d’vicca
Gak kerasa euy..
Akhirnya tercapai juga 1 tahun di Aceh..
Inget satu tahun yang lalu… Atau inget cerita sebelum kesini..
Thanks buat my new family here, member of Pusdatin. Wah, sekali kali aku pejengin foto close up kalian yang ancur itu ya disini… Makasih udah bikin gue merasa nyaman dan hangat bersama kalian ditengah kerjaan yang menggila..

Dan temen temen rumah yang manis-manis, yang selalu jadi temen curhat yang asyik (baca:menyebalkan)

Luv you all..
Gak sengaja, kemarin pagi nonton Inbox di SCTV, tiba-tiba aku kepincut sama satu video klip judulnya Doy. Secara gue sangat percaya dengan ungkapan cinta pada pendengaran pertama bukan pandangan pertama. Kuping gue yang kuping pasaran banget, bisa langsung tune in aja..kalo lagu ini bakal ngetop. Tau siapa yang nyanyi ? Kangen Band!! Apaaaaaaaaa ??? Langsung deh aku mendapat maki-makian dari beberapa temen :
Jolie : OMG.. Nyak, istighfar,..nyebut.. .Degradasi banget sih lu!!
Rynal: Kayaknya lu harus sholat tobat, vik..
Empok: Kangen Band yang orangnya jelek itu ???
Ibuk: Tau dari mana lu orangnya jelek ? Wong, mukanya ketutup rambut gitu kok.. gak keliatan tauk!!!’
Mb Nna : Segeralah bertobat, sebelum kena kutukan lain..
Anabella : (Malem-malem miskol, hanya untuk memastikan apakah aku sudah menggunakan lagu Doy sebagai ring back tone)
Kalo jalan jauh, aku paling susah tidur. Mesti dicekokin antimo dulu baru tidur, dan aku paling males menenggak obat-obatan begitu. Jakarta-Lahat jalan darat yg
nyaris 18 jam aku pun bisa gak tidur, ya paling merem merem kayak ayam. Tapi asli gak nyenyak. Lihat tetangga kanan kiri yang bisa pelor (nempel molor) dan tertidur pulas (semoga dengan mimpi indah) aku suka berubah bertanduk menjadi siti sirik. Akhir-akhir ini karena sering bolak-balik Jakarta-Banda Aceh. Lumayan bisa makan waktu 3-4 jam kalo pake program transit di Medan. Biar gak mati gaya ada dua hal yang harus selalu standby; pertama : MP3 player, kedua buku. Sebelum berangkat, lagu-lagu di MP3 player itu udah di-update dengan “Most Listening Music”. Lagu-lagu yang bisa membawaku ke alam yang “lain” asal bukan alam barzah. Kedua; buku bacaan yang sering aku bawa umumnya adalah buku buku yang kalo di rumah paling males dibaca dengan harapan kalo di pesawat –karena tidak ada pilihan- mau gak mau tuh buku harus dibaca. Tapi dasar dablek, tetep aja gak dibaca dan yang ada ketinggalan di pesawat atau lecek lecek di tas. Sempat juga beberapa kali bawa notebook, trus buka buka game atau nulis draft blog. Tapi sekarang ngeri juga, mengingat banyak program bajakan di notebook itu. Yang katanya, katanya (loh..) bisa ke-gap di Bandara trus di denda sampe 9 juta! Atutt…..
Dulu masa-masa kuliah, patokan aku sibuk adalah ketika gak sempet tidur siang pas gak ada kuliah siang. Semakin berjalan waktu, sibuk adalah saat gak sempet ngerumpi di YM, lalu berubah lagi; sibuk adalah gak
sempet karaoke karena terlalu capek kerja . Sekarang, sibuk adalah : saat gak bisa nge-blog dan gak nambah perbendaharaan buku buku yang sudah dibaca. Dan yang terakhir itu terjadi dalam hampir sebulan ini.
Dari dan ke Jakarta untuk urusan penting dan gak penting, laporan ini laporan itu, request ini request itu dan tentu saja tetap harus cukup tidur biar gak sakit
. Tapi ternyata, I love being busy!! Seneng rasanya banyak waktu untuk melakukan hal-hal produktif. Produktif atau konsumtif?? Kalo ke Jakarta yang gak pernah absen menyambangi Hup-Pup dan Ambas. Produktif dimana??? Ada juga konsumtif. Di Aceh? Hemm…kerja sih bejibun, ngeblog emang gak sempet tapi ngerumpi dan curhat gak penting kayaknya gak pernah dilewatin. Hahahahaa… Jadi dimana letak sibuknya ??
