakin panas kan dengan kesendirianku ini? *plaaaak… kena tampar :P

udah ga usah terlalu pilih-pilih lah!

kenapa aku gak boleh milih2 sih? kan untuk menikah gak boleh sembarangan juga kali, kalo nantinya menyesal gimana?? situ mau tanggung jawab? hah?hidup itu penuh pilihan, aku jadi curiga situ gak punya pilihan kali ya dalam hidup?? *ckckckk.. kasiannya dikau..masak nikah juga gak boleh milih-milih

tentuin aja kapan, ga usah lama-lama

kalo memang semuanya yang kita jalani didunia ini bisa kita tentuin kapannya, aku juga mau dong nentuin tanggal aku meninggal. berisik amat sih situ, yang punya urusan aku kok situ pula yang sibuk?? kirain mudah kali yah, menyatukan dua hati, dua jiwa, dua keluarga?? *dasar orang yang gak pinter banget!

Sibuk banget kerja, nikah nanti lupa

Gak gitu-gitu juga kali mengejar karier, tapi aku kan mau ngejar gajinya. wkwkwkwkkkk

Terserah mau bilang apa, tapi coba deh dipikir menikah itu butuh modal yang harus dikumpulin, memang nya situ mau bayarin saya menikah?? *Herraaannn…

Hidup itu butuh materi. bohong aja kalau nggak. emang bisa makan cuma pake cinta aja?? nanti malahan ribut terus gara-gara ekonomi. kalu udah begini, yang tadinya sibuk terdiam kan? Gak tau apa kali yah, rata-rata kasus perceraiaan saja itu 70% karena faktor ekonomi. *asal aja tuh orang kalo ngomong

Jadi?

Yah aku akan menikah dengan alasan yang tepat, ketika hidup ini terlalu berat untuk dijalani sendirian. hehehehee… karena aku sadar kok kita butuh seseorang untuk disayangi, menyayangi dan berbagi.

Aku gak mau menikah hanya karena tuntutan dan paksaan dari siapapun atau hanya karena umur. karena sebelum Ruh kita di tiupkan didunia ini, kita sudah bikin kontrak dengan Tuhan bahwa langkah, rejeki, pertemuan dan mau itu sudah ada ditentukan oleh-Nya.

Yang ngejalani pernikahan adalah diri kita sendiri bukan orang yang sok tau diluar sana. dan yang bakalan nanggung resiko juga kita bukan mereka yang sok perhatian itu. gak kebayang gimna jadinya kalo semuanya karna terpaksa dan bakalan sengsara seumur hidup.

Menikah atau tidak juga pilihan, so… nikmati saja hidup ini. menikah bukan karna umur, target atau paksaan dari siapapun. Enjoy in you life, Why you worried about My age. I’m Still Young…

Kalau memang sudah waktunya, pasti semuanya akan terjadi kok. Lagian toh kita bukannya nggak berusaha tho?

Buat yang masih jomblo, nikmati dulu masa kejombloannya sampai tiba jodoh yang cocok dengan kalian.  Buat yang sudah punya pacar tapi belum menikah, nikmati saja dulu masa pacarannya sambil nunggu restu orangtua & lamaran sang pacar. Buat yang sudah menikah tapi belum punya anak, nikmati dulu masa pacaran bareng suami sambil nabung buat persiapan punya baby. Nggak usah terlalu mikirin omongan orang, nanti malah stress & nggak menikmati hidup. Sayang banget kan?

Percaya deh, semua akan indah pada waktunya kok.. :)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 7.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: +5 (from 5 votes)

penipuan paling kejam

Saat dimabuk cinta,
kita merasa bahwa insting kita
telah cukup untuk meyakini
bahwa dia adalah belahan jiwa
yang akan membahagiakan kita
sepanjang hidup.

Tapi, kemudian ternyata
bahwa tidak ada penipuan
yang lebih kejam daripada cinta
yang digunakan untuk menyadap
keuntungan sepihak.

Maka, berhati-hatilah
jika Anda sedang dimanjakan oleh cinta,
karena bahkan insting terbaik Anda,
akan mati rasa.

(copas from my bhiksu, 22 Februari 2011)

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 0 (from 0 votes)