Aku percaya banget hal-hal kecil adalah stimulus paling kuat untuk menciptakan hal-hal yang luar biasa besar dan hal-hal kecil itu dalam wujud abstrak seperti perhatian-perhatian gak penting (yang lama-lama jadi penting). Setiap bangun pagi, hal yang selalu aku ingat adalah ; “siapa yang ulang tahun hari ini?” Bisa jadi orangnya sendiri sudah tidak ketemu bertahun-tahun, tapi biasanya aku sempetin untuk ngasih ucapan entah itu via SMS (kalo masih nyimpen nomer HP-nya), menyapa di YM dengan emoticon kue tart atau sekedar menyelipkan testimonial baru di Friendster mereka. Malah untuk beberapa teman special aku selalu pengen jadi orang pertama yang bilang “Happy Birthday”, sayang teknologi HP-ku belum bisa men-setting SMS yang terkirim otomatis pas jam 12 malem. Jeleknya akhir-akhir ini, aku (yang daya ingatnya makin lama makin berkurang), sering lupa ultah beberapa teman lama. Jadi gak enak suka telat, but its oke-lah daripada gak sama sekali. Ulang tahun hanya satu contoh yang buat beberapa orang mungkin tidak terlalu berarti tapi buatku minimal dalam satu tahun ada satu hari dimana aku masih mengingat seseorang dan secara customized menyapanya.
Setelah banyak kejadian yang aku alami, semakin kesini Alhamdulillah rasanya, karena aku semakin bisa memandang segala “ketimpangan” yang terjadi di sekelilingku dengan lebih bijaksana. Setelah ada satu milestone baru di keluargaku yang harus kuterima dengan lapang dada. Lalu menghimpun dan mengambil hikmah dari semua yang aku dengar dan aku rasa.
Setiap hari rasanya aku tidak pernah absen mendengar keluhan orang-orang disekitarku, atau bahkan aku sendiri yang mengeluh. Dari hal-hal kecil seperti tampang si bos yang kayak angka delapan yang bikin jiper. Lalu seorang teman lain mengeluhkan seorang rekan kerja lain yang katanya hanya “sok sibuk” atau yang lagi in di kantorku adalah masalah internet yang up dan down yang memperlambat kerja dan komunikasi. Ada lagi yang mengeluh tentang cowok (again…) termasuk gue juga kali.. (Hehhehe..). Dan semua peristiwa peristiwa maupun besar yang sering bikin mulai berpikir; harusnya begini,..bagusnya yang begitu,..kok begitu sih,..bla..bla.. Dan dimulailah pencarian kambing hitam alias “melempar bola” dari semua ketidaksempurnaan.
Seorang teman, semalam mengingatkan aku akan arti kehilangan. Sebenernya gak ada yang baru. Kehilangan itu tetap selalu menyedihkan. Tapi kadang-kadang kita lupa akan kehilangan yang pasti akan kita hadapi di kemudian hari. Misal, kehilangan orang yang kita cintai. Entah itu karena perpisahan, karena jarak, karena keadaan atau bahkan karena kematian. Selalu tergiang-ngiang di kepalaku, semua kehilangan yang sudah pasti ada di depan mata dimana aku selalu meyakinkan diri kalau aku siap menyongsong semua itu. Tapi siapa sangka kehilangan itu akan terasa semakin dalam ketika kita benar-benar sudah kehilangan. Ketika hari H itu sudah kita pijak. Apalagi jarang kita sadari betapa berartinya sesuatu, seseorang sebelum kita kehilangan mereka.
Ketika kita sudah tidak memiliki, kita hanya memiliki kehilangan itu…
Dan tiba tiba aku pun takut kehilangan…
(Mas Noe Letto, sori nyontek judul lagunya..)
Pop, gue inget pertama kali ketemu
lu, 2 Juli 2007 lalu. Lu pake celana biru yg kedodoran itu.
Pop, gue inget pertama kali lu cerita soal calon suami lu di warung depan waktu kita makan siang
Gue juga gak akan pernah lupa wajah lu yang nyaris gak punya ekspresi
Gue juga gak akan pernah lupa wajah lu yang tiba tiba bisa sumrigah karena “sesuatu”
Gue juga gak akan pernah lupa wajah lu yang bête gara omongan bos yang suka gak enak
Gue juga gak akan pernah lupa wajah lu yang bingung karena merasa “berdosa”
Masih ada gak, ringtone SKJ yang jelek itu bergema di Pusdatin
Masih ada gak, telpon lu malem malem yang gak jelas dan curhat hal hal gak penting
Masih ada gak, chat di skype tentang orang orang gak penting yang tiba-tiba “jadi penting”
Masih ada gak, kerjaan menyusun ciri ciri “skandal” berdasarkan apa yang kita lalui
Sorry suka bikin lu kesel,
Karena gue suka gak nepatin janji
Karena gue suka berubah rubah (maklum…)
Karena gue suka tiba tiba galak dan gak mood ngapa-ngapain
Karena gue suka marah-marah gak jelas
Karena gue suka ngember hal-hal rahasia
But..
Makasih ya pop, udah “ngajarin” gue berenang lagi
Makasih ya, pop, udah ngajakin gue naek sepeda lagi
Makasih ya, pop, untuk istilah istilah baru yang gue awalnya gak ngerti
Makasih ya, pop, selalu bersedia dengerin curhat gue yang asli gak mutu
Makasih ya, pop, udah ngingetin gue untuk jadi “orang baik” yang gak boleh “nyakitin” perasaan orang.
Makasih ya, pop untuk jadi sahabat terbaik yang pernah gue miliki
Makasih ya, pop untuk jadi saudara gue selama 11 bulan ini dan Insya Allah seterusnya.
Will be missing you a lot..
Congratulations for your wedding, sis..
Hopefully he’s the right one that u’r waiting so long..
Happily ever after..
(PS, lu masih punya utang bilang sama gue;”gimana rasanya jatuh cinta??” soalnya gue udah lupa.. Hehehhe..)
Kemarin, baru pulang satu workshop tentang mengelola hidup dan merencanakan masa depan. Badan rasanya mo
rontok karena kegiatannya sampai dini hari. Terus terang, secara materi menurutku tidak ada yang bener-bener baru. Semua biasa, seperti training-training serupa sebelumnya atau kurang lebih karena hanya penerapan beberapa buku yang pernah kubaca. Yang baru, adalah kenal dengan orang orang sekantor yang sebelumnya belum kenal atau kalaupun kenal cuman tau wajah dan kalau ketemu pun hanya senyam senyum.
Pagi pagi Pak Ed yang emang hobi ngomong, mengawali cerita-nya tentang bencana Cyclone Nargis yang baru saja melanda Myanmar. Tentang bantuan dunia, tentang pekerjaan kita meng-update segala hal berkaitan dengan bencana itu setiap hari, sedikit tentang politik politik di dalamnya yang sulit aku mengerti. Huh…agak menjemukan.
Tapi ada satu “klik” yang membangunkan aku di ujung obrolan itu, Dia bilang; Kita gak pernah tau Allah punya grand scenario yang besar di balik semua ini. Mungkin bencana Myanmar ini jadi jalan pembuka negara ini dengan dunia luar, mengingat banyak konflik di dalamnya. Seperti halnya tsunami Aceh dan Nias, 2004 lalu, yang seolah membuka jalan atas konflik berkepanjangan yang melanda daerah ini.
Skenario?. Iya..ya. Seperti segala hal yang saat ini tengah aku hadapi. Ya Allah, aku bukan lupa, bukan khilaf hanya perlu diingatkan akan segala hal yang sudah jadi takdirMu. Dan.. Thanks God, hari ini aku dapat “ingatan” itu dari bos-ku. Duh, berat rasanya menjalani semua ini, menjalani apa-apa yang menurutku seolah “tidak adil”. Berat rasanya untuk ikhlas dan sabar. But, that’s no other way. Hidup tetap harus berjalan dan percaya bahwa akan ada sesuatu yang disiapkan sang sutradara dibalik semua skenario ini. Amien.
Anyway…Thanks Pak Ed, kata Cinta Laura : that’s was so coollllllllllllll!!